Senja dalam Palung Kerinduan

by Jul 12, 2013Cerita Mini, Karya, Penulisan3 comments

          Burung-burung camar terbang bertemperasan saat kaki-kaki kecil datang menghampiri mereka. Kaki kecil itu pun berlari mengejar burung incarannya. Keriangan terpancar di wajah pemilik kaki kecil itu. Sepasang kekasih berjalan menyusuri pantai, bergandengan tangan.  Sementara itu, langit di ufuk barat mulai memerah, perahu-perahu kecil terlihat seperti siluet, menambah keindahan suasana.

                Aku selalu merindukan senja di tepi pantai, seperti aku merindukanmu. Senja telah memerangkapku dalam palung kerinduan. Memandang senja akan mengantarkanku pada kenangan yang tak pernah berhasil kusingkirkan. Kala kita duduk di hamparan pasir memandang pergantian waktu. Perlahan pasir mulai menguning karena sang surya mulai memerah.

Para pekerja di restoran pinggir pantai mulai mempersiapkan meja-meja untuk tamu-tamu yang akan berdatangan. Kerlap kerlip sinar lampu satu persatu mulai muncul. Anak-anak yang asyik bermain bola semakin seru berteriak, untuk segera menuntaskan permainan. Cahaya dari puncak mercusuar bersiap-siap membantu nagivasi kapal laut dan perahu kecil yang sedang asyik melaut. Bagimu, kesibukan di tepi pantai saat senja selalu menarik perhatian.

Tak hanya menarik perhatian, senja juga menimbulkan suasana romantis. Pasangan yang memadu kasih terlihat asyik memandang senja. Bahkan ada beberapa yang sibuk mengabadikan diri mereka dengan berlatar belakang matahari yang perlahan mulai tenggelam. Sinar merah mentari yang mereka tunggu-tunggu untuk membuat siluet percintaan.

Bagiku, senja adalah cerita tentang kehidupan. Setelah seharian bergumul dengan kehidupan, pelan-pelan sang mentari mengundurkan dirinya menuju keharibaan, beristirahat, berganti dengan bulan dan bintang yang mulai muncul di langit yang menghitam. Dalam temaram bayangan matahari, perahu-perahu kecil yang awalnya seperti titik, bergerak cepat melawan gulungan ombak kecil yang mengantarkan ke tepi pantai, untuk kembali ke keluarga.

Kamu lalu menarik tanganku mengajak bermain-main dengan ombak kecil, sebelum senja benar-benar meninggalkan kami. Aku hanya tersenyum, memilih untuk menikmati senja dengan memandangnya tak jemu dan bermain pasir mengukir namaku. Hamparan air di pantai seperti ujung yang tak bertepi, menyejukkan hati. Aku memandangmu yang asyik bermain dengan ombak. Tawamu bahagia. Dengan berlatar belakang matahari yang memerah, aku memotretmu dengan mata hatiku.

Senja hampir padam, namun dirimu tak ingin juga beranjak meninggalkan pantai. Pasir itu seperti mengikat kakimu dengan erat. Aku lalu berjanji akan selalu menemanimu menghabiskan senja. Senyummu langsung terkembang, dan kami pun beranjak pulang meninggalkan malam yang mulai datang.(***)

 

 

Hasil tugas dari Audisi Gradien Writer (GWA)

Tugasnya: menarasikan Senja di Pantai dalam jumlah 350 kata.

Hasilnya nggak maksimal sih, tapi lumayanlah *puji diri sendiri*

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

September Writing Prompts

September Writing Prompts

“Every time you post something online, you have a choice. You can either make it something that adds to the happiness levels in the world—or you can make it something that takes away“ ~ Zoe Sugg Siapa tahu ada yang mau #OneDay #OnePost, atau kekurangan ide buat...

read more

3 Comments

  1. hanari

    imajinasi yang hebat,,,

    Reply
  2. Lusi

    Kadang aku bertanya dalam hati, apakah yang bisa menulis tentang pantai, senja, gunung dengan kata-kata yang romantis itu harus sedang jatuh cinta? Apakah imajinasi saja cukup?

    Reply
  3. dey

    lumayan bangetlah Mbak …

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories