Petugas Beacukai di Perbatasan NKRI

by May 4, 2014Inspirasi22 comments

dokumentasi www.beacukai.go.id

“Yang kamu tahu tentang beacukai apa?”

“Apa yang menarik dari petugas beacukai menurutmu?” tanya seorang sahabat saya, ketika saya mengutarakan keinginan untuk mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bertema Petugas DJBC di Perbatasan.

Sejenak saya termangu saat mendapat pertanyaan dari sahabat saya itu.

Apa sih yang saya ketahui tentang Bea dan Cukai?

Apa saya tahu pekerjaan para petugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai?

Jujur, yang saya tahu hanya secuil informasi tentang bea cukai yaitu, kalau kita mau kirim atau menerima barang dari luar negeri. Dan, juga seputar issue tentang kerumitan proses bea cukai dan banyaknya intrik di antara proses itu.

“Kirim atau menerima barang dari luar negeri yang berhubungan dengan bea cukai mah itu hanya bagian kecil dari tugas Bea dan Cukai, yang lain masih banyak dan penting,” jelas sahabat saya itu.

Berbekal informasi dari sahabat saya itu, saya lalu berkunjung ke website Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), dan mencari informasi lainnya lewat Om Google.

Ternyata ya ternyata, menurut wikipedia.org, petugas DJBC itu mempunyai tugas dan fungsi yang penting, sahabat blogger.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang dipimpin oleh seorang direktur jenderal, dan berada di bawah Kementerian Keuangan Indonesia, mempunyai tugas dan fungsi utama sebagai pelindung masyarakat (dari barang ilegal), pemungut bea dan cukai (revenue collector) misalnya memungut bea masuk berikut pajak dalam rangka impor dan cukai, mengawasi kegiatan ekspor dan impor, juga fasilitator perdagangan.

Enak ya tugasnya? Apalagi kalau lihat seragam petugas bea dan cukai yang keren seperti polisi.

Itu kan hanya penampakannya saja, karena tugas-tugas para pelaksana amanah itu ternyata berat lho. Apalagi nih, tugas DJBC dalam melindungi ekonomi Indonesia di perbatasan negara.

Kita tahu kan, kalau Indonesia itu berbatasan dengan beberapa negara baik di darat mau pun laut, seperti misalnya berbatasan dengan Timor Leste, Malaysia, dan Papua New Guinea. Ibaratnya nih perbatasan antar negara itu, kaki kanan berpijak di tanah Indonesia, kaki kiri berpijak di negara tetangga.

Keadaan seperti itu membuat berat tugas petugas Bea dan Cukai di perbatasan. Mereka tidak boleh keras, tetapi juga jangan lembek. Petugas bea da cukai harus luwes.  Karena, bisa jadi di antara petugas bea cukai tersebut memiliki keluarga di negara tetangga kita itu. Masih berkeluarga hanya terpisahkan oleh batas negara.

Kalau boleh berharap, petugas bea dan cukai di perbatasan haruslah orang yang super. Selain keluarga yang terpisahkan karena tugas, dalam melaksanakan tugas mereka juga tak kenal waktu, karena orang yang mau melintas batas pun tak kenal batas dan waktu. Harus stand by 24 jam!

Memang sih ada perjanjian perbatasan antara Indonesia dengan negara-negara tetangga itu, tapi keperluan orang pelintas batas tak kenal batas waktu.  Apalagi jika mereka mendapat ijin dari Pengaman Perbatasan dari TNI dan negara tetangga. Mereka bisa berkunjung ke Indonesia kapan pun. Bisa berjalan kaki atau melompati sungai.

Untuk kepentingan para pelintas batas ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menerbtkan pas pelintas batas bagi tiap orang yang akan melintas negara.

Untuk apa pas pelintas itu? Untuk mencatat berapa banyak barang yang masuk atau keluar dalam sebulan yang dibawa oleh pelintas. Pas pelintas ini dipakai juga oleh Imigrasi sebagai pengganti paspor untuk penduduk sekitar.

Nah, dengan mencatat berapa banyak barang yang keluar masuk, petugas bea cukai telah menjalankan tugasnya untuk mengamankan aset-aset negara Indonesia, terutama dari penyelundupan. Salah satu cara untuk mengatasi penyelundupan adalah pembatasan waktu kendaraan di wilayah masing-masing.

dokumentasi www.beacukai.go.id

Mobil-mobil Indonesia boleh berada di negara tetangga yang berbatasan langsung, begitu pun mobil negara tetangga di wilayah RI. Kalau mobil tersebut melewati batas waktu yang ditentukan, bisa dikategorikan penyelundupan.

Banyak cara lho yang dilakukan para pelintas untuk melakukan penyelundupan. Apalagi bagi mereka, apa yang ada di Indonesia itu lebih murah dibandingkan dengan negara mereka. Seperti misalnya bbm, yang di Indonesia bersubsidi. Atau pakaian/bahan tekstil, dan yang menakutkan adalah narkoba.

Untuk mengatasi penyelundupan terutama terkait dengan ekonomi Indonesia, kebijakan dari Bea Cukai yang membebaskan bea masuk bagi pelintas batas yang memiliki kartu identitas pelintas batas. Untuk Indonesia – Malaysia, per kepala keluarga dibatasi senilai 600 ringgit Malaysia atau setara Rp2,1 jutaan. Lebih dari itu, setiap barang dikenai bea masuk.

Sudah cukup mengatasikah? Memang diakui belum bisa mengatasi, namun peraturan tetap harus ditegakkan kan?

Walau petugas Bea dan Cukai di posisi yang dilematis itu, namun harapan besar tetap ada di tangan para manusia super itu. Dan rasanya pemerintah harus memperhatikan fasilitas agar tugas DJBC dalam melindungi ekonomi Indonesia di perbatasan negara, bisa dilakukan dengan nyaman.

 

Sumber pendukung:

Direktori Peraturan: http://peraturan.beacukai.go.id/

Koran Sindo: http://www.koran-sindo.com/node/336689 (Kondisi Perbatasan – Tugas Bea Cukai yang Penuh Dilematis)

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

22 Comments

  1. Tina Latief

    Saya punya pertanyaan sama seperti mas karmin mba..
    bedanya pajak.sama cukai apa?

    Reply
  2. Lita Uditomo

    Baca posting nya jadi pengen curcol mbaak…

    Bulan maret kmrn aku bawa saxophone ku utk direpair ke singapore. Krn ga bisa selesai cepet kami minta dikirim aja kl udah selesai. Pertengahan maret saxo dikirim pulang ke indo tapi nyangkuut di bea cukai krn aku ngga punya dokumen2 nya…lah itu barang 2nd…jadi kuminta kirim balik ke singapore. Daaan…sampai hari ini belum juga dikirim balik….ga ngerti kenapa kok bisa sampai lama banget prosesnya…
    Pasrah…kemungkinan rusak besar banget krn saxo itu sensitif apalagi cuma pakai softcase :(((

    Maaf jadi numpang curcol mbaaak…ngarep bisa ada penjelasan atau cara spy bisa cepet dikirim balik ke singapore….

    Good luck dg lomba nya ya mbak Indah…

    Reply
  3. kw

    kerja di bea cukai gajinya tinggggi mba….
    🙂
    oh ya apa bedanya cukai dan pajak?

    Reply
  4. Joe Ismail

    semoga sukses dengan lombanya ya…

    Reply
    • Indah Julianti

      Terima kasih, mohon doanya 🙂

      Reply
  5. ndop

    Ada nggak ya seorang bea cukai yg jadi blogger? Biar dia bisa menceritakan keluh kesah seneng susah bekerja sebagai karyawan bea cukai?

    Soalnya temenku SMA yg kerja di bea cukai, gak pernha cerita apa2 tentang kerjaannya, malah cenderung menutup diri.

    Reply
    • Indah Julianti

      Ada, Ndop, banyak kok, di emak blogger saja ada yang kerja di Bea Cukai, tapi memamng jarang berkeluh kesah di blognya 😀

      Reply
      • adi

        Iya tuh, perlu blogger bea cuka

        Reply
  6. Dwi Puspita Nurmalinda

    saya baru tahu sekarang,,tahu dari postingannya mak indah,,makasih ya mak informasinya 🙂

    Reply
    • Indah Julianti

      Sama-sama, Dwi, semoga bermanfaat ya <3

      Reply
    • Indah Julianti

      Yaaay, semoga ya, senang banget kalau bisa barengan 🙂

      Reply
  7. Mutia ohorella

    Begitulah nikmatnya hobby menulis, dipaksa untuk blusukan ke Pasar Informasi.
    Selamat berkarya yaa… semoga Emak sang juara nya. Yang tuwir-tuwir ini mendoakan dari jauh…hik!

    Reply
    • Indah Julianti

      Aamiin, aamiin, terima kasih untuk doanya 🙂
      Benar, mbak Mutia, kita harus blusukan ke pasar informasi agar bisa bertambah ilmunya 🙂

      Reply
  8. Mutia ohorella

    Begitulah nikmatnya jadi penulis, makin pinter karna dipaksa blusukan ke Pasar Informasi. Semoga Emak lah sang juara. Yang tuwir ini mendoakan dari jauh… Hik !

    Reply
  9. Nia Haryanto

    Wah… baru tahu banyak tentang bea cukai ini. TFS, Makpuh. 🙂

    Reply
    • Indah Julianti

      Sama-sama, Nia Haryanto.
      Aku juga setelah ngubek-ubek, jadi tahu banyak tentang bea dan cukai 🙂

      Reply
  10. Lusi

    Setelah baca syaratnya ternyata maksimal berumur 40th. *ambil clurit, rajam2 KTP

    Reply
  11. Lusi

    GIliiiing! Sekarang disalip terus sama makpuh. Wkkwkwkk gatau kalau ada lomba ginian. Udah hari terakhir pula wkwkwkkkk *guling2. Ikut nggak ya????

    Reply
    • Indah Julianti

      Ikuuuuuuuuuuut, ayo, jangan sampai ketinggalan.
      Yang penting kita nulis dulu, menang kalah urusan belakangan 🙂

      Reply
  12. Yos Beda

    Masyarakat umum dewasa ini mengenal “petugas beacukai” lebih kepada pekerjaan yang godaannya cukup besar ya, ya karena bekerja di “lahan basah” kaya di pajak 🙂

    Reply
    • Indah Julianti

      Benar, Yos Beda, kita hanya tahu gosip dan kulit luarnya, padahal isinya, pekerjaan petugas bea cukai itu berat dan butuh orang-orang super untuk melakukannya 🙂

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories