Dalam lima tahun terakhir, jumlah produksi film Indonesia meningkat rata-rata 43 %. Pada tahun 2009, tercatat jumlah produksi film Indonesia sebanyak 78 judul film layar lebar (bioskop), namun sangat sedikit yang khusus dibuat dan ditujukan untuk anak.

Hari Minggu lalu, Lily dan Kayla minta nonton film Rapunzel (anak-anak saya memang doyan nonton film, seperti bapaknya), yang lagi ditayangin di bioskop. Karena terlambat datang, dan film Rapunzel sudah ditayangin selama 15 menit, mereka lalu memutuskan nonton film Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1.

Mas Iwan sempat bingung juga waktu anak-anak minta nonton Harry Potter, karena film itu durasinya lama, khawatir anak-anak nggak betah, dan film itu ditujukan buat remaja. Tapi, karena anak-anak minta terus, dan dilihat yang ngantri tiket banyak juga anak-anak seumuran Lily (10 tahun) dan Kayla (6 tahun), mereka pun membeli karcisnya.

Lily dan Kayla ternyata betah nonton Harpot, cerita Mas Iwan sepulang dari bioskop. Untungnya Mas Iwan ikut nonton, karena mereka banyak nanya tentang adegan-adegan di film itu.

Tapi diantara semua itu, yang bikin Mas Iwan gerah, ada film posternya segede gambreng dan lagi ditayangin di bioskop yang sama, yang judulnya : Susah Jaga Keperawanan di Jakarta. Mas Iwan sempat kelabakan, waktu Lily tanya apa itu keperawanan ? Dan, yang bikin Mas Iwan miris, antara mau ketawa sama sebel, Lily dengan polosnya nanya, memang di Jakarta dijual keperawanan ? #doh

Memang, saya dan Mas Iwan baru menjelaskan kepada Lily, tentang masa-masa pertumbuhan dia seperti haid, puber, dan tingkah laku yang sopan sebagai anak. Kalau tentang keperawanan sih, belum dengan bahasa tingkat tinggi. Baru menjelaskan kalau dia harus berhati-hati bergaul dengan teman-temannya yang laki-laki.

Untung, kembali lagi untung 🙂 saat itu Mas Iwan ikut mendampingi anak-anak nonton, karena Mas Iwan lihat banyak juga anak-anak yang nggak ditemani orangtuanya, dan nonton bersama teman-teman seumurannya.

Saya jadi berpikir, kenapa ya di Indonesia, gampang banget bikin film seperti Susah Jaga itu. Kalau pun ada film anak-anak, pasti keluarnya pada saat liburan sekolah seperti bulan Juni – Juli dan Desember. Dan, mau nggak mau harus diakui, film anak-anak yang banyak beredar di Indonesia adalah buatan luar negeri, yang ternyata kalau disimak ditujukannya buat remaja (Rapunzel juga untuk remaja loh).

Padahal, menurut Ketua Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), Gunarto, dalam suatu acara yang saya ikuti : “anak berhak mendapatkan informasi dan hiburan yang sehat, untuk meningkatkan kehidupan sosial, spiritual, dan moralnya”. Dan, hal ini diatur dalam Pasal 17 Konvensi Hak Anak (Convention on The Right of the Chil – CRC). Pemenuhan hak anak tersebut menjadi tanggungjawab bersama antara negara, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, keluarga, orangtua dan anak itu sendiri.

Sayang memang ya, anak-anak butuh hiburan yang mendidik, sehat, menyenangkan, tapi terbatas. Apalagi, karena anak-anak belum cukup memiliki daya pikir yang kritis, anak-anak cenderung untuk meniru apa saja yang mereka lihat dari lingkungannya, tanpa mempertimbangkan baik atau tidak, merugikan atau tidak.

Dan, sebagai orangtua, saya berharap diantara banyaknya film layar lebar yang dibuat produsen film, ada film yang memperhatikan berbagai kebutuhan anak-anak.

 

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

School From Home Tahap 2: Tahun Ajaran Baru 2020

School From Home Tahap 2: Tahun Ajaran Baru 2020

Hari ini, Senin 13 Juli 2020, tahun ajaran baru 2020 - 2021 dimulai. Tapi pembelajaran langsung, tatap muka, belum diberlakukan. Masih pembelajaran online, School From Home (SFH) atau sekolah di rumah tahap dua. Ya, pandemi Covid-19 masih belum ada tanda-tanda bakal...

read more

29 Comments

  1. iptek

    lucu2 bgt putry nya..kelihatane kita pernah ketemu ya mb…

    Reply
  2. Bibi Titi Teliti

    eh..mba Indah…
    setelah melihat poto2 putri mba diatas…
    baru nyadar kalo kayaknya kita gak sepantaran…

    Maap selama ini cuman manggil nama doang yah…:)

    Reply
  3. Je

    Mbak, baca postingannya saya penasaran satu hal: anak2 g ada yang tanya Mas Iwan waktu di Harpot ada adegan peluk2an and cium2annya Harry sama Hermione?

    Reply
    • Indahjuli

      Ditanya, dan Mas Iwan ngejelasin sambil nyengir 😀
      Anak-anak susah dibohongi, jadi kita kudu menjelaskan dengan benar, walau kadang nggak enak.

      Reply
  4. Denuzz BURUNG HANTU

    miris banget liat kondisi perfilman di Indonesia, jauh dari kata bermutu. apalagi menuhin kebutuhan filmnya anak… kayaknya lembaga sensor harus lebih tegas nih!

    Salam BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

    Reply
  5. retma

    Nikki juga doyan nonton film, mbak. klo ditanya hobinya, pasti salah satunya nonton film. Haha. 🙂 Baru mo nonton Senin besok (secara emaknya liburnya Senin).

    Reply
  6. kiky

    pernah ngajak kiddos nonton film anak2x (kalo ngga salah di jaringan sinema terbesar itu deh), filmnya sih iya…film anak2x…semua umur (madagascar apa ya?) tapi iklannya…crank voltage yang sarat adegan kekerasan gitu! haduh…ceroboh juga..

    Reply
  7. de

    hayoo posting ttg ultah blogfamnya mana?

    Reply
  8. lischantik

    harusnya para pembuat film di negri ini membuat film mbok ya yg judulnya mendidik, ga yang aneh2 bgeitu…

    Reply
  9. lischantik

    kok ga ada posting ultah blogfam nya?
    lilis senang bgt dech ketemu dengan indahjuli
    🙂

    Reply
  10. gajah_pesing

    miris setelah membaca postingan ini.. secara saia akan menyiapkan anak..

    Reply
  11. Ippen

    Semoga kedepannya para sutradara di Indonesia lebih beminat bikin film anak-anak yg mendidik bukan film HOT-ROR 😛

    Reply
  12. Bibi Titi Teliti

    heudeuh…
    kadang orang orang perfilm an kalo ngasih judul film udah kayak yang gak mikir ya…
    emang sih berusaha ngasih judul yang catchy buat narik perhatian…
    Tapi kan jadinya rada rese gitu lho….*jadi curhat*
    Apalagi film horor…halah…
    hantu manggarai lah, hantu jeruk purut lah…hantu jeruk mandarin aja sekalian…hihihi…

    Reply
  13. kasma_maret

    sekarang memang sangat sulit untuk mencari film2 yang bermutu dan siap di tonton sgala usia….
    Jadi kangen ma film2 om Dedi Mizwar, yang benar2 sarat makna tapi tetap asyik untuk di tonton (Kiamat Sudah Dekat, Ketika, Naga Bonar 1 dan 2)

    Reply
  14. monda

    Film anak, lagu anak udah nggak laku mungkin. Dulu waktu anakku balita tiap tv pasti punya program lagu anak. Tv latah sih, satu buat program anak lainnya ikut, satu menghilangkan semuanya ikut juga.

    Reply
  15. Nunik

    Mba Indah .. kangen sambil Cubitsss…
    aku juga mba yang namanya nonton benar2 aku liat banget ditujukan untuk sapa, secara tauk sendiri yay, remaja ala mereka itu seperti apa… ngiksss.
    jiyah ternyata rapunzel itu remaja yay, udh ngebet pengen nonton bareng D&N…

    Reply
  16. Corat - Coret [Ria Nugroho]

    film indonesia memang berkembang tapi sayang banyak film yg aneh2 kayak yg mba bilang tadi
    anehnya kenapa dilulusin gtu film2 yg berjudul gtu

    Reply
  17. edratna

    Indah,
    Saya juga prihatin soal iklan film berikutnya…yang dipasang tanpa mengenal apa film yang akan ditayangkan, dan siapa segmen pasar yang sedang menonton film. Bagaimana cara mengatasi masalah ini…mungkin perlu dorongan untuk menulis..di FB, twitter dsb nya, sehingga kalau film anak-anak maka iklannya ya film anak-anak, jangan yang aneh-aneh.

    Reply
  18. bundadontworry

    dulu ketika anak2 msh kecil2 , untung ada film Sherina yg memang bagus banget, jadi bunda bisa ajak mereka utk nonton itu.
    sekarang, memang sangat jarang ya film2 yg sengaja dibuat utk anak2, apalagi yg dipikirkan sekarang khan hanya laku keras saja dgn judul yg ‘serem’ dan ‘horor’ gituh, seperti yg InJul tulis diatas 🙁
    salam

    Reply
  19. mamah Aline

    saya suka bawa anak-anak ke 21 tergantung filmnya, film animasi khusus anak atau film tentang anak negeri. cuma memang suka ada film yang durasinya terlalu lama

    Reply
    • IndahJuli

      durasi lama membuat anak jadi nggak betah.
      Terima kasih sudah berkunjung, mamah.

      Reply
  20. evy

    pfffh… anak2 masih belum di’urus’ betul ya. Padahal 20 thn yad, mereka jg yg bakal ‘jagain’ Indonesia. Boro2 mikirin mana yg bagus buat konsumsi mrk, di tivi aja iklan hadohhh…sampe prihatin liatnya. Kalo film bagus, produsernya mesti kuat2 hati, mbak 🙁 *Ale/Nia masih produksi film anak ngga ya?

    Reply
    • IndahJuli

      Hanya Ale/Nia yang cuma mau produksi film anak, dan mereka concern dengan itu. Tapi ya itu, cuma satu, dua film aja.

      Reply
  21. Ikkyu_san

    kalau di sini setiap musim panas dan menjelang liburan anak-anak, pasti ada film khusus (asli jepang) anak-anak yang beredar.(Bukan animation yang kayak naruto tapi cerita mandiri). Kalau terjemahan sih ngga liat waktu, ada aja….

    EM

    Reply
    • IndahJuli

      hihihi, terjemahan memang selalu ada ya.
      Nah, pengennya juga seperti di Jepang, ada film khusus anak2, tapi produsen nggak mau rugi.

      Reply
  22. Sylvia, Jake and Matt

    Anak2 tuh pengen nonton tangled, udah janjian ama mertua. Biasa emang sih yg bawa mereka ke cinema mertua. Sekalian ngasih waktu untuk aku dan hubby utk ngedate. Enak juga sih, sore anak2 diambil mertua, kita berdua lgs cabut juga. Malam baru dibalikin lagi. Asal jangan keseringan ….:-)

    Reply
    • IndahJuli

      wah, asyik dong, bisa berduaan, me time !

      Reply
  23. arman

    dulu padahal ada petualangan sherina ya yang menurut gua bagus banget tuh film buat anak2… 🙂

    btw gua baru nyadar kalo film2 tuh suka dirubah judulnya ya kalo di negara yang berbeda. waktu itu pas kebetulan ada yang nanya tentang film yang judulnya slayer. gua gak pernah denger film itu padahal katanya produksi kantor gua. ternyata film itu disini judulnya gamer! hehe.
    nah film rapunzel ini juga ya. di indo dan singapur judulnya rapunzel the tangled tale. kalo disini judulnya tangled. 😀
    aneh ya kenapa juga kok diubah2 ya judulnya? 😀

    Reply
    • Indahjuli

      Mungkin kalau Tangled nggak cocok buat pangsa pasarnya 🙂
      Kan, Rapunzel lebih dikenal sama anak-anak.

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories