Awas…Formalin Disekitar Kita

Assamu’alaikum, Hai Dunia, sudah tahun 2006 nih ! Di penghujung tahun 2005 lalu, kita terhenyak dengan maraknya pemberitaan mengenai pemakaian bahan pengawet formalin, pada berbagai macam makanan seperti ikan asin, tahu, baso dan mie basah.

Mengerikan memang, karena bahan-bahan makanan tersebut seperti tahu misalnya hampir setiap hari kami makan terutama Kak Lily. Yang namanya tahu, jika digoreng pasti langsung dimakan panas-panas. “Enak kan panas Bu, kalau dingin lembek”, kata Kak Lily, kalau ditanya kenapa makannya panas-panas. Bisa dikatakan, digoreng tandas, digoreng tandas 🙂

Kalau untuk mie basah, baso dan ikan asin, yah ngak terlalu sering sih, tapi kan ngeri juga kalau kita tahu ternyata selama ini kita memakan bahan pengawet yang biasa dipakai untuk mengawetkan mayat 🙁

Apa sih formalin itu, dan kenapa dipakai untuk bahan makanan. Ini ada artikel tentang Bahaya Formalin, yang Ibu ambil dari Horison. Disini disebutkan juga bahwa formalin terdapat pada wadah makanan melamin. Baca deh selengkapnya :

indosiar.com, Jakarta – Penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan, perlu diwaspadai. Apalagi temuan di lapangan banyak makanan yang mengandung formalin diatas ambang batas aman. Makanan merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Agar terbentuk sumber daya manusia yang berkualitas dibutuhkan pula asupan makanan yang bergizi.

Tahu contohnya, sebagai makanan yang diketahui kaya akan protein dan digemari banyak kalangan telah lama disinyalir mengandung pengawet sejenis formalin. 70 persen tahu yang beredar diduga mengandung pengawet ini. Demikian pula dengan daging ayam dan ikan segar.

Bahkan temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada tahun 2004, perabot rumah tangga yang banyak digunakan sebagai wadah makanan yang terbuat dari melamin mengandung formalin dengan kadar tinggi. Diantaranya mencapai 4,76 hingga 8,82 miligram perliter.

Selain berfungsi sebagai pengawet, bahan beracun juga kerap muncul dalam fungsinya sebagai pewarna. Bahan pewarna ini digunakan untuk menambah daya tarik penampilan makanan. Biasanya banyak dijumpai pada panganan anak – anak.

Khusus untuk formalin, bahan pengawet beracun ini dilarang digunakan untuk mengawetkan makanan seperti tertuang dalam peraturan Menteri Kesehatan No.1168 tahun 1999. Formalin yang diambil dari nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 10 hingga 40 persen.

Untuk mendapatkan bahan beracun ini tidaklah terlalu sulit. Sejumlah toko kimia biasanya menyediakan dengan harga 15 ribu rupiah perliter. Jika kandungan formalin dalam tubuh tinggi, efeknya akan mematikan fungsi sel dan menyebabkan keracunan. Bisa juga iritasi lambung, kencing darah dan terburuk kanker yang berujung pada kematian.

Sebenarnya formalin banyak digunakan sebagai desinfektan untuk pembersih lantai, gudang, dan pakaian. Dan juga sebagai getmisida dan fungisida pada tanaman dan sayuran. Formalin pun dapat untuk pembasmi serangga yang digunakan dalam industri tahu.

Meski tidak semua produsen dan pedagang makanan seperti tahu, ayam potong, ikan laut segar, ikan asin menggunakan formalin, namun mereka yang menggunakan formalin ini hanya bertujuan meraup keuntungan tanpa mengindahkan kesehatan pada konsumennya.

Untuk panganan tahu yang mengandung formalin dapat diketahui dari kekenyalannya yang begitu kuat. Tahu tanpa formalin bila ditekan akan mudah hancur dan mengeluarkan aroma kedelai.

Meski telah banyak temuan, namun belum muncul ketegasan pemerintah dalam pelarangan penggunaan formalin ini. Tidak ada sanksi kepada produsen dan pedagangnya. Bahkan penjual perabot melamin kian menjamun dengan menawarkan harga miring.
Pemerintah dinilai lemah dalam pengawasan ini. Tidak ada aturan khusus untuk menjamin bahwa makanan ini layak dikonsumsi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) sebenarnya telah meminta Departemen Perdagangan untuk meregolasi tata niaga import bahan kimia.Bahkan hingga distribusinya di tanah air. Sehingga tidak semua orang dapat dengan mudah mendapatkan bahan pengawet beracun ini.

Kini disaat aturan belum jelas, kehati-hatian memilih makanan baik pada tingkat individu ataupun pada tingkat rumah tangga amat dibutuhkan. Jangan sampai hanya karena asupan yang mengandung pengawet beracun, sumber daya manusia kita tidak memiliki kualitas yang berharga.

<a href="https://indahjulianti.com/author/indahjuli/" target="_self">Indah Julianti Sibarani</a>

Indah Julianti Sibarani

Fulltime mom Penulis Cerita Bacaan Anak Blogger Co Founder Kumpulan Emak Blogger (KEB)

YOU MAY ALSO LIKE

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

read more

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

By Iwan Fals Ibu Ribuan kilo jalan yang kau tempuh Lewati rintang untuk aku anakmu Ibuku sayang masih terus berjalan Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah Seperti udara... kasih yang engkau berikan Tak mampu ku membalas...ibu...ibu Ingin kudekat dan menangis di...

read more

1 Comment

  1. rodamemn

    emang menakutkan sekali ya mak, pertama butuh kesadaran tinggi buat si pelaku untuk tobat dan tidak menyakiti orang lain, kedua butuh tindakan tegas dan sanksi hukum yang jelas pada si pelaku atau oknum yg nakal dan tidak bertanggungjawab, ketiga kita memang harus selalu menyebarkan informasi yang di media atau blog mengenai pelaku2 yang ketauan melakukan perbuatan yang tidak berperikemanusian itu, karena semakin banyak informasi yang ada di masyarakat insyaallah kita semakin bisa menghindari produk dari si pelaku, ini juga bisa bikin calon pelaku lainnya jera karena seolah-olah masyarakat memusuhi mereka dengan tidak membeli produk yg mereka jual. Smoga tidak ada lagi yang seperti ini, kembalikan rasa kerpercayaan pembeli pada tempatnya 🙂

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Arsip

Categories