Nilai-nilai Pancasila dalam Semangat Pembakti Desa

Kapan terakhir kali membaca Pancasila? Masih ingat enggak urutan silanya, atau terbalik-balik membaca Pancasila? Lalu, seberapa serius teman-teman mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan tempat tinggal kita. Kampung kita. Btw, itu judul tulisan serius banget ya 🙂

 

Nilai-nilai Pancasila

Pancasila. Kalau enggak karena masih punya anak sekolah dasar, mungkin daku bakal lupa selamanya tentang sila-sila dari Pancasila. Padahal zaman sekolah dan kuliah, kalau enggak ingat tiap sila Pancasila, malunya minta ampun. Malunya sampai pengen ganti wajah (wajah orang cantik pastinya, bukan itik buruk rupa). 

Nilai-nilai Pancasila. Dan, kalau enggak karena ikutan Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019 dari tanggal 26 sampai 29 Oktober 2019 di Anyer, Jawa Barat, yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), daku masih berpikiran membicarakan Pancasila adalah berbicara serius dengan bahasa yang baku, formal, dan tidak santai. 

Membicarakan Pancasila harus hati-hati, enggak boleh bercanda, senda gurau, apalagi pakai haha hihi, enggak jelas juntrungan. Jadi, terlupakan selamanya lah itu Pancasila.  Eh, enggak selamanya sih, kan ikutan Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019, mana mungkin terlupakan. 

Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019 Itu Apa? 

Daku saja baru tahu acara yang digelar BPIP ini, saat naik pesawat dari Yogyakarta menuju Jakarta. Jadi ya, ku benar-benar nggak punya bayangan acaranya apa dan bagaimana nanti saat acara, karena saat dihubungi Ira Hairida yang mengajak ikut acara tanggal 26 sampai 30 Oktober 2019, enggak bertanya-tanya lagi. Kebetulan, lagi didera deadline nulis buku dan anak-anak lagi ada kegiatan literasi sekolah, yang orang tua mesti terlibat juga. 

Saat berangkat, yang ada di otakku hanya datang dan mengikuti acaranya sampai selesai, tanpa brief mesti ngapain di Anyer. Saat bertemu dengan Mbak Lyla, Mbak Nina dan Galang (yang kebetulan sederetan kursi di pesawat), ku baru tahu kalau event yang akan saya dan Vika (teman Blogger Yogyakarta) itu bernama Persamuhan Naasional Pembakti Desa, yang pesertanya dari 34 provinsi di Indonesia. 

“Katanya ada sekitar 300 lebih pesertanya,” jelas Mbak Lyla dari Komunitas Eco Print Yogyakarta.

(Heeeh, dalam hatiku berucap. Banyak banget. Duh, mengenal belasan orang saja, daku butuh waktu lama, mesti harus rajin bercakap-cakap biar bisa mengingat dengan baik, ini ratusan, syukur-syukur kenal belasan orang). 

Dari Mbak Lyla juga, diberitahu kalau sebagian besar pesertanya dari Jaringan Kampung Nasional dan orang-orang yang berhubungan dengan pembudayaan Pancasila di kampung-kampung di seluruh provinsi Indonesia. Mereka ini adalah Pembakti Desa. 

Ku terdiam. Jaringan Kampung Nasional itu apa…? Ku langsung membayangkan orang-orang baru, yang berbeda dari komunitas-komunitas yang sering bertemu yang berhubungan dengan penulisan, traveling dan budaya.  Jujur, info dari Mbak Lyla itu, jadi bekal daku untuk ikut acara persamuhan itu. 

Oh ya, di pesawat selain rombongan mbak Lyla dan Pak Hermawan dari Klaten, ada rombongan dari Jawa Tengah berjumlah 7 orang. Total peserta dari keberangkatan Yogyakarta ada 12  orang. 

