Seorang aktris yang menikah muda, memutuskan bercerai dari suaminya, setelah menikah 10 tahun. Aktris yang dulu sempat berjaya di era FTV dengan akting dan kecantikannya tersebut, memutuskan hengkang dari rumahnya (karena atas nama suaminya), tinggal di kos-kosan, dan sedang mencoba meniti kembali di dunia hiburan Indonesia. Yang bikin trenyuh, aktris tersebut mengungkapkan kalau ia menceritakan ke 3 anaknya, keadaan dirinya yang belum punya pekerjaan dan tinggal di rumah kos. “Aku enggak mau egois, anak-anak tinggal dengan mantan suami karena secara materi dia lebih stabil dan rumahnya yang layak. Kalau aku sudah dapat pekerjaan yang mapan, baru ajak anak-anak”.
Setelah menikah, aktris tersebut memang fokus ngurus rumah tangga dan anak-anaknya yang kebetulan jarak usianya tidak berjauhan. Netizen pun menyayangkan diri aktris tersebut yang menikah muda (18 tahun) dan mengorbankan kariernya (yang saat itu lebih tenar dari mantan suaminya) untuk berumah tangga. Mantan Gadis Sampul 2011 itu, dengan status seorang single mom dengan 3 anak, mengakui bahwa seorang perempuan tetap harus punya penghasilan sendiri meski sudah menikah.
Jadi keinget sama diri sendiri, yang dulu pernah kerja kantoran, lalu memutuskan resign dengan ikut program pensiun dini setelah 10 tahun bekerja di Indosiar. Walau enggak kerja kantoran lagi, tapi daku tetap aktif kerja dari rumah, yang sudah 10 tahun lebih dilakoni (dari 2012 sampai sekarang), dan ke tiga anak perempuan daku, selalu menegasin, kalau mereka harus kerja, punya penghasilan sendiri, walau sudah berkeluarga, punya suami.
Tentang Wanita Karier vs Ibu Rumah Tangga
Ini ceritaku tentang mengapa perempuan harus mandiri finansial, menikah atau belum menikah. Perempuan harus punya penghasilan sendiri, bisa dengan bekerja di kantor, atau pun bekerja dari rumah. Meski full sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT), menurutku perempuan harus berdaya. Apakah wanita karier vs ibu rumah tangga itu suatu pilihan? Enggaklah, keduanya bisa diselaraskan, yang penting adalah support systemnya.
Daku terlahir dari seorang perempuan yang sepanjang hidupnya, dari gadis sampai menikah dan punya anak 5 orang, bekerja dengan menjadi guru, lalu wakil kepala sekolah, dan terakhir sebelum pensiun di usia 60 tahun, kepala sekolah salah satu SMA swasta di Jakarta Barat. Tahun pensiun, 1998. Setahun sebelum daku menikah di tahun 1999.
Almarhumah Mama, memang wanita pekerja. Menurut Mama, Ompung Doli (kakek, ayah Mama), yang meminta Mama untuk jadi perempuan bekerja, karena Mama anak terpintar di keluarganya. Bahkan, agar anak perempuannya punya karier yang bagus, Ompung Doli menguliahkan anaknya ke Universitas Gajah Mada (UGM) yang memang perguruan tinggi favorit orang Batak (apalagi yang punya materi berlebih). Sayang, tahun 1966 dengan peristiwa G30S PKI, Mama hanya berkuliah selama 2 tahun di UGM, lalu pulang ke Balige, Sumatra Utara dan melanjutkan kuliah di Universitas Nomensen.
Setelah kuliah, Mama bekerja kantoran. Namun, setelah pindah ke Jakarta, dan karena almarhum Bapak susah mendapat pekerjaan sebagai wartawan, atas bantuan kawan Bapak saat aktif di GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia – Pemuda Marhaen), Mama pun menjadi guru di salah satu SMA swasta di Jakarta Barat. Dengan latar belakang Fakultas Ekonomi, Mama pun menjadi guru ekonomi.
Karena bekerja itulah, Mama pun meminta kelima anaknya (3 perempuan dan 2 laki-laki), setelah selesai kuliah harus bekerja. “Jangan sampai kalian tidak bekerja, karena itu bisa menyengsarakan hidupmu dan keluargamu,” tegas Mama.
Begitulah, daku sebagai anak pertama mau tidak mau harus manut dengan permintaan Mama. Alhamdulillahnya, sejak semester 3 kuliah, daku sudah bekerja freelance di koran. Begitu tamat kuliah, langsung kerja di Majalah Kecantikan. Enggak pernah ngerasain nganggur. Setelah setahun kerja di majalah tersebut, daku dapat pekerjaan di surat kabar, lalu enggak cocok denga ritmenya, ngelamar di majalah, tapi enggak cocok lagi, setelah setahun ngelamar di Surat Kabar milik Angkatan Bersenjata. Setahun bekerja, karena konflik kepemilikan, surat kabar itu pun bubar. Kebetulan, daku juga menikah di tahun 1999.
Nah, baru deh itu nganggur, enggak kerja, apalagi daku kemudian hamil. Tapi, daku tetap mencoba melamar pekerjaan. Sempat melakoni wawancara di SCTV dan Majalah Tempo, tapi enggak lanjut di Majalah Tempo karena ada test kesehatan yang mengharuskan olahraga lari, yang tentu saja ku enggak bisa karena hamil. Di SCTV enggak lanjut ke tahap ketiga, karena ku keburu melahirkan anak pertama, Taruli di tahun 2000.
Saat itu, Mama tetap yang dorong aku tuk mencari pekerjaan. “Kalau kamu khawatir anakmu enggak ada yang ngurus, nanti Mama yang jaga dan ngurus. Pokoknya kamu harus kerja!”
Alhamdulillah, setelah 4 bulan usia Taruli, ku dapat pekerjaan di Indosiar. Sampai 10 tahun kerja, kemudian memutuskan pensiun dini di usia 40 tahun. Mama yang tahu kalau daku resign langsung meradang, dan menuduh Mas Iwan yang melarang daku kerja. Setelah dijelasin kalau itu keputusanku bukan karena Mas Iwan, dan meyakinkan Mama kalau aku akan tetap kerja meski dari rumah, kemarahan Mama pun mereda.
Ku paham sih kenapa Mama ingin anak perempuannya tetap bekerja. Seperti yang selalu dia bilang, dan ucapannya ini kusampaikan ke anak-anak, “perempuan itu harus mandiri, tidak tergantung sama laki-laki. Ngurus rumah tangga dan anak-anak wajib, tapi ngurus diri sendiri juga harus. Jangan karena kamu sibuk ngurus suami dan anak-anak, kamu lupa sama dirimu sendiri.”
Karena itu, menurut almarhumah, salah satu bentuk mencintai diri sendiri adalah dengan bekerja, punya penghasilan sendiri. “Dengan uangmu sendiri, kamu bisa membahagiakan dirimu dengan membeli apa yang kamu mau, tanpa harus mengambil dari jatah yang suamimu kasih, karena itu untuk rumah tangga. Uang memang bukan satu-satunya jalan untuk kebahagiaan, tapi dengan uang, punya uang sendiri, kamu bisa membeli, punya apa pun yang bisa bikin kamu bahagia. Kalau kamu bahagia, keluargamu pun bahagia. Ibu yang stres, merasa tidak bahagia, akan membuat keluarganya tidak bahagia!”
Oh ya, selama 10 tahun bekerja di kantor, daku itu masih tetap menjalankan peran ibu rumah tangga. Ku bangun jam 3 pagi, untuk nyiapan makan anak-anak (termasuk bekal anak sekolah, bekal daku dan suami di kantor), nyiapin baju anak-anak, dan lainnya. Meski ada bude yang jagain 3 anak, tetap saja ibu yang nyiapan keperluan anaknya lebih teliti. Dan kalau hari Sabtu dan Minggu, daku dan Mas Iwan yang ngurus anak-anak, si Bude istirahat (gantian dia yang bantu-bantu).
Capek? Pastilah, kadang suka nangis karena kelelahan, tapi kalau begitu bisa beli baju yang ku mau, sepatu dan tas yang diidam-idamkan terbeli, hilang sih lelahnya. Belum lagi kalau Mas Iwan suka ajak makan enak kalau dilihat aku mulai bete, rasa makanan nikmat itu membayar semua lelah. Jadi, benar kata Mama, dengan uang sendiri, kebahagiaan pun terbeli.
Wanita Karier dan Ibu Rumah Tangga Harus Mandiri Finansial
Wanita karier vs Ibu Rumah Tangga, pembahasan yang tidak ada habisnya.
Kembali ke perempuannya masing-masinglah. Tapi, buatku, apa pun itu pilihan mereka, tetap perempuan itu mandiri finansial. Ini yang ku tegasin ke tiga anak perempuan. Dan, Mas Iwan juga sebagai ayahnya, sepemahaman denganku. Di agama Islam saja, ajaran yang kami yakini, diperbolehkan kok perempuan bekerja, punya penghasilan sendiri.
Memaknai Surah An-Nisa ayat 34, dalam suatu pernikahan, mencari nafkah adalah tanggung jawab suami. Makanya, suami itu harus memberikan nafkah yang layak untuk rumah tangganya, yang kemudian dikelola oleh istri. Selain nafkah rumah tangga, suami juga harus memberikan uang tersendiri untuk istrinya. Jadi, dalam Islam itu ada 3 nafkah yang wajib dipenuhi suami kepada istrinya, yaitu:
- Nafkah keluarga
- Nafkah kebutuhan pribadi istri
- Nafkah batin.
Masih di Surah An Nisa ayat 34, dijelaskan sesuai hadis: βLaki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya.β
Nafkah kebutuhan pribadi istri ini, di antaranya: membeli pakaian, perawatan diri, dan hal yang menyenangkan untuk istri, misalnya jalan-jalan π
Qadarullah nih, suaminya hanya mampu memberikan nafkah keluarga, itu pun misalnya masih suka kekurangan, dan istri berniat membantu suami dengan bekerja, ya diperbolehkan. Dengan mengingat bahwa suami adalah kepala keluarga, istri bekerja bukan untuk menggantikan tanggung jawab suami kepada keluarga.
Enggak diizinkan bekerja di kantor? Ya, bekerja di rumahlah. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan di rumah yang menghasilkan, dan membuat istri mandiri finansial. Misalnya nih, di zaman sekarang, perempuan bisa jadi kreator konten (terutama di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube), menjadi penulis lepas (seperti yang aku lakukan, sudah sepuluh tahun menjadi penulis dan editor lepas), penerjemah lepas, punya warung atau toko di rumah, bisa juga menjadi affiliator (di Shopee, yang sekarang lagi booming).
Sekali lagi, seperti yang daku tegaskan ke tiga anak perempuanku, kalau kamu punya uang sendiri, tidak mengandalkan pemberian suami, kamu tidak hanya membahagiakan dirimu sendiri, tapi juga anak-anakmu.
Kok bisa? Ya, bisalah. Misalnya nih, anakmu pengen jajan online, tapi uang bulanan dari suami tinggal hitungan hari, kan enggak enak kalau mengambil tidak sesuai bujet. Karena kamu punya uang sendiri, enggak perlu minta lagi ke suami, kamu sudah bisa memenuhinya.
Atau, misalnya suami telat kasih uang les anak-anak, bisa kamu yang bayarkan dulu dengan uangmu. Atau lagi, ketika jalan-jalan keluarga, makan-makan bersama, kamu bisa patungan dengan suami, jika ternyata biaya yang dikeluarkan di luar perkiraan.
Ya kalau ternyata suamimu tajir melintir, meminta kamu fokus saja jadi ibu rumah tangga, enggak perlu kerja untuk punya uang sendiri, karena suamimu bisa memberikan nafkah untuk kebutuhan istri berlipat-lipat dibanding dengan penghasilan sendiri. Alhamdulillah banget banget. Kamu, walau IRT tetap bisa berdaya.
Dan, apa pun itu, wanita karier vs ibu rumah tangga, perempuan, ibu harus bahagia. Tidak boleh tidak bahagia. Ibu bahagia, keluarga pun bahagia.
Setuju banget, walaupun IRT, tapi kalau punya penghasilan bisa lebih enak aja rasanya ya mbak. Walaupun mungkin suami memang sudah bisa menafkahi full, tapi rasanya beda aja kalau bisa menghasilkan uang sendiri. Bener bisa bikin lebih bahagia. Tapi iya, bukan tugas istri untuk mencari nafkah, jadi memang pendapatan istri itu istilahnya ya hanya untuk dirinya sendiri. Kalaupun ada. yang dikeluarkan untuk keluarga, jatuhnya jadi sedekah yaa.
Sebagai seorang perempuan, mandiri finansial itu wajib menurut ku, terleoas mau bekerja dimana, dari rumah atau di kantor, semua punya resikonya masing-masing dan harus siap dengan segala resikonya
Ah iya
Meski udah tahun 2026, perdebatan tentang ibu rumah tangga dan wanita karir seolah nggak berhenti ya
Padahal setiap pilihan ada konsekuensinya masing-masing
wanita karier atau ibu rumah tangga memang sering jadi bahan obrolan.. padahal pada akhirnya pilihan itu sangat personal dan semua peran punya tantangan serta kelebihannya sendiri..yang penting adalah bagaimana kita merasa fulfilled dengan pilihan kita, dapat dukungan dari orang sekitar, dan tetap jaga keseimbangan antara diri sendiri dan kebutuhan keluarga.
Sebagai ibu bekerja saya setuju sih sama tulisan ini. Seorang wanita sebaiknya punya penghasilan biar dia bisa membeli barang-barang yang dia inginkan tanpa minta izin suami. Tapi kadang ada juga kasusnya ibu bekerja yang malah lebih banyak menanggung biaya rumah tangga dan malah akhirnya capek sendiri
Saya tau si Gadis Sampul itu Mbak. Dan sekarang dia giat bekerja. Sudah sering juga diundang di program televisi. Saya jad ingat ada seleb juga ngomong, sampai saya ini dia masih bekerja biar tidak tergantung dengan suami. Dan mungkin agar kisahnya tak seperti si gadis sampul itu. Minimal dia bisa punya tempat tinggal layak agar bisa hidup bersama anak-anaknya. Dan sebenarnya zaman now dimudahkan ya Mbak. Perempuan tidak harus kerja kantoran. Bisa juga online m termausk Mbak Indah juga. Masih bisa terus ngeblog termausk menulis cerita anak juga.
Setuju banget Mbak, aku merasakan sendiri berapa nikmatnya punya penghasilan sendiri jadi mau beli apa saja, mau kasih ortu pun bebas nggak ada rasa nggak enakan dan merasa bersalah.. perempuan harus mandiri dan bahagia yaa.. bagus banget ajaran ibumu Mbak mm
Saat membaca artiikel Mbak Indah, inagat saya langsung melayang teringat pada almarhum ibu. Ibu saya persis seperti mbak Indah, yang selalu menekankan bahwa perempuan itu harus memiliki kafaah atau keahlian. Apapun itu keahlian yang bisa membawa anak-anak perempuannya mandiri, berpenghasilan dan tidak bergantung pada suami. kata ibu saya, bukan kenapa-kenapa, kita gak tau jalan hidup akan seperti apa. Suami itu milik Allah yang sewaktu waktu bisa diambil sama Allah lagi.,,kalau kita bergantung sepenuhnya pada suami terus bagaimana melanjutkan hidup kalau tidak ppunya keahlian. Kalau perempuan punya skil , dia akan mampu meneruskan hidupnya, tidak akan jetlag. Soal ibu bekerja dan ibu rumah tangga, keduanya adalah pilihan hidup yang sama -sama harus dihargai, semuanya mulia. Tapi , soal skil baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga semuanya haarus memiliki. Apapun itu skill yang dimiliki. Menjadi perempuan berdaya sepanjang masa.
Memang jadi polemik ya ketika seorang perempuan memutuskan resign atau bahkan tidak bekerja selepas menikah. Sebenarnya nggak salah sih, cuman kadang tergantung lingkungannya sendiri. Memang kalau punya suami yang support 100% keuangan, istri full time jadi IRT ya nggak masalah. Cuman emang sekarang ini kasusnya ketika rumah tangga bermaslah terus bercerai, perempuan yang kena dampak paling besar. Setuju sih perempuan meski diam di rumah perlu punya penghasilan sendiri buat jaga- jaga di masa depan. Kita nggak pernah tahu jalan hidup membawa ke arah mana, yang pasti dengan berdaya jadi ebih kokoh untuk berdiri sendiri
Baru tahu kalau UGM tu PTN favorit orang Batak, kirain orang Solo doank *eaaa eaaaa =))
Wih panjang perjalanan kariernya mak, tapi masih sama ya bidangnya di media. Ternyata emang nurun dari bapak yaa.
Emang sebaiknya perempuan itu bekerja sih, walaupun bukan ngantor tetapi tetep bisa menghasilkan secara finansial.
Hal ini juga melatih kemandirian supaya nggak minta2 mulu meskipun punya suami yang provide segalanya.
Aku pribadi meyakini lebih suka misalnya kek bersedekah tu pakai uang yang aku hasilkan sendiri, kyk lebih puas aja gitu.
Apalagi di era sekarang ini, era digital, kalau mau berusaha, buka link apa aja keknya bisa menghasilkan cuan. bahkan sekadar jualan es depan rumah aja asal nggak malu dan mau ya bisa menghasilkan uang ya.
saya jadi makin setuju kalau kemandirian finansial itu bukan soal gaya-gayaan, tapi “jaring pengaman” harga diri perempuan.
Mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karier, yang penting kita punya “daya”. Setuju banget sama pesan Mamanya Mbak: ibu yang bahagia akan menciptakan keluarga yang bahagia.
Sebagai IRT yang sudah lama nggak punya penghasilan tetap, tentu saja kadang rasa khawatir ada. Tapi sejak belum menikah sudah bertekad mau merawat anak-anak sendiri sambil tetap berusaha produktif dari rumah. Ya walaupun belum maksimal karena masih ada anak yang balita. Semoga apapun yang terjadi dalam hidup kita, rezeki tetap dimudahkan dan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik.
Apapun perannya perempuan, mau dia sebagai wanita karier ataupun ibu rumah tangga, pasti punya kelebihannya masing-masing, dan tentunya nggak perlu sampai ada iri-an sih ya. Berbahagialah mendingan, agar tetap indah dunia ini
Sangat sepakat dengan paragraf penutupnya bahwa wanita itu harus bahagia, dengan bekerja atau tanpa bekerja.
Istri saya sendiri bekerja, mengajar. Ia sempat minta pertimbangan untuk resign, saya izinkan, yang penting ia happy. Tapi istri mempertimbangkan lagi, katanya sayang ilmunya tak dimanfaatkan hasil kuliah, apalagi ngajar sepertinya sudah jadi panggilan jiwa. Ia tak jadi resign dan lanjut mengajar. Saya izinkan, karena prinsipnya tetep satu, yang penting istri Bahagia
Kayaknya ini masalah klasik dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi. Dan saya pun setuju kalau perempuan itu kudu mandiri sencara finansial. Pandangan ini pula yang diajarkan oleh bapak-ibuk saya. Nggak cuma tentang pandangan terhadap wanita aja, tapi juga tentang sumber keuangan di berbagai situasi. (Jikalau ada halΒ² tak menyenangkan terjadi di suami).
Saya sendiri IRT, Mbak. Cuma memang sudah komitmen di awal nikah, meski di rumah dengan pekerjaan domestik, saya tetap meminta bekerja menghasilkan uang tambahan, untuk tetap waras aja di rumah. π₯°
Dan saya tuh suka gedeg, sama mereka yang memandang pekerjaan IRT tuh disepelekan. Padahal baik IRT atau Ibu bekerja samaΒ² perlu mandiri dan berdaya secara finansial. Dan tentu tetaplag seorang ibu di rumah. β£οΈβ£οΈβ£οΈ
Oh mba injul kampung di Balige? ππ. Aiiiih selalu aku lewatin tiap mudik ke Sibolga mbaaa π.
Duluuuu, aku ga pernah kepikiran JD IRT. Krn aku ga punya kesabaran tinggi untuk jadi ibu di rumah, merawat anak. Jadi pas nikah, memang kerja lah di salah satu bank asing. Anak2 dengan babysitter.
Tapi Krn alasan yg bertentangan Ama nurani, mau ga mau aku memilih resign. Untung yaaa, anak2 udah agak gede pas resign, babysitter masih ada, jadi adalah yg bantu dulu, sambil aku adaptasi.
Setuju ttg mandiri financial . Wanita harus bisa. Walau aku juga paham, ga semuanya beruntung bisa menghasilkan uang dari rumah atau kantor.
Awal resign dulu, aku dpt tentangan dari mertua dan ortu. Ortuku yg Batak banget tapi papa Islamnya fanatik π π , bersyukur aku resign. Dia memang dari dulu pengennya istri di rumah, urus dan besarkan anak, seperti mama
Tapi mertuaku yg orang Solo, minta aku ttp kerja. π π π . Pada akhirnya setelah discuss Ama suami, dia pun izinin aku resign drpd aku stress Ama suasana kantor yg ga sehat. Krn pelampiasan ku ke anak2 tiap pulang kantor, jadi ngomeeel Mulu.
Setelah di rumah, yg aku lakuin, ya handle keuangan suami mba. Uang yg dikasih , sebagian aku masukin saham, LM, obligasi. Dan passive income dari sana, ya lumayan. Itu aja yg aku kembangin sampe growing capital nya.
Yg penting lakuin sesuatu yg kita memang kuasai. Affiliator, konten kreator, aku memang ga cocok, Krn ga suka tampil depan kamera. So, kerjaan yg menghasilkan tp dr belakang layar, yaa investasi begini π.
Persoalan ini seperti klise dan klasik tapi ini sangat nyata. Terima kasih sudah menjadi pribadi yang teguh dalam bekerja tetap melakukan peran sebagai Ibu rumah tangga. Dengan mengorbankan diri bangun lebih awal sampai jam 3 pagi. Aku salut dan sangat hormat dengan pribadi seperti itu.
Yakin kehidupan akan mengaturnya menjadi baik untuk setiap pribadi melakukan dengan baik.
Setuju banget kalau wanita tetap memiliki keuangan pribadi, tidak hanya dari pasangan. Kami orang Bali, sudah terdidik untuk hal itu, bekerja atau ga bekerja kantoran tetap perlu punya pendapatan. Biasanya dengan dagang apa yang di hasilkan kebun.
Nah ini, aku setuju pisan Bu Indah. Saya pribadi gak pernah melarang istri untuk bekerja, tapi juga gak memaksanya. Kalau sekiranya dia ingin kerja ya monggo, nggak pun nggak papa. Cuma yaa.. mesti paham aja, kalau mungkin dari sisi finansialnya masih kekurangan.
Istri saya sempet kerja lumayan lama, sekitar 4 tahunan. Tahun kemarin baru kena layoff, dan kemarin baru dapet info lowongan kerja lagi. Yha, qodarullah, appaun itu saya doakan yang terbaik saja.
Saya IRT juga lulusan dari PTN ternama di Sulawesi Selatan (Makassar)
Hanya saja takdirnya menikah dengan pria yang berharap saya di rumah karena yakin rezekiNya sudah mampu mencukupi
Hanya saja dengan keputusan itu saya tidak tinggal diam
Tetap berdaya, salah satunya jualan dari rumah
Alhamdulillah meski belum banyak tetapi bahagia punya pendapatan tanpa ganggu uang belanja dari suami, haha