Boleh Nikah Muda, Asal…

by Aug 12, 2016Inspirasi, Keseharian, Parenting17 comments

 

Iya. Boleh kok kalau mau nikah muda, asal …

Siap Jiwa dan Raga!

Berani bertanggungjawab dan berkomitmen!

Bukan karena ingin “melarikan diri” dari masalah keluarga, dan bukan karena sekadar melampiaskan “nafsu” ingin cepat-cepat resmi.

Itu yang saya katakan ke Taruli, putri sulung kami, ketika ia melontarkan pernyataan ajaib, ingin menikah di usia 20 tahun. Pernyataan yang dikemukakannya saat usianya 14 tahun, masih bersekolah di kelas 8 MTS PPM Assalam Solo.

Pernyataan yang saya ingat kembali saat dunia digital heboh dengan pernikahan muda dari seorang anak muda yang kebetulan terkenal karena Bapaknya Terkenal.

Pernyataan yang ingin saya ceritakan kembali karena terinspirasi dari Blogpost Ade Delina Putri tentang Sisi Lain dari Menikah Muda, yang bukan sekedar trend.

Cerita Lain Tentang Taruli: Doa yang Terkabul

 

 

Nikah Muda2

Boleh Nikah Muda, Asal…

Sejujurnya, meski kaget dengan pernyataan Taruli tentang keinginannya menikah di usia 20 tahun, saya tidak masalah dengan nikah muda. Walau tidak menikah di usia muda (menikah saat umur 27 tahun), saya sudah terbiasa dengan pernikahan muda.

Adik-adik saya (empat orang) kebetulan menikah di usia muda. Dua adik perempuan saya menikah di usia 20 dan 22 tahun. Dua adik laki-laki menikah di usia 24 dan 22 tahun. Yup, saya menikah setelah dua adik perempuan saya menikah lebih dulu.

Btw, nikah muda versi saya ini adalah menikah di usia 20 tahun ya. Menikah setelah menyelesaikan pendidikan formal setara SMA, sambil kuliah atau setelah menyelesaikan kuliahnya.

 

Mengapa adik-adik saya menikah di usia 20 tahun ke atas?

Almarhumah Mama adalah orang yang selalu menyarankan kami untuk menikah di usia muda karena pengalamannya menikah di umur 27 tahun, memiliki anak pertama (saya, Indah Julianti) di usia 29 tahun, dan pontang pantingnya mengurusi lima orang anak di usia 40 tahun lebih sambil bekerja di luar rumah pula.

Dan ketika saya, menjadi anak perempuan satu-satunya yang belum menikah sampai usia 24 tahun (batas usia menikah versi Mama), almarhumah Mama selalu uring-uringan. Berbagai usaha dilakukan supaya saya segera menikah, termasuk menjodohkan saya dengan anak teman-temannya, anak saudara dekat, bahkan dengan Pariban (keluarga yang bisa dinikahi dalam adat Batak) saya.

Berkaca dari pengalaman yang saya alami itulah, nikah muda buat saya bukan masalah besar dan nggak perlulah dipertentangkan.

Cerita Lain Tentang Taruli: Melukis Rindu

 

Nikah Muda3

 

Yang Saya Tanamkan Soal Nikah Muda

Dan seperti yang saya tuliskan di paragraf pertama postingan ini, kami sebagai orangtua mengizinkan Taruli menikah di usia muda, asal…

  • Taruli sudah siap jiwa dan raga, karena menikah bukan sekadar status tapi juga tentang perasaan, hati.
  • Menikah tidak hanya tentang bersenang-senang dan bahagia, tapi juga kerja keras untuk memenuhi keinginan-keinginan atau rencana masa depan keluarga barunya.
  • Bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya, dan siap menerima risiko jika tidak sesuai dengan harapannya.
  • Taruli sudah yakin untuk berkomitmen dengan orang lain beserta keluarga besarnya. Karena menikah bukan hanya tentang dua orang saja, tetapi juga melibatkan dua keluarga besar.
  • Taruli harus paham, bahwa menikah bukan solusi dari mencari kebahagiaan karena di rumah atau di lingkungan keluarga tidak merasa bahagia.
  • Taruli harus benar-benar paham, menikah itu bukan sekadar men-sah-kanย atau melegalkan hal-hal yang dianggap zina.

Selama Taruli paham tentang hal-hal yang saya dan Mas Iwan tegaskan terkait dengan keinginannya nikah muda itu, kami sebagai orang tua tidak akan melarangnya menikah.

Apalagi kalau sesuai hukum di negara Indonesia ini (Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), anak perempuan yang berusia 16 tahun sudah boleh menikah kok. Seperti ini kutipannya:

Pasal 7

(1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

Dan kalau dikaitkan dengan masa reproduksi (sesuai dengan Departemen Kesehatan) adalah umur 15 sampai 49 tahun. 15 tahun diyakini sebagai masa perempuan telah mengalami haid pertama dan 49 tahun adalah sebelum menopause bagi perempuan.

 

Mengapa Nikah Muda?ย 

Dalam perbincangan saya dengan Taruli terkait dengan pernyataannya ingin menikah di usia 20 tahun, kala itu. Ini beberapa bocoran keinginannya ๐Ÿ™‚

  • Enggak mau seperti Inna, yang masih punya anak kecil saat usia 40 tahun (saya melahirkan Tiominar, si bungsu, di usia 37 tahun).
  • Ingin mandiri. Taruli merasa jika ia menikah, akan membuatnya lebih mandiri lagi. Tidak bergantung lagi pada orang tua.
  • Menikah akan mendewasakan pemikirannya, karena harus memutuskan hal yang terbaik buat dirinya.
  • Ingin di usia 40 tahun nanti, sudah lengkap segalanya. Keluarga dan karier.

Seperti itu keinginannya. Keinginan atau cita-cita yang lumrah buat anak usia 14 tahun, kala itu.

 

Nikah Muda4

 

Bagaimana dengan Tanggapan Saya Sebagai Orang Tua?

Walau kaget dengan pemikiran Taruli yang seperti itu. Meski dalam hati saya acak kadul dengan keinginannya itu, di depan Taruli, saya berusaha tampil biasa-biasa saja. Tertawa-tawa mendengar keinginannya.

Enggak, saya enggak mau jadi orang tua yang otoriter, yang langsung menunjukkan ketidaksetujuannya. Kembali, berkaca pada pengalaman saat menjadi anak di usia 14 tahun seperti Taruli, yang berhadapan dengan almarhum Bapak dan Mama, saya berusaha santai menyikapinya.

Saya jelaskan apa yang menjadi keinginan kami orangtuanya. Apa harapan kami, bayangan kami terhadap dirinya. Seperti yang sudah saya tuliskan di paragraf atas.

Saya selalu menekankan ke diri sendiri, bahwa Jaman Saya berbeda dengan Jaman Taruli.

Dulu, saya manggut-manggut saja saat di-cekokiย apa yang menjadi keinginan almarhum Bapak dan Mama.

Saat Taruli?

Dalam setiap keinginan atau harapan kami orangtuanya, harus ada penjelasan panjang mengapa harus begini, mengapa harus begitu!

Era saya adalah televisi tabung, telepon rumah, Snoopy, Hello Kitty, main lompat tali, dan main karet.

Era Taruli adalah televisi flat 3/4 dimensi, handphone/smartphone/gadget dan internet, Kpop, Justin Bieber – Selena Gomez, main Line, Snapchat, Instagram, Ask.fm dan teknologi canggih lainnya.

Jika saya ingin A, Taruli akan mempertanyakan kenapa harus A, kalau dia ingin B.

Kenapa dia harus menjalankan A, dan apa manfaatnya A buat dirinya?

Tidak bisa lagi dan bukan zamannya lagi, anak harus sesuai, seiring sejalan, seiya sekata dengan orang tuanya. Kalau pun seiya sekata, ada proses panjang dalam mencapai kesesuaian.

 

Anak Bukan Boneka Orang Tua

Bukan hal yang aneh lagi dalam keluarga kami, ada perdebatan dalam untuk menghasilkan mufakat. Sebel sih, tapi mau bagaimana lagi? Anak bukanlah boneka yang bisa kita mempermainkan sesuka hati. Anak bukan benda, yang bisa kita utak atik sesuai keinginan kita.

Anak adalah manusia yang mempunyai pemikiran sendiri, keinginan-keinginan sendiri, yang punya cita-cita dan mimpi.

Dan saya tidak ingin, saat dewasa atau berumah tangga nanti, Taruli menyalahkan orangtuanya atas pola asuh yang kami terapkan padanya. Saya dan Mas Iwan ingin menjadi orang tua yang asyik, tapi nggak sok asyik.

Biarkan Taruli menjalani hidupnya seperti air mengalir, yang mencari satu titik untuk menemukan kebahagiaannya. Saat proses mengalir itu, Taruli akan menghadapi berbagai proses seiring dengan waktu.

Jika Taruli ingin nikah muda, silakan, asalkan ia siap menghadapi berbagai perubahan yang terjadi pasca ia menjadi istri atau ibu anak-anaknya.

Menikah bukan sekadar cinta dan emosi sesaat.

Nah, seperti itu deh kira-kira urun pendapat saya tentang nikah muda, yang kebetulan pernah dilontarkan oleh Taruli.

Kembali sih ya ke keputusan keluarga masing-masing orang. Ada yang memang orangtuanya mengizinkan anaknya menikah di usia muda. Nggak sedikit juga yang berkeinginan menikah setelah mapan atau cukup umur.

Kalau Sahabat Blogger bagaimana, ada yang menikah di usia muda atau saat mau nikah muda ditentang orangtua?

Atau sebenarnya sudah cukup umur buat nikah, tapi masih banyak keinginan?

Bagaimana tanggapan teman-teman tentang Boleh Nikah Muda, Asal….

Sharing ya di kolom komentar, atau bikin postingan sendiri tentang nikah muda boleh juga ๐Ÿ™‚

Ditunggu dan terima kasih sudah berkenan mampir di blogpost ini.

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

17 Comments

  1. Tisya Meilina A

    Assalamu’alaikum…

    Saya juga pernah menulis artikel blog tentang masalah menikah muda

    Coba mampir dulu ke blog saya : coretanhatiukhti.blogspot.com pasti ketemu artikelnya ๐Ÿ™‚

    Reply
  2. Nisa

    Yang penting semua hal disiapkan sebaik-baiknya. Karena kalo ekspektasi nikah cuma yg indah2 aja, beneran deh bakal kaget klo udah menjalaninya.
    mempertahankan dan menjaga pernikahan itu yang butuh effort lebih tentunya ^^

    Reply
  3. Seruni

    Menikah muda menjadi pilihan terbaik untuk menghindari pacaran. Idealnyaย sih memang menikah setelah lulus kuliah saja.

    Reply
  4. April Hamsa

    Kalau terlalu muda sebenarnya yg kukhawatirkan organ2 reproduksinya hehehe mikirnya kejauhan yak aku? :))

    TFS Mak Indah Juli ๐Ÿ˜€

    Reply
  5. Ria Lyzara

    Yak. Baru mlipir ke blog bunda dan tertarik sama judul ini tulisan iniii… ๐Ÿ™‚
    kakak perempuan ria semuanya nikah diusia 18-20thn. Ibu ria nikah diusia 17thn. Kalau kakak laki-laki pada diatas 25thn.
    Ria sendiri saat dulu MTs (mungkin juga saat usia 14-15thn an) berkeinginan untuk menikah di usia 21thn ๐Ÿ™‚
    Sekarang udah 23thn aja.hehe
    yap. setuju dengan saran bunda, boleh nikah muda asal …

    Reply
  6. Molly

    Aku sendiri menikah di usia 27 tahun, udah bekerja. Adik-adik juga gitu, ngga ada yang nikah muda. Almh mama dulu nikah pas usia 24, ya ngga terlalu muda juga. Agak deg-degan siy ngeliat sebegitu mudahnya orang memutuskan untuk nikah di usia muda. Ya, walau tingkat kedewasaan ngga diukur dari usia, tapi tetep aja kalo pas ada masalah, yqng muda-muda ini lebih cepet “beraksi” tanpa dipikir matang. Intinya siy, aku ngga anti dengan nikah muda, cuma seandainya aja mereka tau kalo nikah itu tanggung jawabnya gede bangeeet… mungkin bakal pikir ulang untuk mengakhiri masa lajang di usia semuda itu :D.

    Reply
  7. Cahyanto

    Biasanya kaum hawa jalo didaerah saya. Kalo kaum adamnya, nunggu mapan atau setidaknya punya pekerjaan tetap.

    Reply
  8. indah nuria savitri

    Oke dengan berbagai syarat dan catatan tadi makpuh :). Setuju bahwa jaman sudah berubah, tapi urusan hati masih mirip-mirip lah. Taruli beruntung punya ortu yang asyik ๐Ÿ˜‰

    Reply
  9. Irawati Hamid

    di lingkunganku banyak wanita yang nikah muda Mba Indah dan rata-rata mereka belum menamatkan SMA, karena itulah saya gak setuju sama nikah muda bila harus mengorbankan pendidikan karena tidak semua wanita diberi kebebasan oleh suaminya untuk menuntut ilmu setelah menikah

    Reply
  10. Mirna Kei Rahardjo

    Nikah muda boleh asal sudah ada jodohnya hahaha.. canda ya mak…asal niatnya untuk kebaikan bukan gaya-gayaan sehingga memiliki kesiapan untuk dipertanggung jawabkan, karena restu orang tua diberi ketika orang tuanya juga yakin bahwa anak dan calon menantu siap membina rumah tannga.

    Reply
  11. Arinta Adiningtyas

    Dulu waktu seusia Taruli, bayangan saya adalah saya nanti akan kuliah, bekerja dan menikah di umur dua lima. Hihi.. Nyatanya? Saya menikah empat tahun lebih cepat. Alhamdulillah.. ๐Ÿ˜€
    Kebetulan ibu dan kakak saya juga menikah muda, jadi ketika ada yang meminang saya, mereka mendukung dan terlihat bahagia. ๐Ÿ™‚

    Reply
  12. rahmiaziza

    Kalo mbayangin sekarnag beraaat makpuuh, pasti aku akan merasa kehilangan banget.

    Reply
  13. Jia

    Halo Tante Indah, actually usiaku udah cukup u/ menikah (usia 24 masih kategori muda kan, Te?) but.. Kalau Allah belum kasih jodoh masa maksa2 hihi.. Yang paling sip sih, nikah kalau jodohnya sudah datang ke rumah untuk mengkhitbah, dan orang tua mengizinkan ^^ Taruli, smoga nanti jodohnya sholeh yaaa

    Reply
  14. kania

    NIkah itu bukan hanya enaknya saja, tapi ada juga ga enaknya saat ada perbedaan pendapat tentang segala hal jadi emmang harus siap ya mba terutama mentalnya ๐Ÿ™‚

    Reply
  15. Ade Delina Putri

    Yess. Menikah muda boleh saja ASAL ada kesiapan. Dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama seperti Taruli, jawaban ibu saya “Jangan deh, kamu masih oon (alias belum siap haha)” Pas usia 20 saya coba perbaikin diri, lebih mandiri lagi dan semakin banyak baca buku. Qadarullah, Allah mengirimkan jodohnya di usia 22. Dan ibu saya langsung bilang “Yess” Hihi. Akhirnya ๐Ÿ˜€ Finally, saya paham alasan orang tua. Karena kadang memang orang tualah yang mengerti anaknya ๐Ÿ™‚

    Reply
  16. Sri Wahyuni

    Setuju dengan tulisan mak Injul… Saya dulu ngerasa nikah udah tua, usia 26 tahun… Sekarang liat teman2 yang anaknya udah pada gede2 nyesek rasanya….

    Kalo menurut saya nikah muda sah2 aja asal udah siap jasmani dan rohani mak, artinya gak usah egois hrs nempuh pendidikan dl, skrg banyak kok yg nikah dulu kuliah belakangan buktinya juga fine2 aja….
    Ikut ah posting ginian hehehe…..
    Terimakasih kisah inspiratifnya mak Injul

    Reply
  17. Enas Nasrudin

    ya saya setuju kurang lebih seperti itu lah syarat2 untuk nikah muda, org dlu jga pada nikah muda fine2 aja ya..

    cuman masalahnya mungkin kalo zaman sekarang kebanyakan alasan nikah mudah motivasinya yg kurang tepat, btw nice post.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories