Liburan ke Yogyakarta Ala Porter

by Dec 24, 2015Keseharian, Vacation9 comments

Libur Natal dan Tahun Baru 2016 sudah tiba. Dan, liburan ke Yogyakarta adalah salah satu agenda wajib bagi para wisatawan.

Selamat datang musim liburan.

Enjoy Your Time.

Rabu, 23 Desember 2015 lalu, saya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, pukul 04.25 WIB, dengan menggunakan kereta api Taksaka. Pulang ke rumah, setelah beberapa hari berada di ibukota Jakarta.

Kembalinya saya ke Yogya bersamaan dengan ratusan para wisatawan juga pemudik yang akan memadati seluruh pelosok Yogyakarta.

Stasiun Tugu yang biasanya tak terlalu ramai di hari Rabu, kali ini penuh, padat, hingga saya terpaksa menunggu sejenak untuk keluar dari kereta api.

 

Liburan ke Yogyakarta

Yogyakarta memang bagai magnet bagi para pelancong. Tidak hanya di musim liburan seperti libur lebaran, sekolah, Natal dan Tahun Baru atau libur long weekend, nyaris setiap minggu (Jumat hingga Minggu), Yogya selalu ramai dengan kehadiran pendatang.

Ramainya Kota Yogya di saat liburan, merupakan berkah tersendiri bagi sebagian kalangan seperti para pemandu wisata, para pedagang, tukang becak dan penyewa kendaraan lainnya, bahkan keberuntungan juga bagi supir taksi, tukang ojek dan porter di stasiun kereta api dan bandara.

Beruntung buat mereka, nyesek buat kita, yang tinggal di Yogya 🙂

Kenapa nyesek?

Kemarin, saat tiba di stasiun, rencananya saya ingin menyewa porter untuk membawakan beberapa ‘tentengan’ dan tas yang agak berat karena titipan oleh-oleh seperti cheese cake, keripik dan lainnya dari teman dan sanak saudara untuk anak-anak.

Sebenarnya saya bisa bawa sendiri, tapi karena semalaman di kereta dengan AC yang kencang, membuat tangan saya kram, susah digerakkan. Saya pun menyewa porter.

Nyaris 30 menit saya baru bisa mendapatkan seorang porter. Itu pun setelah stasiun agak sepi dari penumpang yang tiba.

Semua porter di Stasiun Tugu laku keras membawakan tas, koper dan tentengan lainnya. Tak ada porter yang tak bekerja saat itu.

Liburan Natal dan Tahun Baru 2016 memang liburan berkah buat para porter.

Kalau nggak benar-benar butuh, malas lho pakai porter ini.

Di liburan ini, tarif mereka yang biasanya sekali angkut sekitar Rp 15 ribu hingga 20 ribu, kali ini mereka memasang tarif 30 ribu untuk sekali angkut!

Sempat kaget juga sewaktu saya kasih uang Rp20 ribu ke bapak porter yang membawakan tas, tiba-tiba si bapak bilang kalau uangnya kurang.

“Kurang berapa, Pak? Bukannya biasa 20 ribu. Saya orang Yogya lho.”
“Sepuluh ribu lagi, Mbak. Sudah biasa kok ini,” katanya ngeyel.

(Biasa karena liburan, gumam saya dalam hati).

Meski mangkel, saya tetap dong kasih tambahannya.

 

Liburan = Tarif Berbeda

Porter atau pelayan jasa yang membantu kita mengangkut barang-barang bisa ditemui di bandara dan stasiun. Oh ya, ada juga porter di hotel-hotel, namun ini kelasnya berbeda 🙂

Untuk tarif, biasanya sih seikhlasnya, tapi nggak boleh kebangetan ya ikhlasnya dengan memberi tips sekadarnya. Harus dillhat juga seberapa banyak yang diangkut dan berat tidaknya barang bawaan kita.

Saya belum pernah menemukan porter yang memasang tarif, kecuali kemarin itu di Stasiun Tugu.

Harapan saya sih ya jangan pasang tariflah, karena bisa menghilangkan ciri khas Kota Yogyakarta yang berhati nyaman. Orangnya yang adem pakewuh. Ramah dan tidak seenaknya.

Dan ternyata ya, nggak hanya porter yang melonjakkan tarifnya. Tukang ojek dan taksi pun memasang tarif tinggi.

Untuk ojek yang biasanya memasang tarif 40 ribu rupiah (dan masih bisa ditawar dengan kesepakatan 35 ribu) dari Stasiun Tugu – Minomartani, tempat tinggal saya. Kali ini memasang tarif Rp 50 ribu, nggak bisa ditawar. Mau, jalan. Nggak mau, masih banyak penumpang yang bisa ditawari ojek 🙂

Nawar taksi? Lebih dashyat lagi tarifnya. Tugu – Mino yang biasanya 50 ribu, melonjak menjadi 125 ribu.

Kampring bangetlah! Nggak heran, kalau orang Jogja lebih baik minta dijemput daripada pulang sendiri.

 

IMG_9118

Candi Sewu

Oh ya, buat yang mau atau sedang liburan ke Yogyakarta, bisa baca postingan Lusi Tris tentang tips liburan tahun baru 2016 di Yogyakarta.

Kalau saya sih cuma kasih tau (buat yang naik kereta api, terutama), kalau arah keluar/pulang dari Stasiun Tugu sekarang ini bukan di Jalan Mangkubumi lagi, tapi di Jalan Pasar Kembang. Agak ribet sih, tapi lebih luas. Kalau untuk keberangkatan, masih tetap di Jalan Mangkubumi/muka Stasiun Tugu.

Berencana liburan ke Yogyakarta, Sahabat Blogger?

Seru lho, karena Yogya menyediakan paket lengkap untuk wisatawan, yaitu wisata kuliner, wisata budaya, wisata candi, wisata museum, dan yang lagi hype adalah wisata pantai di Bantul, Gunung Kidul dan Kulonprogo.

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

Menghadapi Si Remaja yang Suka Ngelawan

Menghadapi Si Remaja yang Suka Ngelawan

Punya anak remaja yang suka ngelawan? Welcome on board! Masa remaja memang masanya memberontak, setuju kan, Sahabat Blogger? Akui saja, bahwa kita pun dulu mengalaminya. Mengalami hari-hari di mana rasanya bapak dan ibu itu sama sekali nggak ngertiin kita. Rasanya...

read more

9 Comments

  1. Sintetis

    Kayak diwenehi ati ngrogoh rempelo… XD Semoga tradisi dan ciri khas orang Jogja tidak berubah karena jaman.

    Reply
  2. indah nuria Savitri

    kangeeen Jogja dengan segala kelucuannyaaaa mba :)…kalau sudah musim liburan memang enggak bangeeet yaaah ehehehe

    Reply
  3. Idah Ceris

    Taksi kok nawar, sih, Mbak. Kan udah ada per km-nya, ya? Ngelonjaknya ngga kira2 yogyaa!

    Reply
  4. Fita Chakra

    Jadi inget belum nurutin permintaan Keisya ke Yogya 🙁

    Reply
  5. Neni

    Lihat fotonya jadi pengen ke Candi Sewu *gagal fokus* 😀

    Reply
  6. Ila Rizky

    wow, tarifnya lumayan juga ya, mak. sekali angkut lagi. kalau sehari angkut puluhan bisa dapet banyak penghasilan seharinya.

    Reply
    • indahjuli

      Heeeh, Ila. Ngeruk keuntungan banget kan ya.
      Padahal Jogja kan terkenal nyaman.

      Reply
  7. Nurul Al Amin

    Ckckckckckck……
    Ini baru kemarin sore mak in?
    Spt itulah kebiasaan masyarakat kita
    Pas masa-masa spt ini mesti ngeprok rego
    Huuufht.
    Ga bakal kemana-mana mak in. Mojok di rumah saja

    Reply
    • indahjuli

      Ya begitulah, kesempatan dalam kesempitan 🙂
      Hahaha, daku juga paling cuma kulineran saja, secara Mas Iwan lieber juga dan anak-anak pasti pengen makan bareng ammanya 🙂

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories