Kapan Boleh Pacaran? Pertanyaan Tiap Tahun

by Oct 21, 2019Parenting35 comments

Kapan boleh pacaran?

Berawal dari cerita Hecoel di WAG tentang keponakannya yang pacaran, lalu jadi obrolan seru bareng Irma, Sary, Mira, dan pendengar setia Efi Fitriyyah, daku jadi teringat percakapan dengan anak-anak tentang masa depannya. Kala itu, daku bilang ke Taruli, kalau bisa setelah selesai kuliah, kerja dua atau tiga tahun, lalu lanjut S2. “Kalau bisa S2nya di luar negeri, pakai beasiswa, makanya networking dari sekarang dibangun. Kalau dapat S2 beasiswa, sekalian nanti S3-nya.”

Tiba-tiba, Tiominar menyela, “Kok kuliah terus sih, enggak nikah-nikah, enggak pacaran. Kan Mbak Lily sudah dewasa, kata inna, kalau udah kuliah boleh pacaran. Kasihan sekolah terus.”

Jleb. Daku antara pengen gaplok anak bocah, tapi pengen ketawa juga karena dipikir-pikir benar juga, gimana anaknya bisa nikah kalau sekolah terus. Kapan boleh pacaran?

 

Kapan Boleh Pacaran

 

Dari cerita Hecoel dan omongan Tio itu,  dan Sary juga ngepost tentang obrolan Maira dan dirinya tentang pacaran di Instagram, lalu daku bikin pertanyaan di Instagram Stories: Kapan pertama kali diizinkan, dibolehin pacaran sama orang tuanya? 

Dan nggak sangka banyak yang jawab dan seru-seru jawaban dari pertanyaan kapan boleh pacaran. Jadi kepikiran untuk bikin blogpostnya, siapa tahu bermanfaat untuk Sahabat Blogger dan pembaca setia blog Cerita Cita Cinta. 

This is the Story…

Boleh Pacaran Pertama Kali Itu…

Saat kuliah, dan Alhamdulillah, pacaran sekali akhirnya menikah (Jawaban dari perempuan cantik berjilbab asal Karawang ini. Sebut saja panggilannya Eza yayang, hihihi) 

Pacaran pertama kali itu…SMA. “Tapi dari SD sudah banyak yang ngajak pacaran (primadona zaman old memang beda ya). 

Jawaban dari pertanyaan kapan boleh pacaran, nggak beda jauh dari primadona zaman old, ada yang menjawab; “Sama Mama dibolehin pacaran pas SMP, sama Papa saat SMA. Tapi yang dianggap pacar benaran sama mereka, pas kuliah dan itu direstui jadi suami.” So sweet ya.

Jawaban lainnya…nggak dibolehin pacaran, jadinya backstreet. “Bahkan sampai mau married pun, nggak dibolehin pacaran. (Alhamdulillah, pacaran backstreet dari SMA itu, berakhir dengan pernikahan bahagia sampai sekarang. Aamiin) 

Ada juga yang sejak lulus SD jauh dari orang tua, jadi saat suka sama cewek/cowok itu nggak tau dilarang atau dibolehin sama orang tua. “Pacaran itu ya pas ngajar, kerja. Nggak sampai 9 bulan ketemuan dan berkenalan, lalu menikah.” 

Cerita menarik seputar pacaran adalah memories dari teman-teman blogger daku,  Sha Ransel Hitam dan Pink Traveler. 

Sha, ibuk dari bRe itu, SMP udah pacaran. “Tapi suratnya yang pacaran. Kalau ketemu diam-diaman macam enggak kenal (miris ya…) di SMA, kehidupan percintaan suram. Naksir orang tapi nggak ditaksir balik (tragis…) 

Sebenar-benarnya pacaran itu umur 19 tahun, saat kuliah. Walau sudah cukup umur pacaran, ternyata di usia segitu pun pacarannya backstreet. Karena beda agama. 

Kalau Mbak Pink traveler menjawab kapan boleh pacaran itu, seperti begini: “Ortu enggak pernah spesifik bilang boleh pacaran. Cuma berteman saja sama cowok pas masa sekolah.”

“Orang tua baru ngomongin soal pacar pas sudah kerja. Beda zaman kali ya. Dulu suka sama cowok, malu-malu. Mana berani terang-terangan pacaran. Lagi pula aku tinggal di daerah, mbak. Banyak yang kenal orang tuaku.”

 Dari cerita-cerita di atas, ku menarik kesimpulan, sebagian besar itu pacaran (diizinkan orang tua dan serius) pada masa-masa kuliah. Kalau pun pacaran pada masa-masa SMA (atau pun SMP), ya gitu deh, cinta-cintaan. Kalau istilah zaman daku, cinta monyet. Gaya pacarannya pun backstreet. Biasanya yang ditaksir atau dipacarin, teman sekolah. Bisa satu kelas, beda kelas, atau kakak/adik angkatan.

Kapan Boleh Pacaran, Pertanyaan Tiap Tahun

 

Boleh Pacaran

 

Hayo, Sahabat Blogger dan pembaca setia blog Cerita Cita Cinta yang sudah punya anak remaja, sering kan dapat pertanyaan seperti itu? Bahkan anaknya yang masih SD ada yang sudah bertanya juga tentang boleh nggak pacaran?

Kalau di rumah tuh, yang suka bertanya tentang pacaran, si bungsu Tiominar. Mulai dari pertanyaan apa itu pacaran versi daku, kapan boleh pacaran, sampai kalau nanti aku pacaran dan menikah, inna nanti tinggal sama aku saja, menemani aku kalau sendirian di rumah. Maksud loe?

Daku sendiri untuk urusan pacaran ini, sejujurnya masih abu-abu. Hihihihi, bukan apa-apa, dari pengalaman masa remajaku, almarhumah Mama enggak ngizinin anaknya pacaran di masa sekolah (SMP dan SMA), tapi memperbolehkan teman-teman cowok untuk main ke rumah, bahkan di malam minggu. Begitu kuliah, Mama malah yang tanya melulu, mana teman laki-lakimu, kok malam minggumu di rumah saja. Hadeeeh capek deh.

 

Pacaran di zaman digital

Pesanku sih ke Taruli, Kayla dan Tio, inna nggak ngelarang kalian dekat sama teman cowok, karena senang dengan orang lain itu hal yang manusiawi. Tapi, jangan sampai ada beberapa mantan pacar dalam hidup, karena mantan itu bisa bikin suram kehidupan, hahahahaha. Benar kan kan.

Apalagi zaman digital gini, yang jejaknya susah banget dihilangin. Misalnya suatu saat jadi orang terkenal, ngetop, yang beritanya ada di mana-mana, ujug-ujug nyempil berita, “Dia kan mantan pacar aku. Secelup dua celup, pernah secangkir teh berdua.” Cih, minta dilempar bakiak banget kan.

Sementara itu, Mas Iwan, jelaslah dia enggak ngizinin anaknya pacaran. Buat yang kenal sama Mas Iwan, bakalan maklum. Walau, kalau teman-teman Taruli dan Kayla main ke rumah, laki-laki pun, enggak pernah dipermasalahkan.

Taruli sudah pacaran? Pasti pada penasaran kan.

Waktu SMU pernah dekat sama teman sekolahnya. Ceritanya Taruli, si teman itu pernah bilang suka sama dirinya. Tapi tiap daku tanya, dia cuma tertawa-tawa enggak jelas gitu. Mesem-mesem kalau dibilangin, jangan ada mantan di antara kita.

Dan begitu Taruli lulus sekolah. Putus pula pertemanan mereka. Dan sekarang di saat kuliah, pertanyaan kapan boleh pacaran, sudah enggak pernah ditanyakan lagi. Tiap disinggung punya teman dekat cowok kah, dia bilang tugas-tugas kuliahku banyak banget. Kalau ada cowok yang mau bantuin, kujadiin pacar deh. Emangnya Roro Jonggrang.

Walau daku juga santai saja urusan pacaran ini (nggak ngoyo banget pengen anaknya punya pacar), dan Taruli lebih memilih sibuk dengan urusan kuliah dan main dengan teman-teman kuliahnya yang dekat, harapanki masalah hati jangan diabaikan (tsah).

Seperti itu, cerita tentang kapan boleh pacaran. Yang lagi baca blogpost ini, kapan boleh pacar? Apa kesan-kesan pertama kali pacaran, cenat cenut kah? Ditunggu cerita-cerita pacarannya di kolom komentar ya.

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

School From Home Tahap 2: Tahun Ajaran Baru 2020

School From Home Tahap 2: Tahun Ajaran Baru 2020

Hari ini, Senin 13 Juli 2020, tahun ajaran baru 2020 - 2021 dimulai. Tapi pembelajaran langsung, tatap muka, belum diberlakukan. Masih pembelajaran online, School From Home (SFH) atau sekolah di rumah tahap dua. Ya, pandemi Covid-19 masih belum ada tanda-tanda bakal...

read more
Banyak Anak Banyak Rezeki, Banyak Masalah?

Banyak Anak Banyak Rezeki, Banyak Masalah?

Banyak anak, banyak rezeki, banyak masalah? Tergantung bagaimana orang atau pelakunya (orangtua terutama) menghadapinya. Di zaman sekarang yang kompetitif, satu anak, dua, lima atau lebih, tetap harus dinafkahi kan, harus dirawat dan dibesarkan. Sedikit anak ya enggak...

read more

35 Comments

  1. Elizabeth Novi

    Ortu ga pernah memberi batasan jelas sih tapi selalu bilang “nanti pacarannya kalo udah selesai sekolah aja”.. Tapi dari diri sendiri dulu selalu bertekad “punya pacar kalo udah bisa menghasilkan duit sendiri” nah waktu udah menghasilkan uang sendiri, merasa belum siap untuk menjalin sebuah hubungan khusus, ya sekalipun sempet ya ngalamin pedekate2 gitu. Ga kerasa, sekarang sudah usia 27 tahun dan belum punya pacar. Tidak pernah menyesal untuk melewatkan masa sekolah tanpa pacaran sih, rasanya jadi lebih maksimal untuk keluarga aja gitu. Nanti sukur2 pengennya ketemu yang cocok langsung dibawa nikah aja 😀

    Reply
  2. acer

    kapan boleh pacaran? nanti aja deh udah lulus sekolah dan udah kerja aja baru boleh? kwwkw

    Reply
  3. Keke Naima

    Huahaha mantan bikin suram. Kalau anak saya yang pertama yang justru lebih terbuka tentang hal ini. Kalau yang perempuan masih cuek 😀

    Reply
  4. abdul

    mau nyoba koment disini… izin koment..

    Reply
  5. nyi Penengah Dewanti

    Menyenangkan ya mba punya anak gadis begini hahaha, aku jadi bayangin kalo punya anak nanti
    ya jadi ingat juga waktu saya masih remaja wakaka, aku nggak seterbuka itu sama ibuk tapi malah sekarang apa-apa ceritanya ke ibuk. Seneng kalo punya ibuk yang terbuka gini. jadi kayak temen.

    Reply
  6. Uniek Kaswarganti

    Aku terus terang mengalami masa-masa suram ketika sekolah, Mba. Pembawaanku jauh banget dari sekarang. Dulu tertutup banget dan kebetulan tampang juga pas-pasan hahaha… Mana ada cowok yang sukak sama cewek tertutup dan muka butut. Duuhh tragis. Baru pas kuliah, karena muka sama-sama bututnya, ada juga yang naksir. Ya suamiku sekarang itu. Saling mengayomi sesama butut lah hahaaa…
    Nah kalau sulungku, kayaknya dia udah ada yang naksir. Terakhir ketemu iseng-iseng kubecandain, nanyak lah aku masak sebening dia kagak ada yang naksir. Ada sih bu, gitu katanya, tapi aku ga mau macem-macem. Hmmm… enggak macem-macem tapi diarynya penuh puisi cinta, apaan tuuuh… Hehehee… mulai pusing nih soal asmara. Duh, pelajaran seorang ibu yang punya anak abege udah beda lagi ya.

    Reply
  7. aliyanabila

    susah kalau anak di larang tuh,, malas sembunyi2 di belakang, harus tetap di awasi

    Reply
  8. Liza

    aku pacarannya setelah nikah kak Injul…tsaaah. iya, sama suamiku dulu cuma temenan, terus pas doi bilang mau lebih, yaudah aku ga mau pacaran2, maunya nikah terus, yaudaah langsung deh ke pelaminan.

    Reply
    • Indah Julianti Sibarani

      Nah, maunya anakku juga seperti ini. Semoga samara selalu ya Liza.

      Reply
  9. Widya Lim

    aku dari SD udah punya pacar WKWK.. jadi cerita seru untuk adik dan keluarga dan jadi bahan bercandaan XD Tapi ortu aku emang gak ngelarang sih, asal nilai tetap bagus dan bisa jaga diri, fine2 aja.. aku juga ke anakku akan kasih pendidikan ttg pacaran kelak, jadi dia bisa memutuskan sendiri kapan mau pacaran 😀

    Reply
    • Indah Julianti Sibarani

      Toss dulu sama Widya 🙂

      Reply
  10. Atisatya Arifin

    Aku dulu pertama kali pacaran pas SMA sama temen satu tempat les (tapi dia udah kuliah sih). Hubungan backstreet bertahan hampir 7 tahun, udah punya planning mau nikah juga tapi gak dapat restu dari kedua belah pihak. Akhirnya kandas dan aku ketemu jodoh (pak suami) lewat kontak jodoh online (panjang deeh ceritanya). Lucunya, setelah aku putus dengan mantan, kami malah punya hubungan baik. Malah sampe jadi partner kerja juga (tentunya dengan restu pak suami yaa). Anak-anakku masih panjang kayanya sampai ke tahap pacaran, tapi aku berharap sih mereka nggak pacaran. Langsung nikah aja. Hehehe.

    Reply
    • Indah Julianti Sibarani

      Harapan banyak orang tua seperti itu ya, langsung menikah 🙂
      WUih lama juga ya backstreetnya.

      Reply
  11. Desri Desri

    Hmm menarik banget mak, kalo aku pas SMA ngga pacaran cuma deket sama satu cowok tapi aku bikin perjanjian sama dia, macam ngga boleh bilang sayang, ngga boleh deket nempel2, ngga boleh sms aneh, kalo serius ketemu lagi pas lulus kuliah, dan kita jadi berkompetisiutk sukses lebih dulu mak. tapi namanya cowok, mana bisa sih digituin, dia butuh status doang depan temen2nya udah punya pacar alias “laku” jadi dia malah balik benci aku dan pilih pacaran sama cewek lain. yaudah BYE, sampe akhirnya ku kuliah pun udah ngga pernah kontekan dan yaudah dia ku anggap butiran debu aja, hihihi

    surprisingly, setelah lama gak jumpa, ternyata dia datang ke rumah setelah sama2 lulus kuliah, dia bilang mau nebus janjinya dulu. Eh, aku udah punya pacar lah, plis deh masa udah kuliah masih pilih jomblo kan gak seru ya, gak heboh gitu kalo gosip bareng temen satu geng hihihi. tapi namanya jodoh ya biar ditolak dg cara apapaun tetap aja ketemu lagi dan sekarang jadi suami. kalo inget rasanya pengen nimpuk nih sekarang juga, sekian curhatan pagi ini hihihi ~

    Reply
    • Indah Julianti Sibarani

      hahaha, curhatan yang bergizi, jadi nambah deh bekal aku sebagai orang tua 🙂

      Reply
  12. Rach Alida Bahaweres

    Keterbukaan ama anak tuh emang penting banget termasuk urusan pacaran. Saya lebih nyaman kalau saya tahu pacar anak saya siapa. Dan biasanya saya save nomor hape mereka dan sering komunikasi juga mak. Tapi lebaynya, pas anak putus, jadi ikutan syedih. Heheh

    Reply
    • Indah Julianti Sibarani

      Hahahaha, dilema orang tua ya begitu ya.

      Reply
  13. floren

    bener banget, setuju nih sama ceritanya. Gapapa berteman, yang penting tidak kelewat batas, apalagi sampai celup celupan >.<

    Reply
  14. Melissa Olivia

    Auto mikir 15 tahun lagi pas anakku uda abege dan nanya hal ini gimana yaaa… hahahaha… tapi aku sama suami juga kayaknya baru bakal izinin pacaran pas SMA deh, tapi ga mau yg ketat banget ngelarang gimana, takut anaknya malah nekat backstreet dan kita ga tau apa yang terjadi kan??? Amit2* yang jelas kedua pihak harus sudah paham arti pacaran itu apa dan bisa bertanggungjawab baik atas diri sendiri maupun sama orang lain.

    Reply
    • Momtraveler

      Ortu ku dulu terutama mama sangat keras soal pacaran ini mbak, ga ada tawar menawar deh makanya kalo pqs naksir2 cowok ga berani cerita mereka. Sempet backstreet juga tapi akhirnya capek sendiri. Belajar dari pengalaman aku biasakan terbuka sama anak, menclba memahami pikiran dan psikologis mereka. Aku bilang sama si kakak naksir2an boleh lah namanya juga perasaan (anak SD sekarang ceritanya cinta2an mulu, pening lah mamak mikirnya) tapi kalo pacaran no krn tegas dalam agama dilarang. Nanti kalo kakak udah besar, kuliah udaj selesai ada cowok yg baik, bismilah langsung nikah aja wes.
      Makasih ya mbak postingan2 tentang anak abege ini nambah ilmu banget buat aku yg lagi memasuki tahap yg sama

      Reply
  15. Tian lustiana

    Kalau Neng Marwah dia bilang, saya mau pacaran nanti saja pas selesai kuliah, kerja dan nikah aja. KAta kakek kan harus gitu. Ternyata dulu ketika kakek buyutnya kasi nasihat itu dia ingat terus hehe, tapi ya namanya anak2 suka lucu kalau nanya masalah pacaran. Thanks sharingnya makpuh.

    Reply
  16. Mellisa

    Kalau menurut aku sebaiknya ngga usah pacaran sih, sampai tiba nanti ketemu orang yang tepat dan langsung niat serius. Hehe.

    Reply
  17. Elliza Efina - www.rajnikala.com

    (((((karena mantan itu bisa bikin suram kehidupan))))) wkwkwkwkw :)))))
    Bener sih itu, Mak. Apalagi yang dulu putusnya nggak baik-baik, karena diselingkuhi misalnya. Wah, super serem sih kalo itu, Mak.

    Reply
  18. Herva Yulyanti

    Huah aku kapan pacaran? zaman SMA tpi ga pernah ketemu krn pacarnya kakak kelas kuliah jauh cuman tlp sama surat wkwkwk

    Akhirnya diputusin krn aku sibuk sekolah buat kejar UMPTN, pas kuliah ditembak dan diputusin juga dia yang mutusin dia yang selingkuh nasipku rekkkk 😀

    Akhirnya pacaran lama 7 th namun kandas begitu saja sampai akhirnya suami melamar setelah 6 bln kenal huhuhuhu

    Reply
  19. Dwi Puspita

    Wah beda2 ya jawaban setiap orang. Kalau aku sendiri pacaran dulu sembunyi-sembunyi makpuh. Soalnya daku tau, ortuku bakalan gak bolehin aku…hehehe. Alhamdulillah pas lulus kuliah dan kerja baru deh tak kenalin pacarku ke ortu 🙂

    Reply
  20. winda - dajourneys.com

    pacaran menurut saya sudah boleh dilakukan saat kita sudah mulai bisa bertanggung jawab, bukan sekedar makan dan pulang bareng, jadi walau pacaran tidak akan merusak prestasi juga merubah kegiatan sosial kita sebelum berpacaran 🙂

    Reply
  21. Rizka

    seru banget ya bisa share soal pacaran sama anak. tapi sebaiknya emang gak dilarang sih, tp dikasih pengertian kapan saatnya bisa pacaran biar gak sembunyi2 gitu ya. karena dulu aku pernah backstreet dan rasanya gak enak banget haha. thanks for sharing, artikelnya unik 🙂

    Reply
  22. Farida Pane

    Aku dulu diizinin pacaran kalau udah umur 17 tahun.
    Tapi kalau buat anak2ku sekarang, aku dan suami sepakat ga bole pacaran. Kalau suka harus berani hadapi ortunya langsung, ngelamar, nikah. Hihihi…

    Reply
  23. Farida Pane

    Aku dulu diizinin pacaran kalau udah umur 17 tahun.
    Tapi kalau buat anak2ku sekarang, aku dan suami sepakat ga bole pacaran. Kalau suka harus berani hadapi ortunya langsung, ngelamar, nikah. Hihihi…

    Reply
  24. Vicky Laurentina

    Saya ketawa-ketawa ngakak baca ini.. soalnya saya inget pengalaman saya sendiri.

    Saya pacaran pertama kali pas SMP. Mantan saya banyak, sebelum akhirnya pacar terakhir jadi suami saya.
    Tapi, di tiap pacar, selalu ada cerita pelajaran sendiri-sendiri.

    Saya nggak dibolehin pacaran waktu sekolah. Tapi nggak pernah dikasih tahu kenapa. Ortu saya adalah tipe “pokoknya ngga boleh”. Karena saya jadi penasaran, makanya saya backstreet.

    Pas saya pacaran pertama, saya nggak tau pacaran itu mesti ngapain. Duduk duaan doang di kantin? Terus kalo berantem, siapa yang kudu minta maaf duluan? Apakah saya kudu minta traktir bakso, atau saya boleh bayar sendiri-sendiri supaya tetap mandiri? Dan segudang pertanyaan remeh lainnya.

    Pas pacar ketiga, saya mulai belajar komitmen. Tapi meskipun status “jadian”, ternyata saya dan pacar jarang komunikasi. Itu menjadi luka, sehingga kami putus.

    Pada pacar kelima, komunikasi yang jujur dengan orang tua bahwa kami pacaran ternyata malah membawa masalah. Ortu marah-marah dan kemarahan mereka cukup mengacaukan kinerja kami yang waktu itu masih kuliah.

    Baru setelah pacar terakhir, saya belajar ambil keputusan sendiri, menentukan cara hidup sendiri, mengkomunikasikan kepada ortu bahwa saya punya pacar, dan akhirnya hubungan kami direstui hingga menikah.

    Jadi, saya belajar bahwa ternyata bukan masalah ijin nggak ijin dari ortunya, tapi apakah remaja itu tetap merasa nyaman berkomunikasi dengan ortunya meskipun ia sedang belajar untuk berpasangan. Jangan sampai anak dilarang pacaran, tapi jadi backstreet karena merasa pilihan seleranya ditolak sama ortunya.
    Dan remaja juga sebaiknya tahu, dalam hidup berpasangan itu mesti ngapain. Pacaran adalah belajar menyokong pasangannya secara fisik maupun emosional. Karena kalau dia nggak bisa menyokong suasana hati pacarnya, agak mustahil juga dia akan bisa mempertahankan komunikasi dengan pasangannya bila sudah berumahtangga kelak.

    Saya sih lebih senang jika dulu waktu saya punya pacar pertama, ortu saya mau ngajarin bahwa pacar itu harus berfungsi sebagai orang yang menyokong emosi kita dalam segala situasi (nyemangatin belajar, bikin proyek sosial bersama, tetap memuji kita cantik biarpun muka kita lagi kayak jeruk purut), bukan cuman buat nemenin makan bakso di kantin doang.

    Reply
  25. Ratna

    Beneran deh, ini salah topik seru dibahas sama anak-anak. Pertama kali diskusi ini sama anak gadis waktu dia SD kelas 6 gegara ada kawannya yang ngajak nonton. Sekarang anaknya udah kuliah semester V. Otomatis topiknya pun berkembang sesuai sikon 🙂

    Reply
  26. Lidia

    Bapakku tipikal org diem dan ga komentar sih mbak Indah, Tp selalu bilang ” kalo hubunganmu dg org tidak menambah prestasi, malas² dan jadi bodoh ya buat apa ”

    Bapak paling keras melarang anak-anak ceweknya bawa temen cowok ke rumah apapun itu kepentingannya wkwk kecuali memang kepentingan utk meminang. Kalo belajar kelompok ya belajar di rumah org lain wqwq

    Pun ibu juga gt. Dulu waktu SMA pernah bilang ” buk aku pacaran sama si A ” niat jujur malah dimarahin
    ” laiya pacarmu itu kok cuma lulusan SMA blabla ” .. lalu aku trauma ?

    Sejak kejadian itu ku jadi banyak mikir, banyak milih. Banyak catatan

    Setelah kejadian pacaran yg penuh diam-diam itu, akhirnya yg terakhir ini ku putuskan orang tua mesti tahu. Sempat dilema juga bakal ditanyain apalagi dan kritik apalagi, utgnya waktu itu cuma ditanya ” habis lulus S1 ngapain dia ? Orangtuanya kerja apa ? Dll ”

    Makanya ku paling suka banget hal-hal beginian cerita sama Mba Indah wkwk

    Sekian mbak curhatku hahah

    Reply
  27. Ima satrianto

    Masa muda adalah masa yang tidak terulang kembali, semua ceritanya berkesan jadi pelajaran. Kalau ga dibolehin, malah penasaran. Dilarang kayak disuruh, hahaha. Selamat menjadi sahabat anak gadis ya kak Indah, flasback ke aku, cerita pacaran dan backstreet itu seru! Untung udah pernah zaman masih muda, skrg ga penasaran,hahahaha.

    Reply
    • Indah Julianti Sibarani

      Hihihihi, cerita-ceritamu jadi bekal juga buatku sebagai orang tua, kalau anak tuh mesti didengarin juga biar nggak backstreet.
      Terima kasih sudah berbagi ya.

      Reply
      • Ima satrianto

        iya kak, selamat menjadi sahabat untuk tiga sahabat perempuan di kehidupan kakak ya. Seru-seru asyik. Apalagi zaman udah berganti, akan lebih mudah ngepoin anak2 tanpa bertanya langsung, cukup liat igS atau statusnya. hihihihi

        Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories