Wisata Banyuwangi: Menikmati Segala yang Ada

“Ngapain sih ke Banyuwangi?” tanya seorang teman saat saya mengutarakan rencana jalan-jalan saya dengan si bungsu, Tiominar, di pertengahan bulan Oktober 2017 ini.  “Menikmati segala yang ada di Banyuwangi. Tanpa lelah.”

Kami lalu tertawa terbahak-bahak, mengingat saya itu orang yang mudah lelah, gampang putus asa, selalu mengeluh, dan segala kelemahan yang versi teman saya itu, nggak bakal bisa diperbaiki, seiring bertambahnya usia. “Loe itu ya, senang banget menyusahkan diri sendiri. Jalan-jalan itu yang deket-dekat aja, yang nggak pakai capek. Nggak kapok apa saat ke Jombang?”

Saya cuma mesem-mesem saja.

 

Pengin ke Banyuwangi

Banyuwangi. Terlintas pikiran ingin berkunjung ke Banyuwangi saat melihat e-flyer Festival Banyuwangi 2017 yang bertebaran di timeline Twitter saya. Agenda wisata yang keren saat melihat rundown e-flyer itu. Iseng saya bertanya ke Rifqi Papanpelangi, tentang festival tersebut. Rifqi sudah pernah ke Banyuwangi, bahkan pernah hadir di Festival Banyuwangi untuk melihat Festival Gandrung Sewu yang fantatis itu.

Kala itu niat saya ingin pergi sendiri ke Banyuwangi. Namun Rifqi menyarankan untuk mengajak teman blogger dari Yogyakarta, biar perjalanan seru. “Mbak Sha (ranselhitam.com) itu pengen banget ke Banyuwangi. Bahkan sudah janjian dengan Alannobita (blogger yang bekerja dan tinggal di Banyuwangi),” ungkap Rifqi.

Saya lalu menghubungi Sha, yang rupanya berniat ke Banyuwangi dengan bRe, anak semata wayangnya. Wah, menarik juga nih kalau bawa anak-anak ke Banyuwangi, biar ada teman bRe. Tapi, karena saya tipe ibu yang nggak mau susah ngurus anak (tiga anak pula), saya memutuskan untuk membawa satu anak saja, Tiominar. “Kalian kan sudah sering jalan-jalan sama sekolah dan jalan sendirian, Tio belum,” jawab saya ketika diprotes Taruli dan Kayla.

Menikmati Segala Ada di Banyuwangi

Singkat cerita, setelah berbagai hal yang beruntun terjadi, akhirnya saya dan Tio jadi melakukan perjalanan ke Banyuwangi bersama dengan Aqied (travel blogger Jogja), Aji Sukma, Rifqi dan Anna (temannya Rifqi). Sha batal ikut karena bRe sakit seminggu menjelang keberangkatan ke Banyuwangi pada tanggal 11 Oktober 2017.

 

Ngapain saja di Banyuwangi?

Ya, menikmati segala yang ada di Banyuwangi seperti pantai, air terjun, taman nasional, juga kulinernya.

Rabu malam saya, Tio, dan Aqied berangkat dari Yogyakarta dengan kereta Malioboro Express ke Malang, yang menjadi kota transit kami sebelum menuju Banyuwangi. Malang menjadi titik kumpul karena Rifqi yang akan menjadi guide dan “sopir” kami ke Banyuwangi. Rifqi juga yang membuatkan itinerary selama 4 hari wisata Banyuwangi.

Kenapa nggak langsung ke Banyuwangi dari Yogya dengan naik kereta api Sri Tanjung? Jujur, naik kereta ekonomi dengan jarak tempuh perjalanan yang jauh, saya merasa lelah, apalagi Tio. Saya nggak mau, Tio uring-uringan selama perjalanan.

Kamis menjelang subuh tiba di Malang, dan perjalanan menuju Banyuwangi pun dimulai. Sesuai itenarary, perjalanan ke Banyuwangi, kami akan mampir ke Taman Nasional Baluran, yang disebut-sebut sebagai Little Africa in Java.

 

Beberapa objek wisata Banyuwangi yang sempat kami kunjungi

Baluran National Park

Cerita tentang Baluran akan saya buatkan blogpost khusus. Yang jelas ya, kalau punya rencana jalan-jalan dengan anak-anak, masukkan Baluran ke travel wishlist.

Walau hewan-hewan yang kami temui sedikit (karena musim kemarau), tapi Tio senang di sana, bahkan minta kapan ada waktu kembali berkunjung ke taman nasional yang berlokasi di Desa Wonorejo, Banyuputih, Situbondo ini. Baluran ini jadi destinasi pertama kami saat melintasi jalan raya Situbondo – Banyuwangi.

Menikmati Segala Ada di BanyuwangiPuas bermain dan foto-foto di Baluran (bahkan sempat bermain di Pantai Bama yang indah), kami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi, dan tiba menjelang magrib.

Yaaaay, tiba juga di kota yang kalau di-searching Google, banyak mendapat julukan seperti The Sunrise of Java, Bumi Blambangan, Kota Osing, Kota Gandrung, dan lainnya.

Selama empat hari di Banyuwangi, kami menginap di Singosari Homestay, yang telah dipesankan oleh Alan. Oh ya, akhirnya setelah chit chat di WAG, saya dan Tio bertemu juga dengan pemilik blog travelling http://www.catatannobi.com/  kalau Sahabat Blogger ingin berkunjung ke Banyuwangi, hubungi deh Alan, dijamin puas berkeliling Banyuwangi.

 

Nyicip Nasi Tempong

Malam harinya, kami diajak Alan untuk mencicipi kuliner khas Banyuwangi yang terkenal; nasi tempong. Alan membawa kami ke Nasi Tempong Mbok Nah, yang terkenal seantero Banyuwangi, pecinta kuliner, dan juga para traveller.

Dinamakan nasi tempong, konon katanya setelah makan, kita akan merasa kepedasan seperti orang yang ditempong (ditampar). Buat saya sih, karena senang makanan pedas, ya enak-enak saja, nggak seperti orang ditempong. Hehehe.

Nasi tempong itu terdiri dari paketan nasi, tempe, tahu, perkedel dan sayur, lalu lauk lainnya sesuai dengan keinginan yang mau makan. Kalau lauk saya, telur dadar. Terus, di atas nasi dan lauk itu, diguyur sambal yang warna merahnya mengundang air liur. Nikmat tiada tara.

Menikmati Segala Ada di Banyuwangi

 

Itinerary yang disusun Rifqi, untuk hari kedua di Banyuwangi adalah eksplor ke Taman Nasional Alas Purwo, Sadengan dan Pantai Pulau Merah untuk menikmati sunset.  Sebelumnya kami sarapan dulu di Rumah Makan Jamilah.

Gilak ya di Banyuwangi itu, makan dengan porsi jumbo (menurut ukuran saya), dengan berbagai menu, untuk 7 orang itu nggak sampai seratus ribu. Kalau yang tipe hemat, bisa cepat kaya itu.

 

Taman Nasional Alas Purwo, Sadengan

Seperti Baluran, TN Sadengan akan saya buatkan blogpost sendiri. Kalau kita Googling, Alas Purwo ini tempat wisata yang penuh dengan mistis. Angker.

Nggak tahu sih angkernya di mana, karena kami tiba di Alas Purwo masih pagi, dengan jalan yang agak buruk saat menuju taman nasional itu, namun pemandangannya keren, dan menarik buat foto-foto ala summer.

Di Sadengan, Tio senang karena bisa melihat langsung banteng Jawa (baik yang jantan maupun betina). Sadengan merupakan savana semi alami untuk melestarikan habitat hewan seperti banteng Jawa, Ajag (anjing hutan) dan rusa.

 

Pantai Merah 

Menikmati Segala Ada di Banyuwangi

 

Di pantai Pulau Merah ini kami menikmati perjalanan matahari menuju ke haribaannya. Detik demi detik sinar matahari berubah menjadi kuning lalu perlahan langit memerah, seiring tenggelam di ufuknya.

Buat saya, Pulau Merah yang terletak di Dusun Pancer, Sumberagung, Pesanggrahan, Banyuwangi, sayang kalau dilewatkan kalau kita sudah tiba di ujung Propinsi Jawa Timur ini. Sunrisenya fantastis. Beberapa kali ke pantai yang ada di Pulau Jawa ini, Pulau Merah ini berbeda dari pantai lainnya. Ombaknya relatif aman, nggak tinggi-tinggi amat. Tio saja senang berlari-larian berkejaran dengan ombak. Beberapa peselancar terlihat asyik surfing. Hampir tiga jam kami berada di pantai yang konon mirip dengan Pantai Kuta di Bali.

Sabtu, 14 Oktober 2017, kami bangun pagi sekali karena setelah salat subuh kami akan melihat sunrise (matahari terbit) di Pantai Cacalan, bermain air sampai puas di Air Terjun Jagir dan Jawatan Benculuk.

 

Pantai Cacalan 

https://www.instagram.com/p/BaNJPHNBXjv/

 

Air Terjun Jagir

Wisata Banyuwangi: Menikmati Segala yang Ada

Air Terjun Jagir ini terletak di Kampung Anyar. Masih alami dan belum tersentuh pengelolaan profesional, masih dikelola oleh masyarakat desa setempat.

Tapi, air terjunnya nggak kalah dari air terjun yang sudah terkenal. Air terjun Jagir ini ada tiga sumber air. Satu sumber, terpisah dan tidak bisa bermain-main air di sana. Dua lagi, seperti air terjun kembar yang berdampingan dan asyik buat berenang.

Tio yang sempat kesal karena saat di Pantai Mestika dan Pulau Merah nggak boleh berenang-renang, puas bermain air hingga bibirnya biru di air terjun ini.

Kami sempat menemui beberapa turis bule yang rupanya baru turun dari Kawah Ijen. Lokasi air terjun ini memang dekat dengan Gunung Ijen yang terkenal hingga ke mancanegara itu.

 

Jawatan Benculuk 

Menikmati Segala Ada di Banyuwangi

Wisata kekinian dan Instagramable yang ada di Banyuwangi. Sayangnya, mungkin karena sempat pulang dulu ke penginapan setelah dari air terjun Jagir dan sempat merasakan nikmatnya tempat tidur, saya kurang menikmati tempat wisata yang katanya mirip dengan lokasi setting film Lord of The Rings yang fenomenal itu.

Jawatan Benculuk ini dikelola oleh PT Perhutani. Segala jenis pohon ada di sini. Mulai dari pohon kecil, sedang, besar hingga pohon yang besar-besar, yang seperti raksasa. Hutan lindung ini merupakan tempat menimbun pohon kayu jati dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

 

Pulau Tabuhan

Menjadi destinasi terakhir kami di Banyuwangi sebelum pulang ke Malang. Entah kenapa ya, dalam setiap perjalanan wisata saya, selalu ada drama yang menyertainya.

Cerita tentang Pulau Tabuhan, kalau nggak malas, ada postingan sendiri. Kenangan tak terlupakan buat saya dan Tio ke pulau kecil di Selat Bali ini.

 

Menikmati Segala Ada di Banyuwangi

 

Mengapa nggak ke Gunung Ijen? Kan sudah di Banyuwangi, sayang kalau nggak ngeliat “Blue Fire” kawah Ijen yang tenar itu.

Nanti saja kalau Tio sudah cukup kuat untuk trekking ala-ala pendaki gunung.  Perjalanan saya dan Tio adalah perjalanan untuk senang-senang, menikmati Banyuwangi tanpa lelah.

 

Menikmati Segala yang Ada di Banyuwangi dalam empat hari rasanya kurang

Masih banyak pantai, taman wisata, dan kuliner khas Banyuwangi lainnya yang belum kami nikmati. Kalau turis mancanegara bisa sampai satu minggu bahkan lebih tinggal di Banyuwangi. Apalagi kalau mereka senang berselancar/surfing, karena pantai-pantai di Banyuwangi ini bagus untuk peselancar.

Buat saya dan Tio, ini adalah perjalanan wisata pertama kami (ibu anak) tanpa Mas Iwan, Taruli dan Kayla. Perjalanan wisata pertama saya juga bawa anak dan dengan teman-teman blogger. Banyak suka sih dibandingkan dukanya. Dukanya tuh capek ternyata ya ngurusin anak sendirian. Hahaha. Tapi nggak kapok sih, karena Tio itu anak yang gampang (sedikit ngeselin) bersosialisasi dengan teman-teman saya.

Terima kasih buat Rifqi yang sudah menjadi “supir” dan teman perjalanan yang sabar mulai dari Malang hingga Banyuwangi.

Terima kasih buat Alan, guide dan “tukang foto-foto” kami selama di Banyuwangi. Hampir semua foto di blogpost ini hasil jepretan Alan dengan kameranya yang keren. Sayang, nggak ikut sampai Situbondo ya.

Tak terhingga terima kasih buat Aqied, teman perjalanan dari Yogya, Malang hingga Banyuwangi. Moga sabar dengan segala kejutekan dan keisengan saya. Buat Aji, sudah dua kali jalan bareng Aji dan always amazing 🙂 Juga buat Ana, yang sabar banget menemani Tio, yang kedekatannya bikin iri hati ibunya.

51 thoughts on “Wisata Banyuwangi: Menikmati Segala yang Ada

  1. fotonya keren keren bossque…kadang kalo aku liburan lkadang upa ama foto foto soale udah keenakan nikmatin alam.. tapi kalo dipikir pikir lagi kan sayang jadi g ada kenang kenangan

  2. Thn depan itu sbnrnya jdwal travelingku utk domestik, udh ada jawa timur. Tp msh galau antara surabaya dan sekitarnya, ato ke banyuwangi ini. Kalo wkt pjg sih pgn semua.. Tp cm 5 hr kyknya maksain klo didatangin semua yaa -_-
    Galau.. Udh lama pgn k banyuwangi ini sbnrnya mba.. Nasi tempong itu trutama yg pgn bikin ksana :D.

  3. Saya belum pernah le Banyuwangi, penasaran banget ama kawah Ijen, pantai merah dan baluran 😉 tfs maak

  4. Baru sekali ke Banyuwangi dan ga puaaasss, ga puas karna kurang lama dan masih banyak banget tempat keren untuk dieksplor. Mau ke sana lagi. Wahhh liburannya seru banget ya sama keluarga ke Banyuwangi.

  5. Tanpa lelah, dudududuu. 😀

    Asli, ini refensi banget buat aku yang pingin ke Banyuwangi juga, Mbak. Jadi tahu harus menghubungi siapa kalau sudah di Banyuwangi. Wkwkwk

  6. Kampung halaman bapakku.. Tiap tahun kami selalu ke sini buat natalan. Dari Banyuwangi masih sepi dan gitu2 aja, sampe sekarang yg udah makin rame. Yang enggak nguatin cuma panasnya dan perjalanan daratnya. Dulu masih bisa naik mobil 11 jam, tahun lalu ke sana, udah 15 jam! Saking padatnya jalanan sekarang. >.<

  7. Ah mbak indah kalo mau ke Ijen, skrg bisa pake ojek sampe puncak haha tp mahal sih

    Wah aku masi membayangkan cerita mbak indah, waktu ke Tabuhan di goyang ombak

    Memang mbak, jalan rame-rame lebih seru timbang sendiri. Untunglah bawa pasukan haha

    1. Ayo disempatkan jalan-jalan ke Banyuwangi sama murid-muridnya om Jay 🙂

      Terima kasih sudah mampir ya Om 🙂

  8. Langsung keinget filmnya laudya cintya bella yang di Baluran itu…

    Baluran. Cakep ya mba tempatnya.. tapi klo di situ pas siang/tengah hari..panas bnget ga mba..?

    1. Kemarin sih waktu ke sana karena sih panas banget karena musim kemarau, makanya bawa payung atau pakai topi sih.

    1. Terima kasih banyak mak Lianny, itu yang foto-foto sebagian besar hasil jepretannya Alan, teman blogger di Banyuwangi 🙂

  9. Duh belum pernah traveling tanpa bapak ? Baru mau nyobain November besok tapi masih ketar ketir hihii
    Baluran anak2 pada seneng ya makpuh, itu kayak afrika gitu kan yaa ? Asyik dong ada yg guide dan foto2in ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published.