Setiap 3 bulan sekali, daku cuti dari urusan rumah tangga, per-anak-an, tanaman, dan kucing-kucing. Kadang, cuti 2 hari, 3 hari, paling lama seminggu (ini biasanya karena ada urusan lain juga yang mesti dijalani). Libur sejenak ini, dibutuhin banget biar daku enggak burn out, enggak stres trus jadi sering marah, dan pastinya biar energinya tetap menyala, hehehe. Di tahun 2026 ini, ku minta cuti di bulan Februari karena ada rencana mau jalan-jalan bareng teman-teman penulis cerita anak Jogja.
Kami bertiga (daku, Nita Candra, dan Tria Ayu), sering bertemu, meet up di kafe-kafe, sejenak melepas penat dari kesibukan menulis dan mengurus rumah tangga. Dari pertemuan-pertemuan itu, kami merencanakan perjalanan ke Semarang. Meet up dengan penulis cerita anak yang tinggal di Semarang (Dedew dan Aan), sekaligus berwisata dan kulineran. Rencana ini sudah dibuat dari tahun 2023, tapi ya gitu deh, hanya wacana. Tahun 2025, kepikiran untuk merealisasikan perjalanan itu, tapi ada kendala, jadi batal menjelang akhir tahun.
Suatu hari, di grup WhatsApp Penulis Ceria, entah gimana awalnya, tiba-tiba tercetus saja niatan mau jalan-jalan ke Semarang. Tertantang untuk merealisasikannya karena teman-teman yang lain berpikir; “Hanya Wacana”. Wiwiek, penulis cerita anak yang tinggal di Bekasi, bilang kalau dia mau ikut ke Semarang, tapi harus benar-benar jadi. Sat set, sat set, diputuskan lah kalau akan ada Semarang Short Trip di tanggal 6 Februari 2026. Tapi, walau tanggal sudah ditentukan, daku deg-degan, jadi enggak sih nih, khawatir daku susah dapat izin karena belum 3 bulan dari cuti di bulan November 2025.
Rencananya, ke Semarang dengan waktu 3 hari 2 malam. Setelah ngobrol dengan anak-anak dan Mas Iwan, akhirnya rencana pindah tidur dan jalan-jalan ke Semarang di-acc. Daku langsung pesen tiket travel ke Semarang untuk tiga orang, Tria Ayu pesan untuk penginapan.
Semarang Short Trip: Kumpul ala-ala Penulis Cerita Anak
Daku dan Tria Ayu bagi tugas. Ayu yang pesan hotel untuk menginap kami berempat. Awalnya, cari hotel yang bisa satu kamar berempat, atau kalau enggak kamar yang ada connecting doornya. Ternyata, enggak dapat, jadilah pesan di Hotel Pop Semarang, rekomendasi dari Aan Wulandari. Kata Aan, hotelnya dekat dari mana-mana, dan utamanya dekat ke DP Mall. “Tinggal melipir”, katanya.
Kami enggak cari hotel yang “harganya tinggi”, dengan pertimbangan, hanya untuk tidur dan gegoleran. Karena hanya tiga hari dua malam, maksimalkan waktu yang ada dengan kegiatan-kegiatan yang seru.
Daku pesan tiket travel untuk pergi pulang Jogja – Semarang. Karena ku biasa pakai Joglosemar kalau ke Semarang, jadilah pesan tiga tiket PP. Ku pesan tiket pergi di tanggal 6 Februari 2026 pukul 13.00 WIB, yang premium, lewat Tol Semarang, harganya 135 ribu/orang. Pulangnya harga tiket lebih murah, 95 ribu/orang, lewat tol Semarang.
Ada 3 pilihan jalur sih. Lewat tol, lewat Magelang, dan lewat Salatiga. Sama mbak Joglosemar disaranin lewat tol saja, dengan durasi 2 jam perjalanan (3 jam sampai Semarang), kalau lewat Magelang bisa 4 jam, dan lewat Salatiga lebih lama lagi.
Sebenarnya, bisa saja kami naik bus ke Semarang, tapi ya gitu deh. Bakal nunggu lama, nunggu bus sampai terisi penuh penumpangnya, dan pasti perjalanannya lama, karena berhenti-henti tiap ada penumpang yang mau turun di perhentian.
Joglosemarnya berangkat tepat waktu, pukul 13.00 WIB. Di Tol, perjalanan diiringi hujan deras sampai keluar dari tol. Ku pengen tidur sebenarnya, tapi ada kerjaan sedikit, malah enggak bisa tidur. Ayu dan Nita juga enggak bisa tidur, sibuk masing-masing.
Setelah keluar tol, disambut hujan dan macet di mana-mana. Kami berhenti di Shelter Joglosemar Jalan Pemuda, dan ternyata dekat dong ke Hotel Pop. Sama Bapak Supir Travel ditawarin naik feeder untuk diantar sampai hotel, pas Nita cek Googlemaps, lokasi hotel kalau jalan kaki enggak sampai 15 menit. Kita putusin buat jalan kaki ke hotel, sambil lihat-lihat pemandangan kota.
Lalu lintas Semarang ternyata lebih ramai dari Kota Jogja, hahaha. Perasaan, kalau di Jogja tuh, masih ada jalan yang agak lengang. Ramainya jalanan Jogja tuh bisa diprediksi. Pagi, di jam-jam berangkat sekolah, kerja, kuliah, dan lainnya. Sore di jam-jam pulang. Yang kebangetan sih di waktu-waktu liburan. Jangan coba-coba ke kota kalau kamu tinggal di Jogja kabupaten. Tamat riwayat!
Sambil nunggu Wiwiek yang berangkat dari Jakarta, kami memutuskan untuk seru-seruan di Kota Semarang. Lewat Balaikota Semarang, lihat-lihat dari luar, dan pas lanjut jalan, ternyata kami melewati Lawang Sewu yang tenar itu. Foto-foto sebentar, karena bakal ke sana juga nantinya. Lalu, ke Tugu Muda, foto-foto berlatar jalan dengan kesibukan lalu lintasnya.
Sudah puas mengamati jalanan Kota Semarang, dengan jalan kaki, kami menuju Hotel Pop. Hotelnya benaran dekat banget nget dengan DP Mall, yang katanya mal sejuta umat π Kami pesan dua kamar, satu untuk daku dan Wiwiek, satu lagi untuk Tria Ayu dan Nita. Dewi Rieka, yang akan nyusul untuk menginap tinggal pilih saja mau tidur sama siapa π
Gimana Hotel Popnya? Ya, namanya juga hotel dengan harga murah, sekitar Rp 250.000/malam, jangan ngarepin fasilitas bath tub π yang agak kurang menyenangkan sih, mau salat tuh agak enggak leluasa, dan mesti gantian. Oh, ya, sekarang minum air putihnya, kita dikasih teko, yang kita isi sendiri dari dispenser yang disediakan di depan kamar. Tiap 6 kamar, ada satu dispenser.
Sebelum Magrib, Wiwiek datang, berbarengan dengan Aan, penulis cerita anak yang tinggal di Semarang. Setelah magriban, kami ke DP Mall, ngobrol sekalian makan malam.
Jelita Semarang Short Trip
Di Semarang Short Trip ini, Wiwiek bilang, kalau dia lagi serius olahraga setiap hari, jadi dia kasih ide untuk olahraga jalan kaki, trus cari sarapan di sekitaran hotel. Karena peserta trip ini dua orang perempuan yang sudah berumur 40 jelang lima puluh tahun – Jelita, dan dua perempuan berumur 50 tahun plus plus plus, ya mau enggak mau harus mikirin kesehatan selain jalan-jalan. Ngetrip hayu, olahraga tetep dilakukan.
Daku sih setuju-setuju aja, karena tiap pagi (kecuali Senin – Kamis), daku suka jalan pagi di Stadion Maguwoharjo. Jadi, Sabtu pagi tanggal 7 Februari 2026, olahraga jalan pagilah kami dengan tujuan sarapan enak.
Wiwiek ternyata sudah tanya ke Dedew, sarapan yang enak di mana, dan direkomendasikan makan pecel di Warung Pecel Bu Sumo. “Dekat kok tempatnya, 10 menit jalan kaki”, kata Wiwiek. Semangat dong kita olahraganya. Wiwiek pilih jalan dari belakang hotel, karena direkomendasikan Googlemaps, itu jalan yang dekat ke lokasi.
Semangat 45, kami olahraga sambil melihat-lihat pemandangan kota. Pas sudah 7 menit, dan jalannya ternyata nembus ke jalan Tugu Muda. “Ke mana ini, Wiek?” daku tanya. “Lurus aja, nanti kita nyebrang di Jalan Pandanaran,” Jawab Wiwiek. Baiklah. Lanjut jalan kaki lagi. Jalanan ramai, tapi enggak ada yang olahraga seperti kami.
Olahraga jalan kaki dengan tujuan akhir Warung Pecel Bu Sumo lumayan juga perjalanannya. Ada jalanan nanjak/naik, trus melewati areal Pemakaman Bergota yang luas. Pemakaman ini ternyata salah satu tempat religi yang terkenal di Semarang. Pantasan saat itu, ada beberapa bus dan mobil yang parkir di pinggir jalan dekat pemakaman.
Akhirnya, setelah jalan kaki sekitar 20 menitan (menurut daku), sampai juga di Warung Pecel Bu Sumo yang beralamat di Jl. Kyai Saleh No.10, Mugassari, Kota Semarang. Saat tiba, warungnya lumayan ramai. Karena kita maunya duduk di dalam, sekitar 5 menit, nunggu pelanggan yang selesai.
Daku itu, untuk makanan pecel, kalau ada menu lain, bakal pilih itu, tapi karena warung pecel, ya makan pecel lah π Minta nasi setengah, ternyata versiku nasi satu, banyak juga π Pecelnya, benaran enak, bumbu kacangnya menurutku sih juaranya (karena aku suka bumbu kacang ya), sayurannya rasanya manis — mungkin ini yang bikin pembeli suka ya.
Dan, pecel tanpa gorengan, kurang lengkap ya π Tempenya ada dua jenis, tempe garit dan tempe “agak” mendoan, lalu ada tahu, ada bakwan, ada mendol, dan ada peyek kacang. Sarapan yang nikmat.
Dan, harganya murah cuy. Kita berempat makan, enggak sampai seratus ribu, padahal selain pecel, makan gorengan juga. Apa karena murah itu ya, jadinya di warung ini hanya menerima pembayaran tunai.
Setelah kenyang sarapan, kita balik ke hotel, dengan jalan kaki lagi! Hitung-hitung ngelonggarin pinggang karena siangnya bakal makan lagi kan. Dalam perjalanan pulang, tadinya mau mampir ke Lawang Sewu, tapi ya masa masih keringetan dan penampilan enggak maksimal, kasihan dong nanti foto-fotonya, tidak estetik.
Destinasi Pertama: Kota Lama
Sabtu siang, sekitar jam 11-an, setelah Dedew datang, sesuai rencana, kami berwisata ke Kota Lama, Semarang. Naik Gocar yang untuk 5 orang, perjalanan ke lokasi enggak lama, ku enggak sempat tidur π
Untuk daku, ini kali keempat berkunjung ke Kota Lama. Desember 2024, pernah ke Kota Lama dengan Mas Iwan dan Tio, dalam perjalanan kami mudik ke Jakarta.
Kota Lama Semarang, merupakan kawasan bersejarah seiring perjalanan Semarang sebagai kota yang pernah ditempati para penjajah dalam masa penjajahan Belanda di Indonesia. Tak heran, bangunan-bangunan yang ada di Kota Lama, bercorak Belanda, seperti gereja, bangunan perkantoran, toko-toko, dan rumah tinggal.
Kota Lama Semarang ini, di masa penjajahan merupakan pusat perdagangan dan pusat pemerintahan. Makanya itu, dijuluki Little Netherland. Saat ini, status Kota Lama Semarang adalah cagar budaya nasional. Jadi, enggak boleh diubah bentuknya, hanya bisa direstorasi atau renovasi. Bahkan, untuk nambah elemen baru di bangunan-bangunan ini, harus pakai izin resmi.
Katanya, ke Semarang tanpa ke Kota Lama, belum lengkap wisatanya. Apa kami yang kurang lihat-lihat, apa enggak memerhatikan, di Kota Lama, enggak ada pemandu wisatanya, jadilah kami jalan-jalan sendiri. Ke Gereja Bleduk sendiri, ke Gedung Marba, dan ke Pohon Akar yang legend itu.
Kota Lama Semarang hari Sabtu itu, ramai banget. Sepertinya sejuta umat ada di sana, tumplek. Mayoritas foto-foto. Oh ya, ada yang wisudaan juga. Jangan khawatir kalau enggak bisa foto estetik, karena banyak yang nawarin jasa foto. Rata-rata pakai kamera profesional, tapi enggak tahu harga jasanya.
Puas foto-foto, kami lapar tapi bukan yang lapar banget, jadi kami pilih makanan yang enggak terlalu berat, makan di Gobyos. Setelah kenyang, kami menuju destinasi wisata berikutnya: Sam Poo Kong.
Sam Poo Kong Semarang yang Indah
Rasanya, tiap ke Semarang yang khusus jalan-jalan, Klenteng Sam Poo Kong, jadi wisata favorit. Dari 6 kali ke Semarang, ku sudah 2 kali ke klenteng yang besar dan indah ini. Jadi, yang bareng teman-teman penulis cerita anak ini, kali ke-3. Perbedaannya, sekarang kalau mau masuk sampai ke klentengnya, di tempat pembelian tiket masuk, kita dikenai harga Rp40000/orang untuk tiket terusan sampai masuk ke klenteng. Dulu, di tahun 2015, harga tiketnya Rp15000 sudah bisa menyelusuri seluruhnya.
Sam Poo Kong, klenteng Cina tertua di Kota Semarang. Dikenal juga dengan sebutan Klenteng Gedung Batu, merupakan tempat pemujaan kepada Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah dari Cina yang beragama Islam. Cheng Ho berlayar dari Cina ke Pulau Jawa dalam rangka menyebarkan ajaran Islam. Armada Cheng Ho mendarat di Semarang, di Pantai Semarang yang terletak di Perbukitan Simongan. Dalam perkembangannya, Simongan menjadi daerah Pecinan pertama, dan klenteng dibangun untuk menghormati Cheng Ho.
Awalnya, kami ingin menggunakan pemandu wisata biar tahu sejarah klenteng dan tempat-tempat mana yang memorable. Tapi, enggak lihat ada, ya sudah kami telusuri sendiri.
Saat ke Sam Poo Kong, nuansa Imlek terasa banget di klenteng, karena memang sudah mendekati Tahun Baru Cina. Banyak orang Tionghoa yang datang untuk berdoa. Mungkin, dari kota di luar Semarang, ada juga. Di Klenteng, yang tidak berdoa, batas masuk hanya sampai tangga klenteng. Bagi yang berdoa, disediakan lilin dan dupa, dengan harga mulai dari Rp100000/paket.
Bangunan inti dari Klenteng Sam Poo Kong adalah Gua Batu. Katanya, gua yang menjadi tempat pendaratan pertama armada Laksamana Cheng Ho. Klenteng-klenteng yang ada di area ini, dinamakan berdasarkan nama-nama orang kepercayaan Laksamana Cheng Ho, yang meninggal dan dimakamkan di sana.
Di tahun 2026 ini, Klenteng Sam Poo Kong menjadi salah satu tempat utama Perayaan Imlek karena Wakil Presiden RI, Gibran, berkunjung ke klenteng ini untuk meramaikan kemeriahan Tahun Baru Cina ini.
Saat mau pulang, kami melihat ada orang yang foto-foto dengan burung merpati, yang menjadi salah satu ikon di klenteng ini. Tertarik, kami pun berfoto-foto dengan arahan dari fotografernya. Kami bayar Rp10000 untuk tiap foto yang kami inginkan. Saking banyaknya foto, dan bagus-bagus, bingung pilih yang mana mau diambil. Setelah berembuk, pilih 15 foto dan 2 video, yang satu video kami bayar Rp15000.
Puas foto-foto dengan Merpati berlatar Klenteng Sam Poo Kong, dan udah kelelahan juga, kami memutuskan pulang ke hotel. Padahal, sempat berencana mau ngopi-ngopi cantik.
Wisata Malam di Lawang Sewu Semarang
Malam Minggu, waktu yang tepat untuk menghabiskan malam di tempat yang seru, Lawang Sewu!
Kami ke sini setelah salat Isya. Karena dekat banget sama Hotel Pop, jadilah kami berjalan kaki, tidak sampai 10 menit.
Kami beli tiket plus Wahana Immersive, Rp30000/orang. Lalu, biar lebih oke, kami ditemani pemandu wisata dengan biaya Rp120000. Pak Pemandu, juga foto-fotoin kita, yang hasilnya bagus-bagus π
Lawang Sewu ini buka setiap hari, Senin sampai Minggu, tapi beda-beda jam tutupnya.
- Senin: 08.00 – 17.00 WIB
- Selasa – Jumat: 08.00 – 20.00 WIB
- Sabtu: 08.00 – 22.00 WIB
- Minggu: 08.00 – 20.00 WIB
- Harga tiket (tanpa wahana Immersive): Rp10000/anak-pelajar, dewasa Rp20000/orang, wisatawan mancanegara Rp30000/orang
- Ada area bawah tanah (kalau ingin masuk ke sana) tiketnya Rp50000/orang. Menurut Pak Pemandu, area bawah tanah ini (kami diajak untuk melihat dari atas) fungsi awalnya tuh untuk sirkulasi udara dan pendingin alami. Nah, yang bikin “seram”, yang infonya beredar – saat Jepang menggunakan area ini untuk penjara dan eksekusi. Kalau ke area ini, wajib pakai sepatu boot, helm, dan WAJIB! didampingi pemandu.
Lawang Sewu yang sekarang sudah jauh banget dari kesan horornya. Thank’s to PT KAI yang sudah merestorasi bekas Kantor Pusat Kereta Api Swasta NISM (Nederlandschindische Spoorweg Maatschappij) menjadi tempat yang indah.
Pak Pemandu mengajak kami ke tempat yang pertama yaitu ornamen kaca patri. Ornamen berusia ratusan tahun ini dibuat oleh pabrikan Johannes Lourens Schouten. Ornamen menceritakan keindahan Jawa Tengah dan kejayaan kereta api pada masa itu.
Lalu, kami masuk ke Wahana Immersive untuk nonton sejarah perkeretaapian di Indonesia. Wahana ini menurut daku, sayang untuk dilewatkan kalau ke Lawang Sewu. Karenanbagus, dan teknologi yang digunakan bikin kita serasa ikut menelusurinya.
Pengalaman seru sih ini, karena ternyata enggak sehoror itu, Lawang Sewu di malam hari. Apalagi di halaman Lawang Sewu yang luas itu, yang area di belakangnya, saat kami ke sana di Malam Minggu, ramai pengunjung yang makan dan minum, duduk-duduk lesehan mau pun di bangku yang disediakan. Ada semacam angkringan, yang menjual aneka makanan/minum, dan kopi, tentunya.
Till We Meet Again
Jelita Semarang Short Trip, selesai di hari Minggu, 8 Februari 2026. Sebelum pulang, kita jalan-jalan pagi sambil sarapan, dan beli oleh-oleh di Pandanaran, Semarang.
Wiwiek pulang ke Bekasi naik pesawat yang boardingnya pukul 15.15 WIB, jadilah dia yang terakhir chek out dari Hotel Pop. Dedew, pulang duluan sekitar pukul 9-an, karena janjian sama anaknya. Daku, Ayu, dan Nita, chek out pukul 11.00 WIB, karena travel Joglosemar (Semarang – Jogja) berangkat pukul 12.00 WIB.
Asyik juga jalan-jalan bareng teman-teman penulis cerita anak tanpa agenda penulisan. Kami sebenarnya, beberapa kali ketemuan di event penulisan yang menginap di hotel, tapi jarang banget bisa jalan-jalan tanpa beban.
Mas Iwan dan anak-anak saja sempat mengira kalau daku ke Semarang karena ada agenda penulisan. Ternyata Ayu juga gitu, dipikir suami dan anak-anaknya karena ada event peluncuran buku.
Katanya, jalan-jalan atau travelling, salah satu sumber bahagia, sumber hormon dopamin, senyawa kimia yang menciptakan rasa senang, bahagia, motivasi, dan kepuasan.
Untuk orang-orang yang sudah berumur 40 tahun – 50 tahun ke atas, hidup bahagia, penuh suka cita, adalah WAJIB! Hidup tidak melulu tentang materi, tetapi makna. Dan, hidup bermakna itu, bisa dengan aktif berkarya serta menjalin hubungan baik dengan teman-teman serta relasi.
So, rencananya Jelita akan trip bareng lagi, kepengennya sih ke Malang. Dinantikan saja, apa rencana itu terwujud, atau hanya wacana, hahahahaha.
Sambangi juga media sosial daku ya
https://instagram.com/indahjuli
wih seru banget Mbak ini circle penulisnya bisa ngetrip bareng. Apalagi karena sudah sering ketemu dan jalan-jalan bareng pastinya sudah tahu ya tipe masing-masing orang jadi bisa meminimalisir konflik dalam trip atau liburan begini.
Serunya jalan-jalan barengan bestie ya mbak. Lumayan melipir sejenak dari rutinitas.
Btw Semarang kan memang murah-murah. Daerah Jateng itu harga makanan murah dan enak jadi ga perlu bingung. Sedikit lebih mahal kalau di Kota Lama sih
Serunya jalan-jalan barengan bestie ya mbak. Lumayan melipir sejenak dari rutinitas.
Btw Semarang kan memang murah-murah. Daerah Jateng itu harga makanan murah dan enak jadi ga perlu bingung
Wow… Seru sekali ini Mbak Indah. Setelah hanya melihat keseruan foto-fotonya di grup. Akhirnya bisa membaca cerita lengkapnya. Dan karena satu frekuensi. Jadi happy ya Mbak
Apalagi usia beda-beda tipis. Eh… Semua saling berbagi tugas. Apalagi Mbak Dedew kan sebagai tuan rumah. Mbak Wiek biasanya jalan bareng Mak Shinta.
Kalau diadakan lagi, paling nunggu 3 bulan jatah Mbak Indah dapat cuti ya? Tapi siapa tau Mbak, ada acara penulisan buku cerita anak di kota lain. Jadi bisa ketemuan lagi dengan banyak teman dari penulis cerita anak. Nanti usul nih, di grup para bapak bikin juga acara kayak gini. Di Tasikmalaya saja tempat Kang Iwok hahaha. Paling dekat sih ketemu pas GLN ya Mbak
Wow… Seru sekali ini Mbak Indah. Setelah hanya melihat keseruan foto-fotonya di grup. Akhirnya bisa membaca cerita lengkapnya. Dan karena satu frekuensi. Jadi happy ya Mbak
Apalagi usia beda-beda tipis. Eh… Semua saling berbagi tugas. Apalagi Mbak Dedew kan sebagai tuan rumah. Mbak Wiek biasanya jalan bareng Mak Shinta.
Kalau diadakan lagi, paling nunggu 3 bulan jatah Mbak Indah dapat cuti ya? Tapi siapa tau Mbak, ada acara penulisan buku cerita anak di kota lain. Jadi bisa ketemuan lagi dengan banyak teman dari penulis cerita anak. Nanti usul nih, di grup para bapak bikin juga acara kayak gini. Di Tasikmalaya saja tempat Kang Iwok hahahah.
Demi kewarasan diri memang diperlukan ya sesekali punya waktu buat liburan, melepas penat dan recharge kekuatan biar bisa menjalankan rutinitas kehidupan sehari-hari lagi
Semarang banyak kenangan juga buat saya. Pernah semingguan melancong di Semarang itu waktu hamil usia 7 bulan gitu deh.
Eksplorasi wisata di sana mulai lawang Sewu, Sam Poo Kong, sampai ke Lasem untuk mengulik batik dan tradisi budaya lokal
Sekarang semua itu tinggal kenangan-kenangan deh. Semoga suatu saat bisa berkesempatan main ke Semarang lagi. Aamiin
Aamiin, aamiin, semoga diluaskan rezekinya dan dilimpahi kesehatan agar bisa travelinglagi ya.
Masyaallah seru sekali mbak jalan-jalan bersama teman penulis. Pengen deh suatu hari bisa kaya gini sama temen-temanku. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah lebih gede. Hehehe…
Semarang itu seru ya. Aku belum pernah ke sana tapi pengin banget main ke sana. Dari Semarang terus ke Solo kayanya juga oke.
Waaah seru betulll melihat keseruan mbak-mbak Jelita ini, hehehe. Dan jujur, pas bacanya ada sedikit rasa sedih, karena sampai sekarang Semarang itu jadi salah satu kota yang belum pernah aku sambangi. Hiks, kapan pulak ya kiranya daku ada waktu. Tar aku mau melipir pula ah ke mbak Dedew.
Gereja Sam Po Kong sama Lawang sewu kiranya bakal jadi destinasi utamaku si. Seruu banget melihat kalian semua berfoto disana mbak, bahkan sampai sempet-sempetnya lari-lari santai pula.
Moga sehat selaluu yaaaa, ditunggu cerita liburan lainnya.
Semoga dimurahkan rezekinya biar bisa ke Semarang π
jadi keinget masa kerja dulu ngajuin cuti buat maenn sama tmen sekantor , berunttung kita bedda divisi jadi bisa cuti buat maen ke semarang. Destinasi nya sama persis di atas, hanya sblm k semarang kitaa maen ke jogja jadi ke semarang nyaa kita pake travel wadidau. Maen sama temn emng recharge aja ya ka kebtulan di semrng ada tmn kerja juga dia malah nginep bareng kitta anak2 bandung
Definisi “Jelita” (Jelang Lima Puluh Tahun) yang super produktif dan tahu cara self-reward. Saya ikut gemas baca perjuangan merealisasikan wacana dari 2023 yang akhirnya pecah telur di 2026 ini.
Salut buat semangat jalan kakinya! Meski niatnya olahraga, ujung-ujungnya tetap ke Pecel Bu Sumo ya, Mbak? Memang bumbu kacang itu motivasi terbaik. Foto-foto di Sam Poo Kong dan Lawang Sewu malam hari juga kelihatan estetik sekali, jauh dari kesan horor. Ditunggu trip ke Malang-nya, semoga bukan sekadar wacana lagi!
Hahahaha, di kami memang kebanyakan wacana, semoga yang ke Malang bukan wacana.
Sepanjang baca tulisan Mbak Indah ini kok vibe senengnya nular banget ke saya. Ada rencana dadakan yang terealisasi, kekompakan teman-teman dan kehangatan selama jalan-jalan di Semarang. Serasa komplit dan semenyenangkan itu jalan-jalannya. Dan paragraf-paragraf akhirnya membuat saya tak ada alasan untuk tak setuju, kita memang harus BAHAGIA, tentunya dengan versi masing-masing. Kalau traveling bisa membuat dopamin kita hadir.. gaskeun! Dan beruntungnya Mbak Indah punya keluarga yang bagus support nya, jadi bisa diizinin, ya buat hang out sama teman-teman penulis
Tos dulu, bahagia itu wajib π
Kalo ada mak Indah, pasti seru nih ajang kumpul2 penulis cerita anak. Bs sambil sharing deh tuh kalo dedengkot penulis ini ngumpul. Mana ngumpulnya di kawasan hits Semarang lagi yak. Ini kalo ada mas Bambang, pasti lbh heboh lagi nih ktmu emak2 super hyper atraktifnya.
Jelita yang penuh bahagia sih ini.
Nggak tampak rasa lelah dan lara di hati.
karena melakukan hobi bareng rekan-rekan yang se-frekuensi, berkegiatan eksplor tempat yang menambah insight.
Sehat-sehat selalu ya buat Mak Indah dan rekan
Wiiihhh swru sekali liburannya ke Semarang sama besti2. Aku belum pernah nih mak ke Semarang, cuma lewatin doank seringnya, padahal ada saudara di sana hehe.
Ternyata lalu lintas sana lebih sepi dari Yogya ya?
Wah idem aku kalau bepergian dengan niat mau jelajah kota seharian nggak akan nginep di hotel yang wah. Biasanya nginep di hotel biasa aja karena emang khusus buat tidur doank. Beda kalau mau beraktivitas seharian di hotelnya minimal banget ada pool-nya hehe.
Asyek bener itu jalan kaki pagi2 trus nyari sarapan. Bisa lihat suasana kota di pagi hari yang belum ramai kendaraan dan orang2 ya.
Kota lama Semarang emang salah satu area ikonik Semarang ya, sehingga wajib banget ke sana kalau ke kota ini.
Wow Lawang Sewu ternyata ada wisata malamnya juga yaa. Eh denger2 Lawang Sewu sekarang tu dibikin secantik mungkin sehingga vibesnya nggak seangker dulu ya? Kata orang2 sih haha. Moga tahun ini atau tahun depan bisa ke sana juga π
Seruuuunyaa Jelita menikmati waktu dangan jalan-jalan bersama. Senang melihat tulisan ini, terasa energi senangnya. Senyum-senyum semangat dalam foto. Aku tuh udah bolak balik ke Semarang dan kota tua tapi malah belum ada foto di akar pohon itu. Juga di lawang Sewu ha ha ha.
Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk tetap bersenang-senang diantara tanggung jawab yang diberikan hidup. Tetap sehat dan semoga hal-hal seperti ini terus di pertahankan.
Amin ya Malang jadi tujuan selanjutnya, kiranya waktu memudahkan semuanya.
Makpuuhh kalo ke Malamg,pliss kabarinn ya
Mana tau bisa meet up sekejapp..kan Sby-Malang ga jauh π
Aakkk seruuu memang quality time ama bestie kek ginii
makin tua, ehh…dewasa, aku nyadar klo Traveling bukan perkara “mau ke mana?” tapi lebih ke “perginya ama siapa?”
Serunyaaa bisa liburan bareng dengan para bestieeee…bebas dari tugas RT yang selama ini menghantui hehehe….recharge energi sejenak bersama teman jadi salah satu opsi terbaik ya mbaaa…
Aku masih penasaran dengan pohon akar di kota lama soalnya sempet ke kota lama tapi gak nemuin pohon ini…ato aku yg gak perhatiin ya soalnya saat itu kota lama juga sedang ada renovasi jadi dh beberapa tahun yang lalau sie,,,,’baru tau juga klo lawangsewu buka sampai malam yaa,,aku pikir sampai sore aja sudah tutup..
Aku sejak tahun berapa ya mau ke Lawang Sewu
Sampai sekarang gak kesampaian
Makin ke sini makin kudu nunggu anak anak besar supaya kalau pun diajak sudah bisa jalan sendiri, tidak perlu gendong
Keren teman-temannya pasti kenangannya jadi tak terlupakan
Waaah seruuuuu mbaaa πππ. Jalan Ama temen itu memang beda sih. Bisa lebih bebas, bisa sharing, asalkan memang hobinya klik yaa. Aku pun bersyukur suamiku masih izinin aku setahun sekali jalan Ama temen2 ku mba, ga harus dia ikut. Pentiiiiing buat me time dan refreshing. Krn kalau Ama anak dan suami, beda lagi vibe nya π
Duuuuh aku tuh sering lewat Semarang tiap mudik solo. Tp jaraaaaang banget eksplor kotanya. Lawang Sewu aku juga blm pernah. Lewatin doang. Tp masuk belum. Pdhl udah cantik bangunannya yaaa.
Hotel pop itu walau kecil tp menurutku msh nyaman bed nya. Apalagi anaknya hotel Harris kan, so standard kenyamanan juga ikut Std Harris hotel. Cuma memang sempiiit hahahaha.
Nanti ah, kalau .udik lagi, pengen nyempetin bisa nginep di Semarang
Aku doain semoga ke malang next destinasi nya jadi mbaaa π
Aamiin, makasih doanya π
Semarang mengasyikkan sih ya
Banyak banget tempatnya ya mbak, saya termasuk orang yang suka eksplore tempat unik juga, sejenis wisata sejarah dan budaya begini memang cukup menarik untuk ditelusuri terkhusus momentnya reuni sama teman. Saya kalau ajak reuni versi trip gini sejauh umur mengejar baru sekali gk wancana, itupun gk nginap pergi sehari bolak balik keliling kota seberang.
Hihihihi, ku udah nggak sanggup kalau bolak balik, gampang lelah π
Mbak, siapa tahu ke Semarang lagi, di area Kota Lama itu banyak fotografer yang Pay-As-You-Wish. Jadi kita bayar serelanya aja buat difoto2in. Waktu saya jalan sm ibu, seneng banget ada yang foto2in jd kenang2annya dapet. Beberapa di antara mereka juga jual jasa jadi tour guide. Tentunya mesti tawar menawar juga sih, kayak rutenya mau kemana.
Mudah2an jalan2 ke Malang jadi ya, kalau perlu bablas sampai ke Batu juga π
Oh ya ya, sempat lihat ada fotografer tapi enggak tahu kalau itu pay as you wish.
Aaah, senangnya didoakan biar bisa ke Malang, makasih ya.
Aku belum pernah ke semarang Mbak Indah. Akhir tahun kemarin ada rencana ke sana, eh ndilalah suamiku ada dinas ke luar pulau dan liburannya harus bergeser ke dalam kota.
Padahal niat awal mau eksplore kota tua semarang dan lawang sewu (karena suami suka fotoΒ² bangunan lawas).
Aku setuju sekarang lawang sewu jadi cakep. Sebenarnya aku nggak terlalu suka dengan konsepΒ² horor misal uji nyali lah dan kawanΒ²nya di area museum/cagar budaya. Horor ini jadi mendistrorsi cerita sejarah yang harusnya dikenal dan bikin orang takut buat berkunjung untuk belajar banyak. Acung jempol banyakΒ² buat PT KAI untuk restorasinya.. π₯°
Eh, sama, daku juga enggak begitu suka dengan konsep uji nyali di cagar budaya, jadi seperti diada-adakan kesan horornya, padahal sesungguhnya enggak seperti itu.