Jadi Ibu Dilarang Sakit!

by Jan 26, 2016Keseharian, Kesehatan25 comments

Jadi Ibu Dilarang Sakit!

Demikian fatwa Kayla, anak kedua saya yang berusia 11 tahun. Kenapa ibu nggak boleh atau dilarang sakit? “Kalau ina (bahasa Batak, yang artinya ibu, ada juga yang memanggil inang) sakit, siapa yang anter jemput aku, Mbak Lily dan Tio ke sekolah dan tempat les?”

“Siapa yang masak? Kan nggak mungkin Bude, kasihan udah capek cuci dan gosok baju, bersihin rumah, dan ngurusin Tio,” ungkap Taruli, si sulung.

Ya begitulah komentar anak-anak ketika mendapati saya lemas, tak berdaya akibat demam dan flu yang menyerang akibat kelelahan berkepanjangan. Bagaimana tidak lelah? Satu minggu (15 sampai 22 Januari 2016) saya berada di Jakarta, tenaga seakan terkuras. Mengikuti beberapa acara, meeting dengan klien dan juga Team Social Media Strategist (yang kebetulan saya menjadi salah satu anggota team). Yang melelahkan itu perjalanan ke lokasi pertemuan atau meeting, yang selalu diganjar kemacetan.

 

Pulang ke Yogya. Tugas harian sudah menanti

Walau sudah merasa badan kurang fit, jadi ibu yang baik untuk anaknya, saya harus mengantar jemput mereka ke sekolah dan tempat les.

Seperti ini kira-kira kegiatan rutin saya kalau di Yogyakarta.

  • Bangun pukul 03.00 pagi, baca buku sambil nunggu Shubuh.
  • Masak pukul 05.00 sampai 5.30 (semua bahan sudah disiapkan malam harinya, pagi tinggal diolah)
  • Mengantar Kayla dan Tio (sekolahnya sama) pukul 06.10
  • Mengantar Taruli ke sekolah pukul 06.45 (sekolahnya lebih dekat dari rumah, sekitar 15 menit naik motor)
  • Pukul 08.00 sampai 09.40 memulai aktivitas pekerjaan sessi pertama (upload content dan schedulling). Lalu pergi menjemput Tio yang pulang sekolah jam 10.
  • Pukul 11.00 sampai 14.30 aktivitas pekerjaan sessi dua.
  • Pukul 14.45 menjemput Taruli yang pulang jam 3 sore. Lalu menjemput Kayla yang pulang jam 4 sore.
  • Pukul 16.30, mengantar Taruli, Kayla dan Tio les (Senin, Selasa, Kamis, Jumat dan Sabtu khusus untuk Kayla karena persiapan UN)

Begitu setiap hari. Saya baru bisa relaks di rumah pada pukul 19.00 WIB. Kecuali hari Rabu, anak-anak istirahat, tidak ada kegiatan di sore hari.

Lelah? Pastinya. Tapi saya nikmati karena kalau nggak punya kegiatan seperti itu, saya pasti akan merasakan kebosanan yang akut. Tidak punya kegiatan apa-apa di rumah, bisa bikin saya mati gaya.

 

Sibuk, Waspada Kesehatan

Namanya manusia, pasti ada batas maksimalnya. Saya merasakan kalau ketahanan tubuh mulai oleng. Nggak enak badan, terserang flu, badan rasanya minta dikasihani untuk beristirahat total. Tapi kalau saya sakit siapa yang ngurusi anak-anak?

Nggak mungkin si Bude kan diminta tolong anter jemput anak-anak ke sekolah dan tempat lesnya, karena Bude nggak bisa naik motor/mobil. Lagi pula saya nggak tega minta berlebihan sama Bude. Beliau masih betah sama keluarga kami saja, sudah syukur Alhamdulillah. Tahun 2016 ini adalah tahun ke delapan Bude bersama keluarga kami. Sejak saya masih bekerja hingga sekarang saya bekerja di rumah, bersyukur masih ditemani Bude.

Kenapa Bude masih bekerja di rumah kami padahal saya sudah nggak bekerja kantoran lagi? Jujur, kalau nggak ada Bude, saya nggak kuat mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga itu sendirian. Saya nggak sanggup mencuci dan menggosok pakaian yang bejibun itu. Memang sih, si Bude juga mencuci pakai mesin cuci. Eh, kapan-kapan deh saya cerita tentang Bude ini.

Sebagian besar teman-teman yang kenal dekat saya sih sudah tahu dan kenal Bude ini. Bahkan kadang ada yang bergurau kalau masakan saya itu sebenarnya Bude yang masak, dan pencitraan saya sebagai ibu yang keren saja kala pamer hasil masakan di sosial media 🙂

Jadi Ibu Dilarang Sakit!

Jadi Ibu Tidak Boleh Sakit!

Ibu itu ibarat tiang penyangga plafon rumah. Kalau tiangnya patah, bisa ambruk itu plafon. Karena itulah saya mengafirmasi diri untuk selalu sehat, jangan sampai berlama-lama sakit, karena bisa runyam segala urusan.

Bagaimana sih saya berupaya supaya nggak berlama-lama sakit?

  • Yang jelas, setiap hari saya selalu minum air putih yang banyak (bisa 3 sampai 4 liter sehari). Di antara air putih itu, ada air yang merupakan infus water seperti perasan lemon atau jeruk nipis.
  • Minum kunyit asem 3 kali dalam seminggu
  • Minum habatussaudah setiap hari.

Lumayan tokcer sih itu. Kecuali memang sakitnya benar-benar udah parah, mau nggak mau mesti ke dokter, barulah minum obat dari dokter.

Ya begitulah sekelumit cerita bagaimana jadi ibu yang harus selalu sehat dan kuat. Belajar jadi ibu yang baik memang proses yang terus menerus. Ibu memang istimewa, karena ibu adalah seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan adalah anugerah yang tak tergantikan. Perempuan adalah sosok yang hebat. Seberapa besar masalah yang dihadapinya, ia akan selalu berdiri tegak menyelesaikan semua masalahnya.

Ada quote yang saya sukai, dari anonim seperti ini:

Perempuan hebat bukanlah ia yang tidak menangis, melainkan yang mampu menghapus air matanya

 

Banyak cara untuk menjadi perempuan sejati dan jadi ibu yang sesungguhnya

Tinggal browsing saja di internet, akan dapat tips-tipsnya. Namun yang paling penting adalah menjadi diri sendiri. Menentukan pilihan hidup sendiri. Dan, menjalani pilihan hidupnya dengan penuh tanggungjawab. Dunia perempuan itu akrab dengan diskriminasi dan pengerdilan.

Sudah bukan saatnya lagi perempuan saling berdebat dengan sesama perempuan. Bergandengan tangan untuk mendobrak diskriminasi adalah hal yang paling penting. Perempuan tidak boleh takut untuk mengekpresikan keinginannya.

Nggak punya kekuatan untuk mewujudkannya? Menulislah, misalnya menulis di blog. Lewat tulisan, perempuan bisa menyalurkan keinginannya dan dibaca oleh banyak orang. Masih merasa kesulitan untuk menulis? Belajarlah. Karena perempuan adalah sosok yang hebat.

Menjadi perempuan adalah takdir. Saat menjadi seorang ibu, perempuan dihadapkan pada kenyataan bahwa yang paling penting adalah kesehatan jiwa raga. Dan, jadi ibu dilarang sakit!

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

Menghadapi Si Remaja yang Suka Ngelawan

Menghadapi Si Remaja yang Suka Ngelawan

Punya anak remaja yang suka ngelawan? Welcome on board! Masa remaja memang masanya memberontak, setuju kan, Sahabat Blogger? Akui saja, bahwa kita pun dulu mengalaminya. Mengalami hari-hari di mana rasanya bapak dan ibu itu sama sekali nggak ngertiin kita. Rasanya...

read more

25 Comments

  1. Ahmad

    kalau sdh ibu dari anak-anak yang sakit ..wah bisa repot dech

    Reply
  2. Annisa

    Aku jadi inget Ibu aku. Single mom, harus kerja di weekday berangkat pagi pulang malam dan Sabtu-Minggu ajak main aku sama adikku, tapi sedikitpun dia ngga pernah ngeluh cape/ngga enak badan/sakit.. Entahlah kalau beliau ngga mau nunjukkin dan bikin anaknya sedih. Miss you mommy :’)

    Reply
  3. dWi (nining)

    Ahhhh iya nih, sampe banyak yg merasakan spt ini “Kalo yg sakit ibunya, masih bisa mobile. Tapiiii kalo yg sakit ayah, hmmmm” hihihi
    Super sekaliii kan kan kan 😉
    Sehat terus ibu-ibu di seluruh dunia, aamiin

    Reply
  4. niyasyah

    Berat ya jadi ibu 🙁
    Belum ngerasin jadi ibu sih 🙁 Nah kalau ibuku lagi sakit, pasti deh kocar-kacir tuh rumah 😀

    Reply
  5. Uci

    Betul mba 🙂 menyentuh banget kata-kata yg ada dalam kotak biru itu. Moga selalu sehat yah mba injul

    Reply
  6. Nchie Hanie

    hiks iya banget Makpuh…
    Rasanya lelah ya, apalagi bagi ibu yang bekerja, selalu salut bisa menyeimbangkan. Terkadang suka pengen mewek sendiri kalo lelah udah datang, apalagi tatkala badan dah mulai ga bersahabat.

    Ga boleeh sakiit, bisa runtuh dunia dapur, rumah dll nya !!

    Reply
  7. Turiscantik

    Anaknya masuk sekolah pagi juga ya mak. Saya jg kdng musti ngk boleh sakit krn ngak ada prt hehhehe

    Reply
  8. entik

    ah, bener banget makpuh… ibu ga boleh sakit. Karena ibu adalah motor keluarga. beberapa bulan yang lalu saya sakit typus dan harus bedrest kurang lebih 3 minggu, dan semua anggota keluarga merasakan repotnya rutinitas yang harus berubah karena saya sakit. Sampai anak-anak dan suami berkesimpulan sama: “ibu ga boleh sakit, titik.

    Reply
  9. Ira Guslina

    ưah sibuk nya Mak Indah Juli,,, tapi memang begitu ya mak apalagi ga ada IRT. eh tapi di situ juga serunya… Setuju yg penting jangan sakit… 🙂

    Reply
  10. Dessy Natalia

    luar biasa yaa ibu itu..
    jadi pengen peluk mama..
    makasih mba shareny 🙂

    Reply
  11. uni dzalika

    Baper baca ini :’) betul, dilarang sakit! Ibuku kayaknya nggak pernah sakit, atau kalau sakit nggak pernah diketahui sama anak anaknya hahah . semoga semua ibu selalu sehat, amiiin

    Reply
  12. Ratna

    Ya Allah, masuk sekolahnya pagi betul; jam 6!

    Reply
  13. ipeh alena

    Iya mak bener banget, kalau sakit pasti semua jadi ga kepegang. anak ga ada yang anter, sampe pernah kemaren ini ga sekolah gara2 saya yang tepar dan ga ada yang bisa diminta tolong untuk anter jemput 🙂

    Reply
  14. rahayu pawitri

    Selalu ada kekuatan besar dibalik sosok yang, seringkali disebut lemah, ya mbak.

    Reply
  15. inayah

    Sudah lama ga minum habatusaudah,,
    Ibuku mulai sibuk sekarang, sibuk arisan sana sini heeheh. Resepnya nanti aku sampein ke ibuk mba,,terutama soal kunyit asem. Simbah aja yg rajin minum jamu,,ibuk sering skip

    Reply
  16. Ika Puspitasari

    Bener banget mak…pernah aku sakit beberapa hari, haduuh kacau balau deh. Akhirnya suami ngalah, nggantiin tugasku…hehe
    semoga kita selalu diberi kesehatan ya mak..

    Reply
  17. sari

    yup..kalo sampe ibu sakit..rumah bisa kayak abis perang dunia tiap hari.. 🙂

    Reply
  18. momtraveler

    Betul banget tu mbak satu hari aja ibu sakit rusal semua urusan rumah tangga. Makanya ga boleh berdoa kita yg sakit daripada anak kita ya. Baik ibu dan anak juga suami harus sehat terus 🙂

    Reply
  19. Fera

    Ibu yang luar biasaaa… Semangat terusn ya mak demi keluarga.. 🙂

    Reply
  20. janis

    tosss setuju… kita dilarang sakit… Semoga kita selalu diberikan kesehatan ya mak 🙂

    Reply
  21. Diah Kusumastuti

    Bahagia sekali rasanya ya, Mak, ketika anak-anak dengan polosnya menyatakan “butuh” kita. Kita sebagai ibu jadi merasa bermanfaat bagi orang lain khususnya anak-anak dan suami 🙂

    Reply
  22. Nanik

    sama dong ya, ibu itu nggak boleh sakit.
    Saya kalau sudah kecapekan banget, biasanya akan berbaring aja dan membiarkan suami dan anak-anak dengan aktivitasnya masing-masing. Biasanya, mereka langsung tanggap kalau saya sedang tak enak badan. Bertiga rebutan mijitin saya. Anak pertama paling suka menyiapkan obat dan air minum buat saya 🙂
    eh, kadang ini bisa jadi trik untuk bermanja-manja pada mereka lho hehehe…

    Salam kenal dari Malang

    Reply
  23. @danirachmat

    Saya pernah dengar kata-kata ini dari Ibu saya. Hihihi. Beliau pernah bilang kalo Ibu itu gak boleh sakit karena tugasnya Ibu gak bisa digantikan bapak. Maklum ibu bapak saya masih tipe jadul. Memang harus banyak istirahat dan konsumsinya dijaga ya Mbak. Dan iya, perempuan mestinya bisa saling bersinergi instead of saling menjatuhkan. Hihihi.

    Reply
  24. Inna Riana

    Setuju, makpuh. Jadi ibu memang dilarang sakit. Semua bisa keteteran. Semoga sehat selalu ya mak. Senengnya masih ada Bude ya 🙂

    Reply
  25. Alam

    Ah, bude, kangen sambel buatan Bude.
    Bude, I miss yoouu!

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories