Blogging with Heart, Masihkah Relevan?

by Nov 9, 2020blogging3 comments

Jadi ceritanya, daku ditag Dewi Rieka di Twitter dan Instagram tentang postingan baru di blog Ruang Aksara. Mampirlah daku ke blog Dedew yang banyak membahas tentang tip menulis, baik itu tip menulis untuk buku juga blogging. Ruang Aksara sendiri adalah kelas menulis daring dan tatap muka yang digagas oleh Founder Blogger Gandjelrel Semarang tersebut. Dalam postingan Ruang Aksara dengan judul: “Blogging with Heart, Money will Follow, Tips Menjual Blog dari Kak Indjul”, daku tiba-tiba tersedak melihat foto yang dipakai dalam postingan tersebut sumbernya dari Merdeka dotcom. Isenglah daku mampir ke website tersebut, dan jeng jeng…kembali tersedak karena ada tulisan tentang daku dan blogging di sana!

Blogging with Heart, Masihkah Relevan?

Perasaan ya, daku enggak pernah diwawancarai sama penulisnya. Kemungkinan dia mengambil data tersebut dari berbagai sumber karena memang daku beberapa kali pernah ditanya-tanya masalah blogging baik oleh media cetak mau pun online. Karena tulisannya bagus, yang biarkan sajalah. Lumayan promosi gratisan, hahahaha.

Tapi, ada satu yang bikin daku agak ‘nganjel” di hati. Gilingan banget itu artikelnya, karena 3 orang bloger yang inspiratif itu adalah top-top bloger Indonesia. Siapa coba yang tak kenal Gita Savitri atau Gitasav, Mas Bobby Ertanto atau Virus Traveling, dan Raditya Dhika, yang pada zamannya terkenal dengan blog Kambingjantan.

Awalnya, dalam hati daku mau bilang “welah siapa gue disandingkan dengan mereka. Blog gue hanya remahan rempeyek”, tapi terus ingat kata Mas Iwan, “kalau bukan kita sendiri yang bangga dengan diri kita, siapa lagi? Kalau kita sendiri nggak menghargai hasil kerja kita, ya orang lain juga nggak respect. Kecil atau pun besar pekerjaan itu, hargailah, respect dan ikhlas melakukannya.”

Batal deh menyatakan remahan rempeyek.

Blogging with Heart, Money will Follow

Cerita tentang Blogging with Heart di blog Ruang Aksara itu, daku kagum lho sama ingatannya Dedew, karena ucapan tersebut daku sampaikan di tahun 2015 saat Arisan Ilmu Emak2 Blogger Semarang, yang mengambil tema tentang paid review. Itu acara 5 tahun yang lalu cuy. Detailnya diingat banget sama Dedew dan dijadikan postingan blog; two thumbs up. 

Buat daku, menulis dengan hati, menulis penuh cinta, menulis dengan ikhlas itu penting banget jadi landasan kita dalam berkarya. Apalagi nih kalau kita baru mengawali karier dalam dunia kepenulisan sebagai pekerja paruh waktu atau freelancer, menulis sebagai hobby, kalau awal-awal sudah terbebani kalau menulisnya itu harus menghasilkan (uang terutama), itu bebannya berat. Saat menulis tuh di otak: duit duit duit. Enggak dipikirin tuh bagaimana nulis yang enak dibaca, tulisan yang fokus, riset yang menguatkan tulisan kita biar ciamik.

Jadilah tulisan kita begitu-begitu saja. Dan hasil yang kita dapatkan, ya segitu gitu aja. Jangan marah kalau kita dibayar recehan. Bisa jadi karena yang kasih bayaran itu menganggap tulisan kita receh. Apalagi sekarang ini, semakin banyak bloger, semakin tinggi persaingan dalam menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas.

Bahkan orang-orang yang memang dibayar untuk menulis karena memang itu pekerjaannya (misalnya penulis konten atau yang bekerja di portal/website berita), harus selalu kreatif dan inovatif biar hasil yang didapatnya (gaji) dan jenjang karier meningkat. Yang dulunya jadi penulis konten bisa jadi kepala desk konten, ya kan.

Blogging with heart, money will follow. Menulis dengan hati, hasil (uang) akan mengikutinya. Jangan cepat merasa puas. Merasa bangga karena punya job banyak. Dapat campaign dari berbagai macam brand. Blognya update dengan berbagai macam tulisan berbayar. Tapi coba dicek, apakah yang berkunjung ke blog kita dari hasil searching di mesin pencari? Punya tidak popular post yang tanpa kita boost dengan drop link atau blog walking berjamaah yang sekarang marak di group-group WhatsApp komunitas?

Sekarang itu, bloger yang sudah berpengalaman dan mau terus belajar, kreatif dengan konten blognya, adalah mereka-mereka yang akan selalu dicari dan disukai brand-brand. Para pencari bloger inspiratif itu akan datang sendiri menawarkan berbagai pekerjaan atau campaign. Dan ketika bloger menawarkan berbagai kompensasi atas kerjasama tersebut, brand juga nggak akan memberikan kontra prestasi yang segitu-gitu saja.

 

Blogging with Heart, Masihkah Relevan?

Oh ya, silakan membaca Blog Ruang Aksara yang menjelaskan makna dari Blogging with Heart, dan tip-tip bagaimana “menjual blog” kita dengan soft selling.

Belajar Terus, Terus Belajar: Blogging with Heart

Ketika kita memutuskan menjadikan hobi menulis di blog sebagai ladang pendapatan, kita harus punya bekal yang mumpuni untuk turut serta dalam persilatan blogging. Selain yang tadi dituliskan di atas yaitu terus belajar terutama tentang gaya menulis dan konten penulisan, kita juga harus belajar terus dengan cara:

  • Menjalin networking yang bagus (baik itu dengan teman sesama bloger, pemberi kerja – brand atau agency, komunitas dan pembaca blog kita)
  • Menjaga attitude atau sikap
  • Kreatif dan inovatif (jangan copy paste)

Seperti itu sih kira-kira kalau kita tetap ingin eksis di dunia perbloggeran. Dan semuanya ini kembali ke diri kita sendiri, mau jadi bloger yang seperti apa? Mau jadi bloger yang gitu-gitu saja atau mau naik kelas seperti Alodita, Putri Puar (byputi), Arum Racun warna warni atau Annisa Steviani.

Haeee, kalau mampir ke blogpost ini, kasih komentarnya ya. Kalau teman bloger sharing pendapatnya tentang blogging with heart. Kalau bukan bloger tapi pembaca setia blog ini, kasih komentar konten-konten apa yang menarik untuk ditulis dan dibaca. Terima kasih.

PS:

  • Tulisan lain tentang blogging with Heart yang menginspirasi dari Diah Didi
  • Postingan di Merdeka Com
<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

New Template, New Energy. Harapannya

New Template, New Energy. Harapannya

Yas! Akhirnya blog ini punya tampilan baru. New Template, New Energy, harapannya sih gitu. Pengen rajin nulis di blog ini, kan sudah dipercakep rumahnya, Insya Allah makin betah. Sudah lama banget pengen ganti desain template halaman utama blog ini. Dari tahun 2018,...

read more

3 Comments

  1. Muna Sungkar

    Well Noted mbak injul. Semua balik lagi ke kita ya mau.menjadikan blog kita semata mesin pencari duit atau mau ke portofolio yg kita jaga betul kualitasnya. Selama ni klo dapet job berusaha selektif dan bikin yg baik spy klien puas.
    Utk nulis aku tetep enjoy ga mikirin SEO dan peruntukannya tp tetep belajar dong biar updet ilmunya. Lucunya mbak.mbuh pie tulisan yg aku nulis gtu aja ga mikir key word dan apalah2 itu malah selalu laris pengunjung hehhe

    Reply
  2. Susi

    baru tau semenjak baca disini kalo Gita Sav itu seorang blogger. Hehheheh

    Reply
  3. Nasirullah Sitam

    Kalau saya sih menulis di blog adalah bagian dari terapiku untuk menghilangkan rasa jenuh. Selama menulis tak terpikirkan SEO, konten ini bakal ramai dibaca atau tidak dan yang lainnya. Penting nulis, dan biarkan secara alami dikunjungi orang tanpa harus mempromosikan dengan masif.

    Menulis di blog bagi sebagian orang bukan masalah uang, tapi memang keinginannya untuk berbagi. Bahkan tidak sedikit mereka malah mengeluarkan uang untuk tetap bisa mempunyai konten blog

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories