To Spank or Not To Spank — sebuah dilema

by Nov 10, 2009Curhat12 comments

Dulu sewaktu belum menikah dan tinggal bersama orang tua, gue pernah berkata dalam hati tidak akan mencontoh pola pengasuhan yang sudah orang tua gue berikan kepada kami, anak-anaknya.

Dulu, gw merasa orang tua terlalu ketat mengasuh dan mengawasi anak-anaknya. Harus rajin belajar, rajin sekolah, rajin sholat, ngak boleh berantem, ngak boleh pacaran sebelum tamat SMA, dan sebagainya yang buruk lainnya, yang menurut orang tua bisa merusak masa depan anak-anaknya.

Ngak jarang, kalau gue melanggar rambu-rambu yang mereka terapkan, gw bakal dapat hukuman. Disetrap berdiri sambil angkat kaki satulah, menulis sampai tangan gempor dengan kata-kata : “Saya janji tidak akan mau mengulangi kesalahan itu lagi.

Menurut mereka, hukuman itu patut diberikan sebagai bentuk disiplin untuk anak-anaknya.

Dan paling bikin gue dulu suka menangis diam-diam dalam hati (orang tua gue melarang kita menangis keras-keras. Ngak ada istilah nangis kejer deh), kalau hukuman itu berupa hukuman dipukul. Yah ngak dipukul di tanganlah, atau dipukul di pan**t.

Pelan sih, ngak pernah keras atau kenceng, cuma tetep aja, namanya anak-anak, gue berpikiran orang tua gw itu kejam, sadis, dan segala yang jelek-jelek lainnya gue cap buat si mamah, si tukang hukum 😀 (Maaf  Ma, I love u full). Dan kalau udah begitu, gw bertekad kalau gw punya anak nanti, gw ngak akan mau menghukum anak gw seperti itu. Gw ngak mau mukul. Cukup disetrap aja (hehehehe, sama aja yah).

Tapi, ternyata oh ternyata… betapa gw merindukan masa-masa kecil gw dihukum dulu. Disetrap suruh berdiri angkat kaki, dipukul pantat atau tangan, disuruh pegang kuping sampai pegel, ah…ah…ah

Mungkin ini yang dibilang kemakan omongan sendiri. Sebagai orang tua, gw dan Mas Iwan juga menerapkan hukuman kepada Lily dan Kayla (dua anak gw yang sudah besar), kalau mereka berbuat nakal atau berantem antar saudara (kek di Afghanistan tuh :D), atau hal-hal ceroboh yang dilakukan anak-anaklah.

Hukumannya sih standar aja, berdiri selama beberapa menit, sambil diceramahin kalau mereka udah berbuat salah. Setelah puas gw berceramah, barulah selesai hukumannya.

Tapi namanya anak-anak, kadang kan mereka juga suka ngak kira-kira kalau berantem, malah pernah pakai pukul-pukulan segala. Nah kalau udah gitu, gw suka emosi jiwa juga. Kadang nih suka ngak nyadar tangan udah terangkat aja mau mukul.

Mukul apa yang bisa gw pukul deh. Dan sasaran apa lagi yang enak kalau bukan bokong aka pa*t*t ?!  Tapi untungnya, Alhamdulillah, belum sempat tangan tuh mampir di p*nt*t anak gw, mereka udah ketakutan dan minta ampun. Saat itulah, gw yang gelap mata terselamatkan oleh tatapan mata ketakutan dari anak-anak gw.

Ah jadi dilema sendiri buat gw, apa benar hukuman itu sebagai bentuk disiplin yang harus diterapkan kepada anak-anak sebagaimana orang tua gue dulu.

Di satu sisi, gw merasa kalau ngak dihukum, anak-anak jadi kurang disiplin. Mereka jadi sembarangan berbuat masalah, sering bertengkar, sering berbuat salah, dan hal-hal yang bikin mangkel.

Disisi lain, kalau dihukum, gw takut anak-anak trauma atas hukuman itu. Bisa jadi, bukannya disiplin, anak-anak malah jadi penakut. Bukannya disiplin, anak-anak malah membenci orang tuanya (walaupun gw ngak membenci orang tua mereka atas hukuman yang pernah mereka berikan).

So, jadi hukuman apa yang pantas kita berikan ?

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

Todo Sobre Mi Madre

"Peluk Mama, nak, peluk. Mama kedinginan." "Jangan menangis, Mama nggak suka lihat orang menangis!" ------ Ma, apa kabarmu sekarang? Sudahkah bertemu dengan Bapak di sana? Mama pasti senang sekarang bisa kembali bersatu dengan Bapak. Ma, rindukah kau kepada kami,...

read more

12 Comments

  1. Silvie Amelia

    Itulah perbedaannya..Maju terus para bunda didik mereka anak-anak sesuai orang dulu..hhh

    Reply
  2. Dini

    Gue juga bingung mbak .. loh abis gue mau bilang “bunda itung ampe tiga nih” .. loh dia malah ngelanjutin hitungannya ..gue emang ga bakat jadi (nyonya) jendral ..wakakaka

    Reply
  3. tuteh

    Bunda, saya lebih memilih pendidikan orangtua dulu 😀 hehe. Lebih ‘kena’ ketimbang yang sekarang. Dulu itu disiplin, tegas dan KERAS. Sangat keras malah…

    Reply
  4. Evy

    Mbak In, subhanallah masih bisa kontrol tangannya. Gw kadang2 gelap beneran 🙁 Just for sharing, siapa tahu berguna (aku baru ikutan intro sessionnya di skolah, menarik tp tentu harus disesuaikan dgn keyakinan kita sendiri): http://www.loveandlogic.com/articles.html
    Senang bisa baca banayk tulisanmu lagi, mbak…

    Reply
  5. fanari

    Mungkin itu yang namanya tough love ya pak, tapi tidak semua dilakukan dengan cara kekerasan

    Reply
  6. zee

    Kalau saya kayaknya belum tahu akan bagaimana nanti mendidik anak. Waktu kecil juga sering dididik keras oleh orangtua, sering kena hajar jugalah. Dan itu sebagian besar pengaruh ke karakter saya yg sekarang.
    Pengennya sih nanti gak ada pukul memukul anak, sekarang aja klo saya udah melototin vaya tanpa senyum, dia udah tahu kalo maminya marah, dia diam dgn muka bersalah. Mudah2an sih ga sampe mukul nanti deh.

    Reply
  7. retma

    MBak, aku juga bingung kalo soal inih. Selama ini sih, aku cuman bilang, “Mama marah neh.” Hahaha. 😀 Abis ituw, Nikki biasanya aku diemin. Iyah, kalo dia dah keterlaluan, aku “puasa ngomong”. Abis itu dia yang ngerasa salah ndiri. Biasanya malah nangis2. Hah..!!

    Reply
  8. nh18

    Maaf OOT nih …
    membaca judulnya … saya merinding sendiri …
    (justru hal lain yang saya pikirkan …)

    aaarrrggghhh …

    BTW …
    In-jul … saya buat tulisan sedikit di blog saya … dedicated buat Injul dan Dede Tio
    mohon diterima ya …

    Salam saya

    Reply
  9. tukangecuprus

    spank me…spank me! *ngakak guling2*

    Reply
    • Indahjuli

      dodol :p
      payah ah, Selasa malam ngak ikutan emang perlu dispank nih :p

      Reply
  10. Bang Aswi

    Jelas, ini pelajaran luar biasa bagi kita sebagai orang tua. Saya sendiri sangat sulit menerapkan hukuman yang tepat untuk mereka. Sampai sekarang, pertanyaan yang sama selalu saja, “Sudah tepatkah hukuman yang saya berikan?”

    Reply
    • Indahjuli

      Idem Bang Asmi, sama dengan saya 🙁

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories