Kertas Daluang, Kriya Indonesia yang Nyaris Terlupakan

by Feb 13, 2017Gaya Hidup, Inspirasi8 comments

“Learning without thought is labor lost; thought without learning is perilous.”  ― Confucius

Kalau saja Tiominar tidak libur sekolah, mungkin saya tidak akan merasakan pengalaman luar biasa ini. Menjahit dan Mendoodle.

Kalau saja Primastuti atau Ima tidak antusias untuk mengikuti Workshop Cluth Bag Daluang di Pesona Jogja Homestay, mungkin saya tidak akan terkenang kembali masa-masa kecil dulu, menunggui almarhumah Mama menjahit baju untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.

 

 

Menjahit, bukan hal yang baru buat saya

Dulu, semasa sekolah menengah pertama dan menengah atas, saat memilih pelajaran tambahan, saya lebih memilih tata busana dibandingkan tata boga atau pun tata rias.

Sudah beberapa kali di blog ini saya cerita tentang masa kecil yang tidak begitu suka masak. Buat saya, menjahit itu lebih pas di hati. Nggak perlu ngiris-ngiris. Nggak perlu merasakan sudah pas atau belum bumbu masakan, atau sudah cantik atau belum orang yang kita rias.

Lagi pula, dari cerita Mama, ayahnya atau kakek saya adalah seorang tukang jahit. Dari hasil menjahitnya itulah, mereka bisa membangun rumah makan yag dikelola Ompung Boru (ibunya Mama), yang hasilnya untuk pendidikan tinggi anak-anaknya Ompung Doli.

Menjahit tidak bisa lepas dari kenangan masa kecil saya. Dulu, tiap Hari Raya, yang pasti pakai baju baru. Saya dan dua adik perempuan bisa punya baju lebaran lebih dari dua setel. Dan baju-baju itu dijahit sendiri oleh Mama dengan menggunakan mesin jahit Brothernya. Iya, zaman saya kecil tahun 80-an itu, Mama sudah pakai mesin jahit Brother.  

 

 

 

Sedangkan Doodle, jujur walau sudah tahu lama (terutama dari Google Doodle), tapi baru benar-benar nyimak apa itu doodle berkat Tanti Amelia, yang serius menekuni doodle sebagai profesinya.

Walau sampai sekarang saya masih mentok kalau disuruh nge-doodle, tapi tetap penasaranlah sama keahlian satu ini. Apalagi si bungsu Tiominar menunjukkan keantusiasannya di bidang seni menggambar atau melukis.

Memang sih Tio masih banyak pengennya, makanya hasil gambarnya juga belum fokus tapi berkat Workshop Daluang Clutch Bag yang dilaksanakan tanggal 4 Februari 2017 lalu oleh Kriya Indonesia di Yogyakarta, Tio makin semangat menggambarnya.

 

Menjahit dan Nge-doodle di atas Kertas Daluang

 

Kertas Daluang, Kriya Indonesia yang Nyaris Terlupakan

 

Baru tahu kertas Daluang? Sama.

Di Workshop Clutch Bag Daluang yang diselenggarakan Kriya Indonesia ini, dijelaskan kalau Daluang adalah sejenis kertas Jawa yang zaman dahulu kala digunakan untuk naskah kuno dan wayang Beber.

Menurut Founder Kriya Indonesia, Astri Damayanti, Daluang (di Jawa) atau Fuya/Tapa (di Sulawesi) atau Beaten Bark (Inggris, Jepang), merupakan kain kulit kayu yang sudah ada sejak zaman megalitikum. “Hingga kini pembuatan kertas daluang masih ada, terutama di Sulawesi Tengah, di Lembah Bada,” jelas Founder Kriya Indonesia. 

Daluang terbuat dari kulit kayu sejenis pohon Mulberry (Pohon Sae) yang termasuk kategori tanaman langka di Indonesia. Karena itulah, UNESCO menetapkan Daluang sebagai warisan budaya tak benda yang harus dilestarikan.

Berbeda dengan Papyrus, untuk menghasilkan daluang, kulit kayu tidak dibubur tetapi ditumbuk (disamak), diperam dan dijemur di terik matahari. Pembuatan daluang menggunakan alat yang disebut Batu Kei.

 

Kertas Daluang, Kriya Indonesia yang Nyaris Terlupakan

Kertas Daluang photo by Kriya Indonesia

 

Dalam upaya mempopulerkan kembali Daluang ini, Kriya Indonesia bekerjasama dengan Brother Indonesia mengadakan Workshop Clutch Bag Daluang.

Blogger Jogja diajak untuk membuat sendiri Clutch dari kertas Daluang dengan menggunakan mesin jahit Brother tipe GS2700 yang mempunyai 27 pilihan jahitan.

Oh ya sebelum kertas daluang tersebut dijahit dengan mesin jahit Brother, kertas tersebut di-doodle dengan arahan Tanti Amelia. Seru juga saat melihat para peserta workshop antusias mengoret-oret kertas daluang dengan doodle buata mereka sendiri.

Tio pun nggak mau kalah membuat doodle di kertas daluang yang nantinya akan jadi clutch buat innanya.

 

Kertas Daluang, Kriya Indonesia yang Nyaris Terlupakan

 

Dari hasil workshop itu, saya jadi semangat untuk kembali memulai aktivitas jahit menjahit. Ya minimal menjahit untuk baju anak-anak lah. Biar mereka bangga innanya bisa seperti almarhumah Ompung Gurunya 🙂

Sahabat Blogger suka menjahit atau doodle?

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

8 Comments

  1. fadhil aulia

    keren mbak…nggak nyangka ada karya yang sekeren ini..

    Reply
  2. geLintang

    aku baru tau ada bahan bikin clutch bernama daluang yang asli Indonesia. Aku bisa pegang2 kainnya dimana ya mbak? Aku penggila kain tradisional indonesia dan suka banget jait-menjait nih mbak.

    Reply
  3. uwan urwan

    kereennnn bisa langsung dipake.. hehehe

    Reply
  4. Nusantara Adhiyaksa

    Bagus sekali Karyanya ….
    Kegiatan Postif dan menyenangkan berawal dari sesuatu hal yang sederhana namun disertai dengan niat dan kemauan untuk mengeksekusinya.

    Reply
  5. Ucig

    Jahit mbaa… Klo doodle blm bisaan ??
    Baru tau daluang inii. Aku suka model gini mba, Indonesia ??

    Reply
  6. Inayah

    wah bikin beginian bisa melepas hormon stres nih

    Reply
  7. monda

    cantik mak tas daluangnya..
    waktu ke candi cangkuang Garut juga dengar cerita buat kertas dari kulit pohon saeh,
    bahkan ada lihat pohon saeh di sana

    Reply
  8. herva yulyanti

    Aku juga pengen belajar lagi mba menjahit mupeng bgt liat yg lain bisa buatin kreasi hasil jahitnya 🙂

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories