Mendidik Anak Remaja Perempuan Tanpa Drama

by Jul 29, 2019Keseharian, Parenting38 comments

Punya dua anak remaja khususnya anak remaja perempuan itu sesuatu banget. Rasanya nih, tiada hari tanpa drama. Kadang drama satu babak, lain hari drama tiga kali tayang. Tapi sebenarnya, setiap tahapan hidup anak itu ada tantangannya masing-masing. Misalnya, saat anak-anak usia dua tahun–si terrific two–yang riwil aja apa-apa, lalu ke threenager dengan kesotoyannya. Menginjak ketika mereka mulai SD, saat sudah kenal sama teman-teman baru. Bakalan beda lagi tingkahnya. Lalu, preteen. Dan, selamat, sekarang sudah saatnya mendidik anak remaja.

 

Mendidik Anak Remaja Perempuan Tanpa Drama

 

Sahabat Blogger dan pembaca setia blog Cerita Cita Cinta Coretan Indah Juli, mungkin sudah tau ya, paham kalau daku punya dua anak remaja perempuan yaitu si sulung Taruli dan Kayla, anak nomor dua. Jarak antara Taruli dan Kayla itu sekitar 5 tahunan. Saat mereka kecil (usia TK – SD) terasa sih perbedaan usianya. Tapi begitu keduanya di usia sekolah menengah, nggak ada bedanya. Kelakuan, sikap, suasana hati, tindak tanduk, kesukaan, dan gaya ngobrolnya, nyaris sama. Apalagi mereka memiliki kesukaan yang sama, apalagi kalau bukan urusan per-Kpop-an. Eh tapi Kayla masih lumayan lah, walau menyukai Kpop, Michael Jackson tetap penyanyi idolanya sejak dari SD.

Di beberapa postingan daku, ada cerita-cerita tentang bagaimana riuhnya mendidik anak remaja khususnya anak perempuan seusai Taruli dan Kayla. Perbedaan zaman dan komunikasi jadi salah dua pemicu dalam beberapa interaksi daku dan Mas Iwan terhadap dua anak gadis baru gede itu.

Nih beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak remaja, tapi nggak terkesan memaksa mereka untuk menuruti kita. PS: ini berdasarkan pengalaman daku ya.

1. Lewatkan waktu bersama

Yang namanya anak remaja sudah mulai banyak main dengan teman-teman sebayanya kan? Udah mulai ngerti hangout. Ya nggak masalah sih. Beri saja dia waktu untuk bersosialisasi.

Tapi nggak berarti lantas nggak ada jadwal bersenang-senang bareng keluarga kan? Sekali waktu, atur jadwal supaya bisa melewatkan waktu bersama. Ini wajib banget deh, supaya rasa kita tuh tetap nyambung, meski mungkin anak remaja kita sudah nggak selalu di rumah. Seminggu sekali aja sudah cukup kok, pas weekend misalnya. Yang penting kan kualitasnya.

 

Mendidik Anak Perempuan Tanpa Drama

 

2. Komunikasi adalah koentji

Ngomong sama remaja kadang memang bikin emosi sih. Cuma ya justru di situlah tantangannya. Saat si remaja merasa bahwa kita bisa memahami mereka, bisa mengerti apa mau mereka, maka saat itulah mereka akan lebih terbuka.

Nah, untuk bisa memahami mereka ya komunikasilah kuncinya.

Sebenarnya kita bisa mulai dari satu hal: cari tahu apa minatnya, dan masuk dari situ. Dia sukanya apa? Hobinya apa? Tokoh idolanya siapa? Musik kesukaannya apa? Suka nonton film apa? Dan sebagainya. Kalau kita mengerti apa saja kesukaannya, maka kita sudah masuk ke dalam dunianya.

Lalu buka obrolan dengan hal-hal yang disukainya itu. Biasanya sih dengan begini, komunikasi akan lebih mudah mengalir.

 

3. Pahami masalah mereka

Apa sih masalah mereka? Semoga saja sih masalah mereka adalah masalah yang umum dialami remaja lainnya juga ya. Bukan masalah-masalah yang terlalu pelik deh. Misalnya malas belajar, pengin barang ini itu yang kayak punya temen atau idolanya. Eh, coba deh baca artikel beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh remaja zaman now. Ada kok di blog daku ini. #selaluadacelahuntukpromo

Nah, asal kita paham masalah mereka, dan juga tahu penyebabnya, kita bisa kok deketin dan ajak bicara lagi. Balik lagi deh ke poin kedua di atas memang: komunikasi yang intens.

 

Mendidik Anak Perempuan Tanpa Drama

 

4. Jangan menghakimi pilihan-pilihannya

Namanya anak remaja, selalu ada aja yang bikin nggak cocok. Mereka penginnya anu, kita maunya inu. Kita–sebagai orang tua–pastilah punya maksud baik. Cuma kadang kita terlalu maksa dan kemudian menghakimi pilihan mereka. Kita anggap, pilihan kita selalu lebih baik, tanpa kita mau dengar opini mereka.

Makanya ada anggapan, anak remaja itu suka bantah. Tapi sebenarnya orang tua juga yang jadi penyebab masalah.

Jadi, ayo, kita coba berpikiran terbuka terhadap pilihan mereka. Tanyakan saja, mengapa mereka pilih A, B, C, D. Sejauh hal-hal yang mereka pilih itu akan memberikan manfaat buat mereka, ya sudah, biarkan saja itu jadi pilihan mereka. Namun, kalau ada beberapa hal yang seharusnya mereka pertimbangkan saat memilih tetapi belum, nah, di situ tuh tugas kita. Melengkapi pertimbangan mereka untuk memilih.

Duh, ngomong emang gampang.

 

5. Do random things for them

Paling mudah supaya bisa lebih dekat dengan anak-anak yang masuk usia remaja itu adalah membantu mereka secara langsung.

Misal begini. Mereka terbiasa beresin kamar begitu bangun. Tapi, karena bangunnya terlambat, jadi nggak sempat deh beresin kamar. Ya sudah, ketimbang cuma ngomelin, kenapa bangun telat, atau nyalahin mereka nggak nyalain alarm, dan sebagainya–mending langsung aja bantu mereka. Beresin deh kamar mereka, sementara mereka bersiap sekolah misalnya.

Gitu kan lebih baik? Kita enggak bad mood karena omelan-omelan sendiri, mereka pun juga nggak sebel, pagi-pagi udah dimarahin.

Hal-hal kecil seperti ini perlu untuk kita lakukan setiap hari.

 

Mendidik Anak Tanpa Drama

 

6. Kenalan sama teman-temannya

Nah, ini penting. Supaya bisa menyelami dunianya, penting buat kita untuk tahu teman-teman si remaja. Ya, teman-temannya di sekolah, teman-temannya di les, atau di kegiatan lainnya.

Kalau perlu, ajak mereka main ke rumah, terus kasih deh camilan seadanya. Biasanya anak-anak paling demen main ke rumah teman yang makanannya banyak. Hehehe. Kan, siapa tahu dengan begini, mereka akan lebih suka main ke rumah aja ketimbang berkeliaran di luar sana?

Tapi ini pastinya ya jangan dipaksa. Kalaupun mereka memang suka hangout di luar, ya beri saja kebebasan. Tapi beri mereka pengertian, bahwa bebas itu tak berarti tak bertanggung jawab.

Nah, kalau mereka main keluar, pastinya kita juga lebih anteng kalau kenal sama teman-temannya kan?

 

7. Ingat ulang tahunnya, dan hal-hal lain yang menurutnya penting

Anak-anak itu–meskipun mereka udah pada gede dan remaja–akan seneng banget kalau kita ingat akan segala sesuatu tentang mereka, sekecil apa pun itu. Kayak tanggal ulang tahunnya, jangan sampai lupa deh. Bisa ngambek seharian.

Dengan memberikan perhatian-perhatian terhadap hal-hal yang mungkin kita anggap sepele tapi penting buat mereka, mereka akan benar-benar merasa diperhatikan dan dicintai.

Seperti itu sih kira-kira mendidik anak remaja perempuan tanpa drama. Lumayanlah, dengan praktekkan tip-tip itu, suasana di rumah sudah lebih tenang, jarang ada keributan. Eh masih ada sih keributan, antara dua anak remaja itu vs adik kecil, si bungsu Tiominar, yang pengen dianggap remaja juga. Apalagi nih, usia Tio kan sudah 10 tahun, udah tanya-tanya tentang pubertas. Kapan-kapan deh, daku ceritakan di blog ini ya.

Btw, Sahabat Blogger dan pembaca setia blog Coretan Indah Juli, gimana pengalaman masa remajanya, ada drama juga dengan orang tua?

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

School From Home Tahap 2: Tahun Ajaran Baru 2020

School From Home Tahap 2: Tahun Ajaran Baru 2020

Hari ini, Senin 13 Juli 2020, tahun ajaran baru 2020 - 2021 dimulai. Tapi pembelajaran langsung, tatap muka, belum diberlakukan. Masih pembelajaran online, School From Home (SFH) atau sekolah di rumah tahap dua. Ya, pandemi Covid-19 masih belum ada tanda-tanda bakal...

read more

38 Comments

  1. lendyagasshi

    Bekel buatku ketika kaka masuk usia pubertas nanti, makpuh…
    Nuhun sharingnya.
    Aku suka, makpuh…sama ceritanya- fotonya.

    Btw,
    Makpuh…kalo di rumahku yang suka K-pop emaknya.
    Hiiks~
    Anak-anak yang suka geleng-geleng kalo mama mulai nyetir dan pasang lagu.

    Reply
  2. Hairun Nisa

    Waduh aku masih belum bisa kebayang nih mendidik anak, secara masih belum punya hehe. Tapi, dengan baca ini, aku jadi teringat masa remaja aku sendiri. Mamaku ternyata ibu yang hebat juga. Dia nerapin beberapa cara yang sama dg di atas.

    Reply
  3. Putri Istiana

    Aku jadi merasa beruntung punya orangtua seperti mamaku, beliau ngga pernah yang namanya menghakimi, malahan selalu melakukan poin-poin yang ditulis diatas hehe dan apapun yang aku lakuin sampe sekarang, pasti mamaku dukung teruuus :’)

    Reply
  4. nyi Penengah Dewanti

    Makasih mba Indah tipsnya, dalam mendidik anak remaja
    meski belum ada anak, aku tetep butuh edukasi semacam ini hehehe
    biar nantinya nggak kagok pas punya anak.

    Reply
  5. Widya Lim

    wah artikelnya kece banget kaak, makasih yaa.. aku perlu mulai belajar hal-hal kayak gini, biar lebih merasa siap lahir-batin untuk menikah (yang entah kapan wkwk), yang penting belajar dulu aja :”) soalnya jadi ibu kan selamanya yah kaak 😀

    Reply
  6. vebby

    ibuku sering seperti ini sama aku , duluaku bener2 egois males banget pokoknya kalau harus ngalah dan kerjaanya ngurung . tp skrg saat ada masalah aku selalu crita sm ibu aapun itujadi pikiran lebih kebuka aja gt dan skrg udah gak lagi2 ngurung dri berlebihan kaya dl wkwk

    Reply
  7. Uniek Kaswarganti

    Huhuhuuu…untuk menghabiskan waktu bersama nih aku yang ga bisa maksimal selama 3 tahun belakangan dan 3 tahun ke depan. Kudu muter akal untuk mensiasati lack of time sepanjang masa pendidikan sulungku karena dia kan tidak tinggal seatap lagi sejak mondok. Tapi kalau pas ketemu gitu ya bisa seharian loh mba ngeriuh berdua hehehe.. sama-sama cerewetnya dengan ibunya nih. Yah kadang-kadang ngobro lama, kadang-kadang ya dia sibuk sendiri dengan dunianya.

    Reply
  8. kania dachlan

    Bermanfaat banget untuk aku persiapan nanti punya anak, hal hal kaya gini klo ga baca atau ngobrol sama yang sudah berpengalaman kayanya bakal skip banget nih.

    Reply
  9. Suzannita

    Terima kasih untuk tipsnya ya Mbak ini pastinya berguna banget untuk para orang tua yang punya anak perempuan ya jadi no drama

    Reply
  10. ivonie

    massa remajaku banyakan dikekang mak hahaha.
    Artikelnya bagus banget ini, nantinya bisa buat panduanku kalau menghadapi dua anak yang beda jenis kelamin kalau sudah remaja. lihat polaah ponakan suami aja udah gemes

    Reply
  11. Grandys

    Mendidik anak gadis yaaa tidak ada yg mudah ya makpuh. Tp bener deh kalo merasa d hakimi sm pilihan2 kita, rasanya nyesek gimanaaa gitu

    Reply
  12. Lily Kanaya

    Bermanfaat banget ini sharingnya mba, terutama komunikasi dan pahami juga sianak dalam arti bisa menempatkan diri sebagai anak. Yang akhirnya bikin anak nyaman dan bahagia bersama orang tuanya

    Reply
  13. Rachmanita

    Bener banget ya mom emang pr kita sebagai orang tua mendidik anak perempuan apalagi harus bisa dengan baik bgt

    Reply
  14. Nabilla DP

    mbaak anaknya manis sekali kayak gula jawa hhihihi ini tulisannya relatable sama aku sih mba meskipun aku belum punya anak remaja, tetapi di rumah ada adek sepupu dan adek ipar yang juga sebagian besar urusannya aku yang bantuin hihihi thanks for sharing ya mba 😀

    Reply
  15. Afrilentin

    Wah jadi penasaran aku gimana ya nanti kalau anak anak udah mulai remaja,anakku tiga lakik semua pasti banyak banget tentangannya ya

    Reply
  16. Cilya

    Mau juga dong mba tips anak remaja cowo. Karena anak-anak aku cowo semua mba. Anak remaja memang masa masih idealis ya mba. Perlu komunikasi dua arah juga memang

    Reply
  17. Sri Widiyastuti

    Alhamdulillah dapat artikel bergizi di blognya Makpuh Injul. Saya juga punya anak anak gadis yang mulai remaja. Sungguh gak mudah ya mak untuk menjadi teman buat mereka. Kadang kalau sudah demikian, satu satunya yang bisa saya lakukan adalah dengan memanjatkan doa semoga mereka selalu dilindungi Allah. Karena nasehat pun mungkin mereka akan bosan. benar mak, kuncinya adalah komunikasi.

    Reply
  18. Dewi S

    Haha…jadi inget adikku Maak. Punya dua anak, dia udah angkat tangan deh. Apalagi kalo lagi berantem, kek dah pengen ngacak-ngacakin sepiteng deh ups hahaha. Makasih sharingnya ya, Maak 😀

    Reply
  19. Tami Oktari

    Noted mba. Bisa jadi acuan pas ntar punya anak. Btw dulu pas aku remaja pun, orang tuaku nerapin hal yang hampir sama sih hehe

    Reply
  20. HM Zwan

    Tipsnya saya simpen baik2 makpuh, buat Aqla dan adek2nya nanti. Seneng banget pagi2 gini baca tips2 menarik^^

    Reply
  21. Witri

    Noted Mak… meski anakku belum remaja tapi aku punya adek yang udah remaja. Ngeladennya gampang-gampang susah, kita enggak bisa nuntut mereka manut. Ya.. kudu bisa jadi sahabatlah ya. dan poin kenalan sama teman-temannya itu penting banget, jadi ingat pas aku SMA, ortuku kenal sama sahabat2aku dan akrba, tapi kurang akrab sama temen2nya adek aku. ngaruh banget sih…

    Reply
  22. Rahmah

    Bakalan kulalui 10 tahun lagi
    Dan semoga saya masih ada umur lihat Salfa remaja dan menerapkan tips di atas

    Reply
  23. Lina W. Sasmita

    Mengingat hal-hal penting dalam kehidupan mereka seperti mengingat tanggal ulang tahun, memang salah satu kunci agar kita dapat memahami mereka dan tahu apa yang mereka inginkan. Anak saya kadang tidak mau dikasih apa-apa selain ucapan selamat ultah dari ayah bundanya. Itu saja sudah cukup baginya. Alhamdulillah.

    Reply
  24. Faradillah

    Kalo ngomong akur baru pas dewasa aja, pas usia umur 20 tahun aja masih ribut masalah baju atau iri ga dibeliin dengan yang sama. Pokoknya aq sama kakakku ga pernah akur karena tingkat iri kakaku gede banget

    Reply
  25. Yessi Greena

    tipnya bisa ditiru nih. walaupun nggak punya anak perempuan, bisa dipraktekin ke adik yang sebenarnya udah nggak remaja tapi masih aplicable kayanya 🙂

    Reply
  26. Maria Soraya

    Waktu aku kuliah ngerasain punya adik cewek teenager yg buatku annoying banget. Sok rebel hahhahaha. Herannya Ibuku sabar banget, Makpuh. Aku dan adik2ku juga dekat semua ke Ibuku. Teman2 kami juga semuanya dekat karena Ibuku sering ngundang ke rumah. Koentji Ibuku dekat dengan anak2nya seperti tips yg Makpuh tulis di atas.

    Reply
  27. Sara Neyrhiza

    Wah, aku jadi punya gambaran gimana nanti kalau ankku udah remaja Mbak.. Ada deg-degannya juga, menghadapi segala dramanya

    Reply
  28. Wiwied Widya

    Kira-kira kalau anak cowok bakal begitu juga nggak ya mak? atau mungkin penanganannya agak beda? Ah gpp lah aq masih ada waktu sampai nunggu anakku gede sih. Makasi banget artikelnya Mak..

    Reply
  29. Rachmanita

    Punya anak remaja itu sebagai orang tua kadang was2… Sharing tanpa drama ini sangat menarik banget ya buat qt nanti..

    Reply
  30. Nurul Fitri Fatkhani

    Samaa Mbak, di rumah juga suka ada dramanya. Anak saya juga beda 5 tahun. Meskipun yang satu cewek, satunya cowok tapi tetep aja ada dramanya.
    Saya juga sebisa mungkin meluangkan waktu yang berkualitas dengan mereka. Paling sering jadi pendengar cerita saat mereka pulang sekolah. Dua-duanya rame kalau udah cerita hehehe

    Reply
  31. Syarifani Mulyana

    Tantangan mengasuh anak akan selalu ada ya mba, tinggal gimana kita harus lebih dulu menyiapkan diri supaya engga salah ambil pola asuh dan ngga kagok ngadepin mereka. Apalagi tantangan jaman sekarang itu banyak banget. Saya pengen nantinya anak anak bisa terbuka sama saya, tapi kadang mereka nanggepinnya orangtua kok mau tau aja urusan anak kaya detektif gitu. Nah, cara supaya mereka rela terbuka tanpa merasa diintrogasi itu gimana ya mba ?

    Reply
  32. Nanik Nara

    Sepakat semua. Terutama bagian jangan menghakimi pilihannya. Pengalaman masa remaja saya nih, punya ide apa-apa selalu ditentang orang tua. Akhirnya malas ngomong walaupun punya pendapat, karena dipikiran udah tertanam “ah, paling juga nggak disetujui”.

    Dan aku nggak mau kejadian kayak gini juga pada anak-anakku, jadi mulai berusaha membangun komunikasi yang baik sama anak-anak

    Reply
  33. Mildaini

    ini penting banget buat saya yang punya tiga anak perempuan. kami memang hampir melakukan semua yang Mba tulis, meski kadang ngak bisa juga bohong badan udah capek seharian kerja, tapi kalo urusan anak, tepasa dibuat sehat

    Reply
  34. Diar Ronayu

    Makasih sharingnya mak. Kebetulan saya juga punya 2 anak perempuan selisihnya 2.5 tahun. Sering mikirin nanti gimana ya ndidik pas usia remaja, karena masih kecil2 gini aja tiap hari selalu drama. Baca artikel ini jadi Ada bayangan, hehe.

    Reply
  35. Momtraveler

    Bahagianya daku nemu postingan ini mbak. Nadia juga beranjak abege ni mbak terlihat jelas bgt perubahannya setelah baligh. Drama mah makanan kami tiap hari. Kami berdua lagi penyesuaian nih, aku coba ga terlalu keras dan coba tarik ulur, perbanyak komunikasi (yg mana cukup susah haha). Makasih bgt tipsnya mbak

    Reply
    • Nurul Rahma

      Mantuuulll, makasiiiyy Makpuh.
      Akupun lagi sering drama kumbara ama.Sidqi nihhh. Maklum.ABG yg baruu aja ganti seragam SMP ??
      InsyaAllah daku praktekkan tipsnya
      Haturnuhuunnn

      Reply
  36. Dudukpalingdepan

    Tips yang bagus mbak. Jadi teringat saya juga cuma dua bersaudara dan perempuan juga. Dulu tuh sering banget berantem, padahal karena hal-hal kecil. Ortu yang nyuruh salah satu mengalah itu malah tambah bikin kesal ke saudara. Jadi pelajaran saya untuk nggak melakukan hal yang sama kelak kepada anak-anak. Tapi setelah masing-masing menikah dan punya anak kami jadi lebih akur dan dekat karena sering curhat tentang anak dan keluarga 😀

    Reply
    • Indah Julianti Sibarani

      Wah kok sama dengan aku dan adik-adikku sekarang ini, setelah berkeluarga lebih akur 🙂

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories