Anak dan Sosial Media: Refleksi Blog

Anak dan Sosial Media: Refleksi Blog

Anak dan Keamanan Bersosial Media adalah postingan yang saya pilih untuk mengikuti GA-nya Om NaHer: A Self Reflection, Tengok-tengok Blog Sendiri. Postingan bertanggal 9 Januari 2014 itu, adalah postingan pertama saya di tahun 2014.

Postingan tersebut sebenarnya draft yang cukup lama bertengger di dashboard, karena seperti biasa alasan basi yang biasa saya kemukakan kalau nggak update blog: tulisannya masih mentah, belum ‘nendang.

Padahal ya, ide untuk menulis postingan itu berasal dari diskusi yang saya ikuti pada pertengahan Desember 2013, seperti yang tertulis dalam cerita di blog saya. Nih kalau mau tahu dan baca linknya: Anak dan Keamanan Bersosial Media. 

Kalau dilihat dari revisinya yang berjumlah sebanyak 10 revisions, postingan tersebut ditulis pertama kali pada tanggal  20 Desember 2013. Cukup lama ya dari publishnya yang tanggal 9 Januari 2014.

Lupa alasan utamanya kenapa lama terpublish, yang jelas saya memang suka sekali menimbun draft blogpost, dengan dalih akan segera dipublish biar update terus, tetapi nyatanya baru sekian waktu terupdate, atau tidak terpublish sama sekali.

Baru kemudian saya tergerak mempublishnya ketika di twitter ramai membahas tentang dampak bersosial media pada anak-anak, terutama anak di bawah usia remaja. Saya merasa miris, karena saya termasuk orangtua yang lengah, lupa menjaga anak saya dari keamanan bersosial media. Bahkan, dengan mencuri umur saya membuatkan anak-anak akun Facebok.

Alasan utama saya membuat akun Facebook tersebut adalah agar bisa mengenal teman-temannya dan tahu aktivitas mereka. Dua anak saya, Taruli dan Kayla punya akun Facebook.

Namun, begitu saya mengikuti diskusi yang dijembatani oleh Internet Sehat itu, saya lalu menon-aktifkan akun Facebook Kayla, yang baru berusia 9 tahun. Sedangkan Taruli, karena usianya sudah 14 tahun, tetap punya akun sesuai dengan batas umur yang diperbolehkan Facebook Inc. Tetapi tetap dalam pantauan saya. Alhamdulillah, dia tidak begitu aktif karena kesibukan bersekolah di Pesantrennya.

Harapan saya dalam membuat postingan Anak dan Keamanan Bersosial Media itu sederhana saja. Menjadi pelajaran buat saya sebagai orangtua untuk lebih mawas diri dan berhati-hati pada penggunaan sosial media bagi anak-anak, tidak asyik masyuk sendirian atau keasyikan bergadget tanpa peduli dengan aktivitas anak-anak berinternet, tidak membiarkan anak-anak berinternet tanpa pengawasan orangtua dengan dalih supaya mereka tidak kemana-mana.

Harapan lainnya, belajar dari pengalaman orangtua yang anak-anaknya menjadi korban, dan bentuk kepedulian kita terhadap apa yang dialami anak-anak tersebut, mari kita satukan tangan untuk keamanan berinternet bagi anak-anak Indonesia. Jangan tunggu sampai anak-anak kita yang mengalaminya.

Sejujurnya, tulisan tersebut masih kurang mendalam, karena hanya mengandalkan hasil diskusi dan beberapa kutipan dari media cetak. Inginnya sih, biar lebih faktual, ada cerita yang merupakan hasil penelusuran saya sendiri terhadap anak-anak yang asyik berinternet.

 

“Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

 

 

By Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

20 comments

  1. jaman sekarang memang sulit untuk melarang anak-anak untuk sama sekali tidak menggunakan gadget..memang jalan terbaik adalah menyeimbangkan penggunaannya dan mengawasi dengan baik…ngg gampang ya mak injul hehehe…tapi harus bisaaa 🙂

  2. Yups.. bener mbak Juli.. pengawasan ortu pada anak saat di sosial media itu perlu, apalagi banyak srigala nih di dunia maya..

  3. Benar banget mbK. Saya juga pernah mengikuti materi seminar mengenai sex education untuk anak. Sedih banget mbak, dan internet dan media mempunyai andil yang paling besar untuk kerusakan moral anak-anak. Kita sebagai orang tua mesti tidak bosan untuk terua belajar serta mendoakan mereka

  4. Wah, setuju nih, mbak. Sekarang, jaman sekarang sudah pada canggih. Orang tua sudah saatnya juga ikutan punya facebook nih buat memantau perkembangan anak. Semoga menang ya mbak 🙂 Bagus nih tulisannya.

  5. Saya datang dan sudah membaca “Self Reflection” di blog ini
    Terima kasih telah berkenan untuk ikut lomba saya ya
    Semoga sukses

    Salam saya
    #116

  6. Beberapa tahun lalu sebelum facebook ada social media lain, namun beberapa anak belum terlalu tahu apa itu, namun seiring berjalannya waktu, anak2 pun ingin tahu betul social media itu apa.

  7. aku termasuk miris waktu nonton dampak dari sosial media. Memang belum saatnya anak-anak punya, sebenernya….

  8. Mak Ijul masih mending, ngedraft akhirnya di publish juga, saya malah pernah udah ngedraft akhirnya saya delete karena merasa tulisannya gak nendang juga hehe

  9. Bagus juga tuh ya ide Om Trainer, ada GA Self Reflection. Biasanya Blog sendiri tuh pasti kita yang muji sendiri, hehe… MakPuh, semoga menang ya di GA Om Trainer ini.

  10. Cailee…mau dibilang apa juga, teuteutp aja tulisan MakPuh ini mah oke banget. Selamat ikutan GA. Bunda terlambat ingetnya tentang GA Om Trainer ini, tau2 eh, udah DL.

  11. Aku mulai mengurangi facebookan. banyak artikel yg gak sehat di masa masa sekarang ini. Aku bektu blogwalking saja sekarang. Lumayan dapat beklink walaupun no follow hahahah

  12. iya nih mbak, ortu dituntut nggak boleh lengah mendampingi anak. apalagi remaja ya mbak, kalau terlalu dikekang juga tidak baik.

    piye kabare mbak, sekarang menetap di jogjakah?

  13. Luar biasa memang mbak penetrasi socmed ini ya saat ini…
    FB hampir semua orang punya akunnya, termasuk anak-anak saya. Kadang saya pantau juga aktifitas mereka bersosial media. Alhamdulillah masih baik2 saja.
    Yg susah ini satu mbak, mendorong anak biar bikin blog. Berat ngeblog mah, itu kata mereka.

    Sukses dgn GA nya mbak.

    Salam dari saya di Sukabumi,

  14. hooh, anak2 balita sekarang kadang juga udah punya sosmed dan semoga orang tua bisa mengatur mana yg baik dan mana yg kurang baik… 🙂

  15. Socmed uda mewabah ya, Mbak.. Ngga bisa ngelarang anak-anak buat punya jugak. Yah asal mainnya sesuai aturan aja.. 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published.