Being Minoritas: Apa Salahnya Berbeda?

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Mbak Tutuk @ningsihpangestu) Mizan di Islam Indonesia. 

Tulisan ini harus lengkap dibaca, bukan fast reader untuk memahami keseluruhan cerita, agar tidak salah persepsi.

—–

Saya terlahir sebagai orang Batak dan saya bangga untuk itu.

Saya asli Batak. Bapak saya bermarga Sibarani dan Mama boru Hutagaol. Mereka berdua sudah almarhum. Sebagai orang Batak, saya menyandang marga dari Bapak, yaitu Boru Sibarani. Saya hanya menumpang lahir di Medan, lalu dibawa Bapak dan Mama ke Jakarta, hingga dewasa kini, baru 3 kali saya ke Medan.

Saya memang tidak fasih berbahasa Batak. Kalau kata saudara-saudara saya, bahasa Batak saya marpasir-pasir, hancur lebur. Tapi dengan didikan keras Bapak dan Mama yang selalu bercakap bahasa Batak kepada anaknya, apalagi kalau mereka marah dan menasehati anak-anaknya dengan bahasa Batak, Alhamdulillah saya paham tentang bahasa Batak. Setidaknya, kalau ada copet yang kebetulan orang Batak, saya mengerti apa yang mereka katakan dan akan lakukan, sehingga saya bisa menghindar, minimal memberitahu orang lain kalau ada copet, hehehe.

Saya orang Batak dan saya bahagia dengan itu.

Waktu kecil, saya merasakan bagaimana rasanya menjadi bagian dari kaum minoritas. Dulu, di Jakarta, di suatu perkampungan di wilayah Jakarta Barat, menjadi bagian dari warga tempat itu, yang sebagian besar penduduknya adalah orang Betawi, orang Batak bisa dibilang minoritas di antara warga pendatang lainnya seperti dari Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur.

Warga tempat kami tinggal tak jarang mencemooh, dengan ungkapan-ungkapan seperti Orang Batak Makan Orang. Bukan hanya orang dewasa, tapi juga anak-anaknya. Kadang, kalau saya ikut bermain dengan mereka, lalu terjadi pertengkaran, ujung-ujungnya pasti ledekan seperti itu dilontarkan ke saya. Untungnya, Mama dan Bapak sudah menempa kami, anak-anaknya, untuk tidak peduli.

Keheranan mereka terhadap suku Batak makin bertambah, ketika mereka mengetahui kalau kami beragama Islam. Mereka seakan-akan tak percaya, kalau keluarga besar kami memang dari lahir sudah beragama Islam.

Dulu, waktu kecil, karena Bapak dan Mama bekerja, supaya anak-anaknya tidak keluyuran saat pulang ke rumah, setelah bersekolah di sekolah formal di satu SD swasta, agak sore, kami bersekolah di satu madrasah ibtidaiyah, yang kebetulan dekat rumah.

Kenapa kami bersekolah di Madrasah? Bapak dan Mama ingin kami punya landasan agama yang kuat. Dan tentunya bergaul dengan anak-anak sekitar. Tapi, di Madrasah pun kami mendapat perlakuan berbeda. Dan, masalahnya pun sama dengan warga di tempat tinggal kami. Heran ada orang Batak yang beragama Islam!

Terbiasa diperlakukan tak adil, terbiasa menjadi bagian dari kaum minoritas membuat kami berusaha lebih realistis dalam menghadapi perbedaan.

Apa salahnya berbeda?

Apa karena berbeda harus saling mencemooh?

Karena perbedaan lalu bertengkar?

Bukankah semua ajaran itu sama-sama menitahkan tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Dan saling mengasihi antara sesama? Dan, bukankah sama kalau yang disembah itu adalah Tuhan, bukan berhala.

Untung kami punya orangtua seperti almarhum Bapak dan Mama yang selalu mengingatkan untuk tak membalas perlakuan mereka dengan tindakan yang sama. Kami malah harus membuktikan bahwa kami layak menjadi bagian dari warga setempat dan diperlakukan sama dengan yang lainnya.

Almarhum Bapak dan Mama juga selalu menekankan, jangan pernah memaksakan keinginan atau mewajibkan yang lain untuk sama dengan kita. Nikmatilah perbedaan dengan saling melengkapi, tanpa harus menjadi sama.

Tidak bermaksud ingin berpolemik, saya sering merasa sedih jika melihat peristiwa yang sekarang ini sering terjadi. Selisih yang terjadi antara Islam dan Kristen. Tak perlulah dipertentangkan antara minoritas atau mayoritas. Lebih baik berbeda-beda, beraneka ragam, warna warni, daripada dijadikan satu tapi saling menyakiti.

Berikut, saya kutipkan tulisan Mbak Tutuk tentang  tentang Romo Londo dan surat Rasulullah Saw. dari abad ke-7 :

“Ini adalah pesan dari Muhammad Bin Abdullah, sebagai jaminan bagi mereka yang memeluk agama Kristen, yang jauh maupun yang dekat, kita bersama mereka. Sungguh aku, para pelayan, pembantu, dan pengikutku membela mereka, karena penganut Kristen juga adalah wargaku.

Demi Allah! Aku menentang apa pun yang menyusahkan mereka. Tidak boleh ada paksaan terhadap mereka. Kalian aku larang merampas pekerjaan hakim mereka, atau mengusir pendeta mereka dari biara. Tidak ada yang boleh menghancurkan rumah ibadah mereka, merusaknya, atau membawa apa-apa dari rumah itu ke rumah-rumah orang Islam. Siapa pun yang melanggar ini, berarti ia mengingkari perjanjian dengan Allah dan tidak mentaati Rasul-Nya.

Sesungguhnya mereka adalah sekutuku dan memiliki jaminan keamanan dari segala sesuatu yang mereka benci. Tidak seorang pun boleh memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka berperang. Kaum Muslim harus berjuang untuk mereka. Jika seorang perempuan Kristen menikah dengan seorang Muslim, pernikahan itu tidak boleh berlangsung tanpa persetujuannya. Perempuan itu tidak boleh dilarang mengunjungi gereja untuk berdoa. Gereja mereka harus dihormati. (Muslim) tak boleh menghalangi mereka dari memperbaiki gereja mereka maupun melindungi kesuciannya. Tidak satu orang pun dari bangsa (Muslim) ini yang tidak mematuhi perjanjian ini sampai Hari Akhir (Kiamat).

 

 

 

18 thoughts on “Being Minoritas: Apa Salahnya Berbeda?

  1. Salam kenal ito. Tapi menurut ku dengan kisah seperti yg ito alami, ito sudah memiliki pengalaman dan pembelajaran lebih dibanding orang2 pada umumnya.

  2. Ini sama seperti saya yang diragukan ke-Indonesia-annya cuma gara2 sipit. Padahal entah sudah berapa puluh turunan tinggal di Indonesia. Lahir, besar, tumbuh, dan memanggil Indonesia sebagai rumah.

    Sama seperti Bapak dan Mama-nya makpuh bilang ‘
    Nikmatilah perbedaan dengan saling melengkapi, tanpa harus menjadi sama.’

  3. Bunda saya suka sama kalimat yang ini “jangan pernah memaksakan keinginan atau mewajibkan yang lain untuk sama dengan kita”, karena terkadag kita lupa akan hal satu ini. kita tidak bisa memaksakan kehendak kita terhadap orang lain, karena faktanya, setiap pribadi manusia itu memiliki haknya masing-masing, tak boleh memaksa namun bukan berarti kita tidak bisa menasehati, mengajarkan, dan memberitahu mana yang benar dan mana yang tidak.

    #MaapKalorRadaGakNyambung :mrgreen:

  4. Itu sama dengan ketika kampanye DKI 1 & DKI 2. Suatu hari aku pulang naik taksi, si supir taksinya bilang,”sayang Ahok bukan muslim…,” yang langsung aku tanya,”emang kenapa pak kalau bukan muslim? Sepanjang dia amanah dan memang memenuhi syarat untuk jadi DKI 2, ngga masalah kan?”

  5. seandainya banyak yg berpikiran spt ito di negri ini, aku yakin pertikaian karena sara akan sangat jarang trjadi.
    i wish.

    nice post, to 🙂

    1. Banyak kok, Dep, cuma mungkin suaranya kurang terdengar karena bicaranya pelan, kalah sama suara keras yang penentang 🙁

  6. Biasanya kita jadi bisa menghargai perbedaan, jika kita hidup di lingkungan yang justru berbeda, dari sana kita belajar toleransi umat beragama. Belajar hidup damai berdampingan, namun tetap menjalankan ibadah masing-masing.

  7. Sebuah tulisan yang sangat mencerahkan, dikemas ringan dan enak dibaca. Trims, Mbak Indah. Apa kabar? Kangen deh.

  8. Jadi ingat waktu merantau di Utah, sebagai minoritas Alhamdulillah selama 2,5 tahun ndak ada pengalaman yang menyedihkan, cuma sekali pernah diteriaki bernada rasis sepulang dari Islamic center,hehe..Tulisan yang mencerahkan, mbak…^^

    1. Terima kasih Mbak Rizki 🙂
      Kalau tinggal di LN, pasti lebih merasakan lagi ketidakasyikan menjadi minoritas ya, Mbak 🙂
      Kapan-kapan sharing juga di blog Mbak RIzki.

Leave a Reply

Your email address will not be published.