Hari Pertama Persamuhan Nasional Pembakti Desa

Sabtu, 26 Oktober 2019, hampir menjelang maghrib, saat rombongan Yogyakarta tiba di Hotel Marbella, Anyer, Jawa Barat. Setelah “drama perjalanan dan mencari kamar”  untuk menginap selama beberapa hari,  malam harinya, langsung digeber acara diskusi. 

“Ya ampun, malam minggu yang suram. Atuhlah acaranya yang santai, ini malah diskusi  dengan tema yang berat. Revolusi mental,” ucapku pada Vika, yang cuma mesem-mesem saja. 

Hari pertama, malam pertama sudah berat gini tema dan diskusinya, malas membayangkan hari-hari selanjutnya.  Mana pembicara di diskusi hanya Pak Arif Budimanta yang ku kenal dan di fasilitator, dari tiga orang hanya Pak Taufik Rahzen dan Bu Irene Camelyn Sinaga, Direktur Pembudayaan Pancasila BPIP yang familiar. 

Ternyata ya pepatah tak kenal tak sayang itu, ada benarnya juga. 

Sebelum memulai acara diskusi, Ibu Irene, Direktur Pembudayaan Pancasila Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), sekaligus ketua penyelenggara Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019, menjelaskan tentang apa itu persamuhan, bagaimana pelaksanaan persamuhan itu dan harapan terhadap penyelenggaraan kegiatan kepada seluruh peserta dari 34 provinsi itu. 

Gaya Bu Irene yang santai saat menjelaskan rangkaian acara, membuyarkan pikiran entang beratnya event yang daku ikuti ini. “Membicarakan Pancasila enggak harus dalam forum serius nan berat kan?!” 

Dari Bu Irene, daku mendapatkan penjelasan lengkap tentang kata Persamuhan yang digunakan, sebagai upaya membiasakan penggunaan kata Bahasa Indonesia. Persamuhan (seperti di KBBI) adalah pertemuan, persidangan, kongres, untuk membahas sesuatu. 

Di acara ini disepakati pula untuk mengucapkan Salam Pancasila! untuk setiap kegiatan yang dilakukan. Salam Pancasila menjadi penanda dari event ini.

Semangat untuk mengikuti acara pun terpacu, apalagi diskusi yang dilakukan Pak Arif Budimanta dan Pak Gantjang Amanullah, MA,  enggak monoton. Pemaparan materi (terutama materi Revolusi Mental oleh Pak Arif), dipaparkan dengan menarik dan santai. Daku jadi enggak merasa ngantuk dan benar-benar menyimak materi diskusi. 

Oh ya, salah satu narasumber yaitu Pak Gantjang adalah perumus Indeks Kebudayaan (IPK) Indonesia dan dari paparan beliau, ku tercerahkan bagaimana perilaku kebudayaan Indonesia itu, terutama yang dikaitkan dengan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila.  

Diskusi hari pertama usia dengan semangat baru untuk mengikuti rangkaian acara persamuhan tentang pembudayaan nilai-nilai Pancasila dalam semangat gotong royong dengan kampung sebagai penggeraknya.  

Pembukaan Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019

Persamuhan Nasional Pembakti Desa

Hari kedua. Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019 dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas Kepala BPIP Prof. Dr. Hariyono, MPd. Dalam uraiannya tentang penyelenggaran acara itu, tujuannya untuk mengangkat nilai-nilai Pancasila dalam budaya lokal yang telah dipraktekkan di desa-desa di Indonesia dan untuk membuka jejaring komunikasi antara komunitas dan pembakti kampung. 

Di hari kedua ini dong, ku baru tahu detail fasilitator selain Pak Taufik Rahzen dan Bu Irene, yaitu Mas Redy Eko Prasetyo. Itu juga tahunya dari Pak Aris Heru Utomo yang di BPIP menjabat sebagai Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jejaring, yang juga seorang blogger dan Ketua Komunitas Blogger Bekasi, komunitas blogger yang daku ikuti saat menjadi warga Bekasi. 

Terima kasih untuk Google, berkatnya ku jadi tahu siapa itu Mas Redy, yang jabatannya sebagai Presiden Jejaring Kampung Nusantara- Japungnusantara,  dan sebagian besar peserta persamuhan adalah anggota komunitas Japungnusantara, merupakan pembakti desa, sebagai kunci dari penggerak Pancasila di kampung-kampung. 

Hadeeeh benaran deh, baru kali ini daku ikuti event pemerintah, yang formal, sedikit banget informasi yang kutahu. 

Di hari kedua yang berlangsung sampai malam hari itu, diisi dengan diskusi besar dan diskusi per kelompok (Forum Group Discussion – FGD) yang dibagi dalam tiga tema yaitu Kelompok Kebangsaan – yang dipandu Mas Redy, Kelompok Tanah Air – dipandu Bu Irene dan kelompok Bahasa dengan pemandu Bapak Taufik Rahzen. 

Diskusi besar tentang Indonesia Maju diawali pemaparan materi tentang Hoax oleh Pak Aris mewakili BPIP dan JJ Rizal, sejarahwan tentang pendekatan nilai-nilai Pancasila sebagai ilmu, bukan indoktrinasi. Dan Sentilan dari Butet Kertaradjasa. 

Malam harinya, berlangsung Forum Group Discussion (FGD) tiga kelompok. Daku masuk kelompok Tanah Air, yang membahas isu-isu seputar perempuan yang dikaitkan dengan nilai-nilai Pancasila. Enggak tahu proses FGD di kelompok lain, yang jelas di Tanah Air, diskusi tentang masalah perempuan itu banyak juga. Tidak hanya masalah kesetaraan, ketimpangan hak perempuan, pemberdayaan, tetapi juga masalah ekonomi dan kesehatan.  FGD ini merupakan implementasi musyawarah untuk mufakat. Hayo sila ke berapa dari Pancasil tuh?

Hasil diskusi ketiga kelompok ini dirumuskan bersama antara pengurus kelompok dan team perumus, yang nantinya akan diajukan ke Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi. Rumusan itu nantinya menjadi Hasil dari Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019, yang akan diimplementasikan di kampung-kampung di seluruh Indonesia. 

Sumpah Pemuda ala Persamuhan Nasional Pembakti Desa 

Hari ketiga bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Seluruh peserta diajak untuk melakukan upacara peringatan dengan ciri khas masing-masing wilayah peserta persamuhan. 

Baru kali ini daku melakukan upacara peringatan hari nasioanl dengan mengusung budaya lokal dan dilakukan dengan santai. Nilai-nilai Pancasila tercerminkan dalam berbagai aksi yang dilakukan peserta seperti menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, gerak tari lokal yang dilakukan secara spontan dan tak lupa hentakan jimbe dan beduk, menceriakan suasana peringatan Hari Sumpah Pemuda. 

Asli merinding dan haru menyeruak saat larut bersama para peserta yang bangga dengan keberagaman Indonesia tercinta. 

Rangkaian peringatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Titik Nol Banten, Mercu Suar Anyer, untuk acara Rampak Beduk bersama 400 anak santri di Anyer. Mercu Suar Anyer ini merupakan simbol dari pembangunan Jalan Anyer – Panarukan oleh Gubernur Hindia Belanda, Daendels. Anyer – Panarukan ini sangat fenomenal, karena jalannya mencapai 1000 kilometer. 

Oh ya, ada Gilang Ramadhan yang tampil menyertai Rampak Beduk dengan tabuhan drumnya yang terkenal itu. Penabuh drum terkenal ini juga menjadi narasumber tentang nilai-nilai Pancasila bersama dengan Wakil Bupati Serang, Bapak Pandji Tirtayasa. 

Seriusan ya, Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019 ini benar-benar menguras energi. Lelah banget mengikuti seluruh rangkaian acaranya. Tapi, rasanya kok ya sayang banget kalau enggak diikuti. Karena tiap acara tuh selalu ada hal baru, nuansa yang berbeda dalam penyajian acara. Daku merasa dibuat terikat untuk menikmati setiap acara yang mengusung budaya lokal. Pembudayaan Pancasila yang elok. 

Gimana hari keempat dan kelima? 

Persamuhan Nasional Pembakti Desa

Dengan sisa-sisa tenaga, daku mengikuti hari-hari terakhir persamuhan, yang tetap dilakukan dengan santai tapi serius. Di hari keempat, selain perumusan hasil diskusi tiap kelompok dan puncak acara berupa penutupan dengan tajuk Malam Sejuta Rasa Pembakti. 

Di Malam Sejuta Rasa Pembakti ini, selain pemberian anugrah kepada perwakilan dari berbagai provinsi, seluruh peserta dihibur dengan gerak tari dan lagu daerah, musikalisasi puisi dan saling silang bunyi, yang seluruhnya dilakukan oleh peserta Persamuhan Nasional Pembakti Desa 2019. 

Malam semakin larut saat seluruh rangkaian acara berakhir. Kesan yang mendalam terpatri dalam relung hati. Persamuhan Nasional Pembakti Desa dengan pembudayaan nilai-nilai Pancasila jadi event yang tak terlupakan. 

Tak hanya tentang Pancasila, budaya lokal, tetapi juga kedekatan dan keakraban antar peserta. Seperti saya yang mendapat teman sekamar Beata Reyan, pembakti Desa dari Pulau Kei, kenal dan akrab dengan Jeppi dari Pembakti Desa Magelang, Tya dari Sumbawa, teman-teman satu FGD seperti Mas Rois, Kang Ilun Pujonkidul, Mbak Ana dari Jawa Timur, Mbak Santi dari Banten, dan Mbak Ira dari Muaragembong.

Juga teman-teman blogger yang selama ini kenal nama seperti Hanum dari Jakarta, Yudi Randa dari Aceh,  Bimo dan Kartika dari Sumatera Selatan, Atri dari Pekanbaru, Novia dari Ende, dan lainnya. Kalau dengan teman blogger lainnya seperti Rere, Ira, Mbak Terry, Kang MT, Bang Komar, Udarian dan Vika, sudah sering bertemu lah ya. Di beberapa event blogger tentunya.

Senang? Pastilah. Semakin bangga dengan kebhinekaan Indonesia yang tunggal Ika. Salam Pancasila! 

 

37 Comments

  1. Rico November 21, 2019
  2. Reh Atemalem November 11, 2019
  3. Athri Kasih November 11, 2019
  4. Dian Restu Agustina November 11, 2019
    • Sumarti November 11, 2019
  5. Ade UFi November 10, 2019
  6. Maulida Fitriani November 8, 2019
  7. Dzulkhulaifah November 6, 2019
  8. Liswanti November 6, 2019
  9. Caroline Adenan November 6, 2019
  10. Diah Agustina Wulandari November 6, 2019
  11. Larasati Neisia November 6, 2019
  12. Rachmanita November 6, 2019
  13. Sara Neyrhiza November 6, 2019
  14. Lidya November 6, 2019
  15. Utie adnu November 6, 2019
  16. sulis November 6, 2019
  17. Farida Pane November 5, 2019
  18. Farida Pane November 5, 2019
  19. Andiyani Achmad November 5, 2019
  20. vika November 5, 2019
  21. MT November 5, 2019
  22. Faridilla Ainun November 5, 2019
  23. Ety Abdoel November 5, 2019
    • Ety Abdoel November 5, 2019
    • Indah Julianti Sibarani November 5, 2019
  24. Uniek Kaswarganti November 5, 2019
    • Indah Julianti Sibarani November 5, 2019
  25. Mugniar November 5, 2019
    • Indah Julianti Sibarani November 5, 2019
  26. artha November 5, 2019
    • Indah Julianti Sibarani November 5, 2019
  27. Dedew November 5, 2019
    • Indah Julianti Sibarani November 5, 2019
  28. Ana Ike November 4, 2019
  29. nurulrahma November 4, 2019
  30. nia nastiti November 4, 2019

Leave a Reply