3 Cara untuk Menjadi Orang Tua yang Positif bagi Anak Remaja

Sahabat Blogger dan pembaca setia blog Cerita Cinta Cita, masih ingat masa remajanya dong ya. Kenangan dari masa remaja seperti apa yang paling berkesan? Kalau daku yang paling berkesan itu masa-masa SMA. Masa-masa penuh huru hara, baik di sekolah atau di keluarga sendiri. Kalau diinget sekarang ini, saat sudah menjadi orang tua, pengen pentokin kepala ke tembok. Kelakuan apa kabar, kelakuan?

 

3 Cara untuk Menjadi Orang Tua yang Positif bagi Anak Remaja

Momen-momen di mana daku sudah merasa gede, dan nggak cuma mengekor orang tua doang.  Sudah merasa punya mau, sudah merasa bisa memilih. Meski orang tua banyak melarang, bahkan guru-guru pun ikutan.

Inget nggak, kita suka sebel sama guru-guru. Mereka itu seneng banget kasih pekerjaan rumah, seakan nggak rela kalau muridnya di rumah hanya santai-santai saja. Belum lagi nih, guru itu senang banget ya menghukum, belum sah belajar di sekolah tanpa kena hukum atau disetrap.

Dan orang tua masa itu, mereka senang sekali melarang, seolah semua hal di dunia ini pantang dilakukan. Boleh sih pergi atau main ke rumah teman atau main ke acara pameran buku setelah pulang sekolah, tapi sebelum Ashar atau Maghrib sudah harus di rumah. Kalau telat, siap-siap saja disuruh berdiri, angkat satu kaki dan dua tangan memegang kuping. Berdiri dengan satu kaki selama dua jam, apa nggak bikin pegel dan nangis dalam hati.

Paling sadis versi daku, hukuman yang diterima karena pergi main tanpa izin dan sampai rumahnya telat pula, hampir jam 9 malam, dapat hukuman bersihin kamar mandi sampai kinclong, plus nguras bak mandi yang lebarnya minta ampun.

Kapok? Kapok pulang malam banget sih iya. Tapi tetap deh kelakuan masa remaja daku tuh nggak hilang sampai tamat sekolah.

Dan… Jalan Ninjaku menuntun kembali pada masa-masa penuh huru hara itu. Di masa kini, masa sekarang, di era anak-anak Gen Millenial dan Gen Z. Masa daku menjadi orang tua dengan dua anak remaja, dan satu anak yang kepengen banget jadi remaja padahal usianya masih 10 tahun.

Yuk bercermin. Apa kabar, kita yang menjadi orang tua anak remaja zaman now ini?

Bisa enggak kita menjadi orang tua yang asyik bagi mereka? Orang tua yang tidak menerapkan banyak aturan dan membolehkan mereka untuk melakukan hal-hal sesukanya? Hayo, bisa enggak?

Bisa dong ya. Dengan 3 cara ini, kita berusaha menjadi orang tua yang positif bagi anak remaja.

1.  Cara pertama, kita menjadi orang tua yang mudah berkompromi

Tidak hanya anak-anak, tapi semua suka dengan orang yang mudah diajak kompromi. Maka jadilah orang itu di hadapan anak-anak.

 

Menjadi Orang Tua

Walau hati mendidih, mulut udah pengen mengeluarkan kemarahan, tersenyumlah penuh maklum, jika mereka melanggar aturan di rumah maupun di sekolah, jangan keburu dihakimi dan mengambil tindakan. Usahakan tersenyum juga, saat mereka melemparkan argument-argumen yang defensif dan penuh siasat. Senyum saja sambil mengenang bahwa di suatu masa lalu, kita pun pernah melanggar aturan dan bicara dengan penuh pembelaan.

Senyum yang maniiis 🙂

Setelah tersenyum maklum dan sang anak remaja mulai nyaman dengan dirinya sendiri, barulah ajak ia untuk berbincang hangat. Tanyakan apa yang menjadi alasannya hingga ia melanggar, dan bicaralah dengan lembut agar ia berani mengungkapkan.

Amati dia yang sedang punya masalah itu dengan penuh sayang, dan sadari bahwa dia hanyalah seorang anak remaja yang mencoba mengekspresikan dirinya. Tidak lebih.

Dari obrolan penuh pengertian, maka dia akan berani mengajukan tawar-menawarnya. Selanjutnya, bernegosiasilah dengannya untuk sebuah kompromi yang menguntungkan semua pihak.

Susah? Iya, susah. Emang susah banget, dan butuh latihan bertahun-tahun untuk senyum penuh maklum itu.

 

2. Sahabat yang asyik

Ketika masih kecil, anak-anak masih mau dicium dan dipeluk-peluk di depan teman-temannya. Saat remaja, ada saja perasaan malu mereka terhadap orang tuanya, sehingga tidak hanya menolak dipeluk tapi juga sudah nggak mau jalan bareng.

Anak remaja itu seakan ingin punya dunia sendiri yang bebas dari orang tua, yang hanya ada dia dan teman-teman sekolahnya.

Ya, nggak usah sedih lalu baper menanggapinya, karena memang begitulah fasenya. Yang perlu dilakukan adalah berubah menjadi orang tua yang dinilainya bisa ada juga di dunianya.

Jadilah pendengar yang baik saat sang remaja bercerita tentang teman-temannya, karena mereka adalah tokoh-tokoh yang penting dalam hidupnya. Selami hal-hal yang sedang trending sekarang, sehingga bisa “nyambung” obrolannya. Kenali juga beberapa selebriti yang disukai, dan pemain-pemain olahraga yang terkenal.

Butuh usaha memang, tapi layak dicoba. Setelah punya cukup “wawasan” yang sesuai, maka kita pun akan dianggap pantas untuk berada di dunianya. Kalau sudah begitu, kita tidak hanya akan jadi sahabat yang asyik baginya, tapi juga bagi teman-temannya.

Alhamdulillah sih, meski sering bertengkar atau debat kusir, Taruli, si sulung, masih mau bercerita apa saja termasuk cerita tentang pergaulannya (teman-teman), juga cerita tentang ketika dia suka sama seseorang, walau saat bercerita dia wanti-wanti: Inna dengarin cerita aku saja, nggak usah komentar, aku nggak butuh dikomentari.

 

3. Tetap menjadi orang tua yang pantas dijadikan panutan

Bagaimanapun juga, walau bisa diajak kompromi dan berteman dengan baik, kita tetaplah orang tua bagi sang anak remaja. Ia tetap butuh panutan dalam berpikir, berbicara, dan berperilaku.

 

Menjadi Orangtua

Jadi saat sedang memainkan peran keseharian, seriuslah menjalankannya. Tetaplah berpikir layaknya orang dewasa yang bijak, saat masalah-masalah datang. Menenangkan adik yang rewel, misalnya, atau menentukan mana yang harus diantar terlebih dahulu saat mobil jemputan tidak datang.

Lalu bicaralah sebagaimana halnya orang tua, yang penuh wibawa dan (sok) bijak. Ini penting, karena bagaimanapun, kita ini sudah pengalaman menyiasati hidup ketimbang mereka kan?

Bersikap sewajarnya pada mereka tanpa dibuat-buat, sehingga sang anak remaja meniru apa yang adanya dari kita. Kalau sampai ada pemikiran, perkataan atau perbuatan kita yang rasanya tidak pantas ditiru, katakan dengan jujur padanya bahwa kita melakukan kesalahan, dan minta maaf. Nggak perlu malu malu apalagi pakai gengsi, karena itu adalah bagian dari panutan.

 

Menjadi orang tua yang sempurna? Nggak akan bisa. Sadari saja, bahwa nggak mungkin kita jadi sempurna, sehingga dengan demikian tidak ada juga anak yang sempurna. Ada saja kekurangan kita, yang bisa jadi juga merupakan kekurangan orang tua kita dulu, yang akan membentuk karakter anak remaja kita dengan segala kekurangannya.

Tapi hidup adalah pembelajaran yang tanpa akhir, bukan? Jadi tetaplah belajar bersama sang anak, sambil terus berusaha menjadi panutan yang positif baginya.

Sahabat Blogger dan pembaca setia blog ini, terutama yang sudah punya anak remaja, sharing dong cerita-cerita kebersamaan dengan anak remajanya? Apa yang dilakukan untuk menjadi orang tua yang asyik bagi anak-anak.

26 Comments

  1. mas andy September 30, 2019
  2. Wenny kumala tendean September 13, 2019
  3. Leyla Hana September 9, 2019
  4. Damar Aisyah September 9, 2019
  5. Herva Yulyanti September 9, 2019
  6. Uniek Kaswarganti September 7, 2019
  7. Dudukpalingdepan September 7, 2019
  8. Nova Violita September 7, 2019
  9. Erin September 7, 2019
  10. Andiyani Achmad September 7, 2019
  11. Kartika Nugmalia September 7, 2019
  12. April Hamsa September 7, 2019
  13. Widyanti Yuliandari September 7, 2019
  14. Khoirur Rohmah September 7, 2019
  15. Ainhy Edelweiss September 7, 2019
  16. HM Zwan September 7, 2019
  17. Dedew September 7, 2019
  18. Neti Suriana September 7, 2019
  19. Sulis September 7, 2019
  20. fillyawie September 7, 2019
  21. Suciarti Wahyuningtyas September 7, 2019
  22. diane September 6, 2019
  23. Nanik Nara September 6, 2019
  24. Diar Ronayu September 5, 2019
  25. Inna Riana September 5, 2019
  26. Lidya September 5, 2019

Leave a Reply