Boleh Nikah Muda, Asal…

 

Iya. Boleh kok kalau mau nikah muda, asal …

Siap Jiwa dan Raga!

Berani bertanggungjawab dan berkomitmen!

Bukan karena ingin “melarikan diri” dari masalah keluarga, dan bukan karena sekadar melampiaskan “nafsu” ingin cepat-cepat resmi.

Itu yang saya katakan ke Taruli, putri sulung kami, ketika ia melontarkan pernyataan ajaib, ingin menikah di usia 20 tahun. Pernyataan yang dikemukakannya saat usianya 14 tahun, masih bersekolah di kelas 8 MTS PPM Assalam Solo.

Pernyataan yang saya ingat kembali saat dunia digital heboh dengan pernikahan muda dari seorang anak muda yang kebetulan terkenal karena Bapaknya Terkenal.

Pernyataan yang ingin saya ceritakan kembali karena terinspirasi dari Blogpost Ade Delina Putri tentang Sisi Lain dari Menikah Muda, yang bukan sekedar trend.

Cerita Lain Tentang Taruli: Doa yang Terkabul

 

 

Nikah Muda2

Boleh Nikah Muda, Asal…

Sejujurnya, meski kaget dengan pernyataan Taruli tentang keinginannya menikah di usia 20 tahun, saya tidak masalah dengan nikah muda. Walau tidak menikah di usia muda (menikah saat umur 27 tahun), saya sudah terbiasa dengan pernikahan muda.

Adik-adik saya (empat orang) kebetulan menikah di usia muda. Dua adik perempuan saya menikah di usia 20 dan 22 tahun. Dua adik laki-laki menikah di usia 24 dan 22 tahun. Yup, saya menikah setelah dua adik perempuan saya menikah lebih dulu.

Btw, nikah muda versi saya ini adalah menikah di usia 20 tahun ya. Menikah setelah menyelesaikan pendidikan formal setara SMA, sambil kuliah atau setelah menyelesaikan kuliahnya.

 

Mengapa adik-adik saya menikah di usia 20 tahun ke atas?

Almarhumah Mama adalah orang yang selalu menyarankan kami untuk menikah di usia muda karena pengalamannya menikah di umur 27 tahun, memiliki anak pertama (saya, Indah Julianti) di usia 29 tahun, dan pontang pantingnya mengurusi lima orang anak di usia 40 tahun lebih sambil bekerja di luar rumah pula.

Dan ketika saya, menjadi anak perempuan satu-satunya yang belum menikah sampai usia 24 tahun (batas usia menikah versi Mama), almarhumah Mama selalu uring-uringan. Berbagai usaha dilakukan supaya saya segera menikah, termasuk menjodohkan saya dengan anak teman-temannya, anak saudara dekat, bahkan dengan Pariban (keluarga yang bisa dinikahi dalam adat Batak) saya.

Berkaca dari pengalaman yang saya alami itulah, nikah muda buat saya bukan masalah besar dan nggak perlulah dipertentangkan.

Cerita Lain Tentang Taruli: Melukis Rindu

 

Nikah Muda3

 

Yang Saya Tanamkan Soal Nikah Muda

Dan seperti yang saya tuliskan di paragraf pertama postingan ini, kami sebagai orangtua mengizinkan Taruli menikah di usia muda, asal…

  • Taruli sudah siap jiwa dan raga, karena menikah bukan sekadar status tapi juga tentang perasaan, hati.
  • Menikah tidak hanya tentang bersenang-senang dan bahagia, tapi juga kerja keras untuk memenuhi keinginan-keinginan atau rencana masa depan keluarga barunya.
  • Bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya, dan siap menerima risiko jika tidak sesuai dengan harapannya.
  • Taruli sudah yakin untuk berkomitmen dengan orang lain beserta keluarga besarnya. Karena menikah bukan hanya tentang dua orang saja, tetapi juga melibatkan dua keluarga besar.
  • Taruli harus paham, bahwa menikah bukan solusi dari mencari kebahagiaan karena di rumah atau di lingkungan keluarga tidak merasa bahagia.
  • Taruli harus benar-benar paham, menikah itu bukan sekadar men-sah-kanΒ atau melegalkan hal-hal yang dianggap zina.

Selama Taruli paham tentang hal-hal yang saya dan Mas Iwan tegaskan terkait dengan keinginannya nikah muda itu, kami sebagai orang tua tidak akan melarangnya menikah.

Apalagi kalau sesuai hukum di negara Indonesia ini (Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), anak perempuan yang berusia 16 tahun sudah boleh menikah kok. Seperti ini kutipannya:

Pasal 7

(1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

Dan kalau dikaitkan dengan masa reproduksi (sesuai dengan Departemen Kesehatan) adalah umur 15 sampai 49 tahun. 15 tahun diyakini sebagai masa perempuan telah mengalami haid pertama dan 49 tahun adalah sebelum menopause bagi perempuan.

 

Mengapa Nikah Muda?Β 

Dalam perbincangan saya dengan Taruli terkait dengan pernyataannya ingin menikah di usia 20 tahun, kala itu. Ini beberapa bocoran keinginannya πŸ™‚

  • Enggak mau seperti Inna, yang masih punya anak kecil saat usia 40 tahun (saya melahirkan Tiominar, si bungsu, di usia 37 tahun).
  • Ingin mandiri. Taruli merasa jika ia menikah, akan membuatnya lebih mandiri lagi. Tidak bergantung lagi pada orang tua.
  • Menikah akan mendewasakan pemikirannya, karena harus memutuskan hal yang terbaik buat dirinya.
  • Ingin di usia 40 tahun nanti, sudah lengkap segalanya. Keluarga dan karier.

Seperti itu keinginannya. Keinginan atau cita-cita yang lumrah buat anak usia 14 tahun, kala itu.

 

Nikah Muda4

 

Bagaimana dengan Tanggapan Saya Sebagai Orang Tua?

Walau kaget dengan pemikiran Taruli yang seperti itu. Meski dalam hati saya acak kadul dengan keinginannya itu, di depan Taruli, saya berusaha tampil biasa-biasa saja. Tertawa-tawa mendengar keinginannya.

Enggak, saya enggak mau jadi orang tua yang otoriter, yang langsung menunjukkan ketidaksetujuannya. Kembali, berkaca pada pengalaman saat menjadi anak di usia 14 tahun seperti Taruli, yang berhadapan dengan almarhum Bapak dan Mama, saya berusaha santai menyikapinya.

Saya jelaskan apa yang menjadi keinginan kami orangtuanya. Apa harapan kami, bayangan kami terhadap dirinya. Seperti yang sudah saya tuliskan di paragraf atas.

Saya selalu menekankan ke diri sendiri, bahwa Jaman Saya berbeda dengan Jaman Taruli.

Dulu, saya manggut-manggut saja saat di-cekokiΒ apa yang menjadi keinginan almarhum Bapak dan Mama.

Saat Taruli?

Dalam setiap keinginan atau harapan kami orangtuanya, harus ada penjelasan panjang mengapa harus begini, mengapa harus begitu!

Era saya adalah televisi tabung, telepon rumah, Snoopy, Hello Kitty, main lompat tali, dan main karet.

Era Taruli adalah televisi flat 3/4 dimensi, handphone/smartphone/gadget dan internet, Kpop, Justin Bieber – Selena Gomez, main Line, Snapchat, Instagram, Ask.fm dan teknologi canggih lainnya.

Jika saya ingin A, Taruli akan mempertanyakan kenapa harus A, kalau dia ingin B.

Kenapa dia harus menjalankan A, dan apa manfaatnya A buat dirinya?

Tidak bisa lagi dan bukan zamannya lagi, anak harus sesuai, seiring sejalan, seiya sekata dengan orang tuanya. Kalau pun seiya sekata, ada proses panjang dalam mencapai kesesuaian.

 

Anak Bukan Boneka Orang Tua

Bukan hal yang aneh lagi dalam keluarga kami, ada perdebatan dalam untuk menghasilkan mufakat. Sebel sih, tapi mau bagaimana lagi? Anak bukanlah boneka yang bisa kita mempermainkan sesuka hati. Anak bukan benda, yang bisa kita utak atik sesuai keinginan kita.

Anak adalah manusia yang mempunyai pemikiran sendiri, keinginan-keinginan sendiri, yang punya cita-cita dan mimpi.

Dan saya tidak ingin, saat dewasa atau berumah tangga nanti, Taruli menyalahkan orangtuanya atas pola asuh yang kami terapkan padanya. Saya dan Mas Iwan ingin menjadi orang tua yang asyik, tapi nggak sok asyik.

Biarkan Taruli menjalani hidupnya seperti air mengalir, yang mencari satu titik untuk menemukan kebahagiaannya. Saat proses mengalir itu, Taruli akan menghadapi berbagai proses seiring dengan waktu.

Jika Taruli ingin nikah muda, silakan, asalkan ia siap menghadapi berbagai perubahan yang terjadi pasca ia menjadi istri atau ibu anak-anaknya.

Menikah bukan sekadar cinta dan emosi sesaat.

Nah, seperti itu deh kira-kira urun pendapat saya tentang nikah muda, yang kebetulan pernah dilontarkan oleh Taruli.

Kembali sih ya ke keputusan keluarga masing-masing orang. Ada yang memang orangtuanya mengizinkan anaknya menikah di usia muda. Nggak sedikit juga yang berkeinginan menikah setelah mapan atau cukup umur.

Kalau Sahabat Blogger bagaimana, ada yang menikah di usia muda atau saat mau nikah muda ditentang orangtua?

Atau sebenarnya sudah cukup umur buat nikah, tapi masih banyak keinginan?

Bagaimana tanggapan teman-teman tentang Boleh Nikah Muda, Asal….

Sharing ya di kolom komentar, atau bikin postingan sendiri tentang nikah muda boleh juga πŸ™‚

Ditunggu dan terima kasih sudah berkenan mampir di blogpost ini.

17 Comments

  1. Tisya Meilina A June 27, 2017
  2. Nisa October 3, 2016
  3. Seruni September 9, 2016
  4. April Hamsa August 29, 2016
  5. Ria Lyzara August 29, 2016
  6. Molly August 29, 2016
  7. Cahyanto August 26, 2016
  8. indah nuria savitri August 25, 2016
  9. Irawati Hamid August 25, 2016
  10. Mirna Kei Rahardjo August 25, 2016
  11. Arinta Adiningtyas August 24, 2016
  12. rahmiaziza August 24, 2016
  13. Jia August 24, 2016
  14. kania August 24, 2016
  15. Ade Delina Putri August 24, 2016
  16. Sri Wahyuni August 24, 2016
  17. Enas Nasrudin August 24, 2016

Leave a Reply