Memburu Napas di Borobudur

Dengan langkah tegap, kaki-kaki kecil itu menaiki undakan-undakan candi. Sesekali tawa riangnya terdengar, manakala sarung batik yang dikenakannya menghambat langkah menuju puncak. “Ayo, bisa nggak? Udah capek belum?” tanyaku. Wajah berbentuk bulan itu menggeleng dengan keras. Tanpa ragu, langkah kakinya semakin mantap menaiki undakan. Satu persatu ditapakinya. Di pertengahan undakan, mulai terdengar napas memburu. Saling… Continue reading Memburu Napas di Borobudur