Eat, Pray, and Love

Dalam buku terbarunya Superhero Juga Manusia, pakar marketing sekaligus CEO dan Founder MarkPlus, Inc., Hermawan Kartajaya menuliskan suatu komunitas bertambah solid jika bisa memadukan aktivitas online dan offline. Sebuah komunitas online akan rapuh tanpa ada kopdar (kopi darat; pertemuan) yang teratur. Pertemuan-pertemuan offline itulah yang membuat hubungan antarmanusia di dalam komunitas semakin kuat. Komunikasi online akan makin mempererat lagi.

Superhero Juga Manusia

Lalu, komunitas apa yang akan menjadi penentu masa depan baik di Indonesia atau di mana pun? Hermawan Kartajaya percaya komunitas anak muda (youth), perempuan (women) dan netizen.

Kenapa youth? Menurut Hermawan, orang muda selalu berpikir akan masa depan (future), sedangkan senior selalu berpikr masa lalu (pas). Orang muda tidak punya beban masa lalu sehingga bebas melakukan apa pun yang mereka mau. Tidak takut salah karena memang tidak ada referensinya.

Kenapa perempuan? By nature, perempuan itu lebih memegang prinsip dalam perilaku sehari-hari. Laki-laki sering “menghalalkan” segala cara untuk mencapai tujuan. “Money, sex, and power” selalu melekat  pada lak-laki.  Sedangkan “Eat, Pray, and Love” selalu melekat di hati perempuan. Makan adalah pelarian ketika stress. Berdoa ketika sudah agak melar. Dan, mencari cinta yang sebenarnya bukan seks.

Selain itu, perempuan memang multi-tasking karena by nature memang bisa melahirkan anak. Jadi, setinggi apa pun kesuksesan seorang perempuan tidak akan kehilangan care-nya pada keluarga, terutama anak.

Era internet adalah era human spirit yang lebih memerlukan prinsip. Era internet juga era multi-tasking karena begitu banyaknya informasi yang ada. Dengan demikian, perempuan memiliki banyak peluang ketimbang laki-laki.  Dalam buku itu, Pak Hermawan juga menuliskan kalau ia bertaruh bahwa the best marketer di masa depan adalah yang muda, yang perempuan dan tidak gaptek.

Buat para perempuan, menarik ulasan Pak Hermawan itu. Di era digital ini, bukan suatu alasan lagi perempuan gaptek. Dengan smartphone yang bertaburan mulai dari harga murah sampai jutaan rupiah, rasanya disayangkan kalau perempuan tidak memanfaatkannya, misalnya dengan menulis di blog.

Berbagilah segala hal yang perempuan ketahui dan miliki lewat tulisan di blog, atau pun media sosial lainnya seperti Facebook atau Twitter. Namun karena keterbatasan karakter sosial media, saya sarankan menulislah di blog. Yang belum punya blog, buatlah blog. Gampang kok :)

Setelah punya blog, yuk mari bergabung bersama kami, Kumpulan Emak Blogger (KEB) , salah satu komunitas blogger yang membernya adalah perempuan yang suka menulis melalui blog. Bergabung di KEB, Insya Allah banyak dapat manfaat, minimal menambah jaringan/networking pertemanan, bukan berteman dengan blogger yang itu-itu saja. Member KEB tersebar di seluruh Indonesia dan juga luar negeri seperti Korea, Malaysia, Australia, Timur Tengah, Jepang.

Dengan bergabung di Kumpulan Emak Blogger, setidaknya news feed blog teman-teman berubah, lebih update, karena member KEB senang menulis dan nyaris tiap hari ada sekitar 100 member yang mempromosikan link postingan terbarunya untuk dibaca teman-teman.

Kumpulan Emak Blogger (KEB) memicu para blogger yang sudah jarang meng-update blognya, untuk kembali rajin menulis, rajin blogwalking, dan tentu saja menambah lingkaran pertemanan. Bukan kah sebagai blogger, atau mengaku blogger, setidaknya masih rajin menulis di blog apalagi kalau blognya sudah memakai domain/hostingan sendiri, sayang banget sudah bayar pakai kocek sendiri, tapi blognya menjadi sarang laba-laba, menjadi tak bertuan karena tak tersentuh pemiliknya :)

 

Why Blogging Is Important?

“Jadilah blogger yang High Tech, juga High TouchBlogger,  have a power for driven of the new Indonesia!”  Demikian dikatakan Begawan Marketing Indonesia, Hermawan Kartajaya dalam acara Seminar Pre-Event ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI) yang dilaksanakan di Gedung Carakaloka, Pusdiklat Kementerian Luar Negeri RI, beberapa waktu yang lalu.

Mengapa Pak Hermawan mengatakan demikian? Menurut beliau, blogger punya kekuatan menyampaikan perubahan dalam tulisan-tulisan yang mereka buat atau diposting di blognya. Tetapi tentu saja, tulisan-tulisan yang positif, inspiratif dan merupakan hasil karya sendiri, bukan copy paste atau mencontek tulisan orang lain.

Why Blogging Is Important?

Mengutip tulisan Neil Patel di Search Engine Journal, blog adalah konten publikasi, informasi, yang paling unggul dibandingkan dengan konten-konten lainnya, jejaring sosial atau social media (Twitter dan Facebook). “Like putting a human face on your brand, differentiating you from your competition and educating prospects and clients.”

“Blog itu ibarat suatu wajah, yang dihias dengan berbagai kosmetik dari merek apapun, selama make upnya cantik, maka tampilannya pun akan cantik yang membedakannya dari para pesaing, tetapi menarik untuk klien.”

Blog adalah dokumentasi yang abadi. Seberapa banyak status Facebook yang kita buat setiap harinya, hampir tiap menit kita berteriak, berkicau di ranah dunia maya lewat twitter, namun itu akan terhapus, tak bisa didokumentasikan, karena akan hilang seiring dengan status baru yang kita buat.

Jadikan blog sebagai alat promosi bidang atau pekerjaan yang Anda kuasai. Jika Anda ahli teknologi, suka gadget, buatlah tulisan-tulisan seputar gadget di blog Anda. Jika Anda penulis, jangan lupa mempromosikan buku terbaru Anda, ilmu menulis yang Anda ketahui di blog, sehingga pembaca blog akan mengenal siapa Anda. Dan siapa tahu ada agency atau PR sebuah brand, perusahaan, yang tertarik dengan tulisan di blog Anda.

Seperti yang dijelaskan dalam blogger.com, Nge-blog lebih dari sekadar mencurahkan pikiran di web. Nge-blog adalah tentang tersambung dengan dan mendengar dari setiap orang yang membaca karya Anda.

Tutorial Blog : Create A Blog

Mengapa blog itu penting?

Karena dengan blog, menulis di blog, kita akan punya teman baru,  jejaring baru, lingkungan baru, dan tentu saja informasi-informasi baru yang bisa kita dapatkan melalui komentar yang datang ke blog kita. Bisa dibilang, blog menjadi penggerak penggerak komunikasi era baru.

Meski banyak yang mengatakan blog sudah tidak menarik lagi, blog is not a sexy way, tapi setiap hari selalu ada blogger baru, citizen journalist baru, yang tulisan-tulisannya menarik dan mencerahkan.

Dan, ada perkembangan atau inovasi baru dalam dunia blogging. Misalnya, dengan adanya aplikasi menulis blog di smartphone Anda, baik berbasis android, iOs ataupun blackberry.

Tinggal meng-unggah atau mendownload aplikasi untuk menulis di blog seperti WordPress for android, iOS, dan Blackberry. Blogger.com for Android, iOS, dan lainnya. Yang membuat Anda bisa update menulis di blog, kapan saja dan di mana saja, bisa menulis tanpa kendala, kecuali kendala sinyal?

Masih mikir-mikir buat ngeblog? Berarti Anda tidak mau meninggalkan jejak berupa tulisan untuk anak, cucu dan cicit. Happy Blogging :)

Someday

20130322_080031

Suatu hari nanti, saya akan berkunjung ke tempat di mana foto di atas berasal!

Suatu hari nanti, saya akan menonton langsung Kabuki, yang terkenal itu!

Suatu hari, saya akan berfoto-foto narsis di antara rerimbunan bunga Sakura.

Suatu hari, saya ingin tahu tentang Musashi, Taiko, atau Moribito, cerita-cerita tentang samurai yang hanya saya baca dari buku.

cover-princess-hoshiko

Suatu hari, saya akan merasakan apa yang selama ini hanya saya torehkan dalam cerita, seperti cerita-cerita dalam Kumpulan Cerita: Princess Hoshiko yang saya dan Shinta Handini tulis.

Wait for me, Tokyo !

Thanks untuk De Retno, yang sudah mengobarkan semangat melalui paket yang dikirimkannya :)

Are You a Buzzer?

buzzer

Akhir-akhir ini saya, Mira Sahid, Sary Melati, Irma Senja, Lusiana dan beberapa teman lainnya, sering berdiskusi mengenai pekerjaan yang diterima melalui sosial media seperti blog post review dan ngebuzz melalui akun Facebook atau Twitter kita.

Dengan adanya sosial media, sepertinya banyak perusahaan mulai melirik blogger sebagai penyampai pesan yang signifikan. Para blogger ini kemungkinan dianggap sebagai influencer  yang bisa menyampaikan pesan hingga ke teman atau followersnya. Dan untuk di Twitter, penyampai pesan ini disebut sebagai buzzer. Dengan banyaknya job yang diterima membuat seseorang menjadi seleb twitt atau influencer dengan bayaran termahal.

Apa sih buzzer itu? Apa pengaruhnya?

Beberapa waktu lalu, @Wiwikwae, seorang social media strategist, yang sudah banyak pengalaman tentang perkembangan sosial media, memberikan pendapatnya mengenai buzzer ini.

Yuk, disimak, terutama buat yang ingin jadi buzzer atau influencer :)

Dalam kultwittnya, Wiwikwae mengatakan Buzzer adalah pekerjaan kreatif.  Tidak gampang membuat tweet yang direspon banyak orang. Maka, kreatiflah.

“Kelak, dengan perkembangan jaman, buzzer adalah pekerjaan yang menggiurkan dan tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. ”

Di Indonesia, buzzer adalah pekerjaan yang punya tantangan tersendiri, namun seperti yang dikatakan Wiwikwae sangat disayangkan sedikit buzzer yang benar-benar bekerja secara profesional. “Karena itu, cuma sedikit buzzer yang benar-benar layak dibayar mahal.”

Pekerjaan yang tidak profesional, terkait juga dengan kesalahan pihak pemberi kerja, yang tidak pernah memberitahu bagaimana hasil kinerja para buzzer, sehingga mereka tidak bisa memperbaiki diri dan bekerja tidak selaiknya bayaran yang mereka terima.

Mungkin karena masih menganggap buzzing itu sepele, maka buzzer dibentuk begitu saja tanpa pernah diberi edukasi.  Dan hanya yang punya etos kerja yang baik, bekerja dengan cara berbeda.

“Buzzer harus mulai belajar, bahwa jumlah follower bukan satu-satunya alasan dibayar mahal. Apalagi di era jual beli follower makin marak. “Dan, buzzer yang bisa menunjukkan kreativitasnya, layak menentukan honor yang pantas diterimanya. ”

Bagaimana mengetahui cara kerja buzzer? Dengan parameter seperti impresi, reach, jumlah RT, unique user yang terlibat, dan jumlah follower.

Bagi para buzzer, diharapkan jika tweet buzzing-nya tidak ada yang merespon, mengubah stategi tweet, misalnya dibuatkan semacam prolog, atau memancing follower dengan kalimat pembuka.

FYI, buzzer di luar negeri, untuk bisa terpilih jadi buzzer mereka harus mengeluarkan biaya sendiri guna membeli produk yang hendak di-buzz.

Untuk agency atau buzzer management, Wiwik memberi saran untuk berhati-hati mengelola bisnis kreatif ini. Jika menetapkan target dan KPI yang kaku malah bisa jadi bumerang. Dan, jangan tidak menetapkan target dan KPI buzzernya, jika ingin campaignya berhasil dan sukses.

Ingin sukses jadi buzzer? Pahami apa yang dimaksud Wiwikwae :)

 

Bahagia Bersama Kalian!

 

 

Kami berjanji, 10 tahun lagi akan mencapai cita-cita ini, bersama 37 teman baru kami!

janji-bantargebang

Bahagia itu tak pernah bisa diukur dengan harta benda, ataupun dengan ribuan kata yang dituliskan oleh pujangga, sastrawan.

Bahagia itu sederhana! Sesederhana yang ditunjukkan lewat sikap, perbuatan atau tindakan. Sesederhana pikiran anak-anak pemulung di Bantargebang, Bekasi, yang saya dan Wylvera Windayana, teman penulis, datangi kemarin (Kamis, 7 Maret 2013).

Ini kunjungan saya untuk yang kedua kalinya. Akhir bulan Januari lalu, saya untuk pertama kali berkunjung ke Yayasan Ummu Amanah, PKBM Al Falah, Bantar Gebang, yang merupakan sekolah terbuka untuk anak pemulung di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang. Saya dan Wiwik, berbagi cerita tentang menulis dan mengarang cerita untuk mereka. 

Di kunjungan kedua ini, hati saya tersentak, haru, dan nyaris menitikkan airmata. Saat melihat kedatangan saya dan Wiwik, beberapa orang anak berlari-lari menyambut kedatangan kami, lalu mencium tangan kami, satu persatu.

“Bu, saya sudah buat PR!” seru seorang anak perempuan berjilbab.

“Saya juga, Bu. Sudah dikumpulkan ke Pak Khoeruddin,” kata anak perempuan yang lainnya.

Aroma menyengat sampah pun hilang seiring dengan semangat menggebu dari mereka, anak-anak tercinta. Ah, betapa bahagianya kami, nak, bisa kembali bertemu dengan kalian.

Kami melangkah masuk ke ruang Kepala Sekolah PKBM Al Falah, Pak Khoeruddin, untuk berbincang-bincang sejenak, dan kelas untuk pelatihan menulis dipersiapkan.

Bantargebangrev2

Tak lama seorang bu guru mempersilakan kami untuk masuk kelas dan memulai pelatihan. Satu persatu murid PKBM Al Falah yang terdiri dari siswa kelas IV, V dan VI, masuk ke kelas. Tidak seperti pertemuan pertama, yang mencapai 30 murid, di pertemuan kedua ini, murid yang hadir sebanyak 24 orang. Tapi kami tetap senang, melihat antusias anak-anak tersebut.

Wajah-wajah yang haus ilmu terekam jelas dalam mata saya. Mereka memandang kagum kepada saya dan Wiwik, mungkin tak menyangka kalau kami akan datang lagi untuk mengajar mereka. Seperti yang sudah-sudah dan menjadi hal yang biasa, kalau ada pihak lain yang ingin berbagi ilmu, hanya sekali datang dan tak pernah kembali lagi.

Kami lalu memulai pelatihan mengarang dengan menanyakan PR yang kami berikan apa sudah dikerjakan. Apa ada yang kesulitan mengerjakannya. Semuanya serentak menjawab sudah mengerjakan. Lalu dengan malu-malu mengatakan kalau ada yang asal menulis karena tidak tahu mau menulis apa.

Jangan berharap ada infokus, tayangan powerpoint dalam pelatihan ini. Semua materi penulisan kami yang diberikan kami tulis di papan tulis.

Jangan berharap mereka menulis materi tersebut di netbook atau laptop. Mereka menulis di buku tulis dengan pensil dan pulpen sederhana.

Namun pertanyaan-pertanyaan mereka tak kalah dengan anak-anak lainnya, yang bisa menikmati hidup dengan layak. Bahkan, pertanyaan dan pernyataan mereka yang teramat polos itu membuat perasaan kami haru dan tercabik-cabik.

“Apa saya bisa mengarang cerita, Bu. Kan saya sekolahnya enggak tinggi?”

“Bu, saya nulisnya cuma sedikit, harus bantuin mama dan bapak.”

bantargebangrev3

Berbeda dengan sekolah umum lainnya, PKBM Al Falah, sebagian besar murid masuk sekolah dalam usia yang sudah lebih dari cukup untuk bersekolah. Ada yang usia 11 tahun duduk di bangku kelas IV, 13 tahun di kelas V, bahkan ada seorang siswa yang telah berusia 20 tahun masih bersekolah di kelas VI SD. Siswa ini termasuk siswa yang mendapat perhatian penuh dari guru-guru di Al Falah, karena meski belum lancar membaca dan menulis, namun setiap hari selalu hadir di sekolah untuk belajar.

Tidak semua siswa Al Falah bisa menikmati pelajaran dengan mudah. Ada yang belum lancar membaca, ada yang belum lancar menulis. Juga ada yang menulis dan membaca dengan terpatah-patah. Yang menarik, sebagian besar anak menulis di buku dengan miring, posisi 90 derajat, tidak seperti biasa kalau kita menulis.

Bagi anak-anak di Al Falah, keterbatasan tak menghalangi mereka untuk menimba ilmu. Saat kami melatih mereka untuk merangkaikan kata-kata yang telah ditulis di papan tulis menjadi satu cerita, mereka dengan bersemangat mengerjakannya dan berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama selesai.

Jika ada yang tidak lancar menulis, kami mempersilakan mereka untuk menggambar sesuai dengan kata-kata yang kami berikan sebagai panduannya menggambar.  Buat yang lancar menulis dan membaca, kami meminta mereka untuk menulis sepanjang satu halaman buku.

Hampir 20 menit mengerjakan tulisannya, anak-anak itu pun selesai juga. Kami lalu mempersilakan siapa yang berani maju ke depan untuk membacakan karyanya, namun disambut dengan malu-malu, hingga harus kami tunjuk dan sedikit “memaksa” mereka untuk berani tampil ke depan untuk membacanya karyanya di hadapan teman-teman mereka.

Yang namanya anak-anak, tetaplah anak-anak. Saat mendengar karya teman-teman, riuh rendah komentar pun berhamburan. Namun, salut dan bangga, tak ada ejekan dalam komentar-komentar itu.

Saya dan Wiwik merasa terharu karena ternyata karya-karya mereka bagus-bagus. Bahkan ada dua anak yaitu Eka Aulia dan Ulfi, yang menulis dengan rapi, bagus dan indah, yang berhasil membuat kami ingin menangis saat membaca tulisan mereka.

Bantargebang-tulisan

Setelah semua membacakan hasil karya mereka, kami pun memilih tiga terbaik. Dan, kebetulan ketiga terbaik itu adalah anak-anak yang istimewa di kelas mereka masing-masing dan selalu bersemangat mengikuti pelatihan menulis yang sudah dua kali diadakan.

Mengajar menulis dan mengarang cerita untuk anak-anak pemulung yang berada di Bantar Gebang memang berbeda dengan pelatihan menulis untuk anak-anak yang orangtuanya lebih mampu dibandingkan anak-anak pemulung itu. Jika anak-anak lainnya, mungkin pelatihan menulis selama 2 jam akan terasa kurang, tapi bagi siswa Al Falah, cukup satu jam saja, namun penuh ilmu dan bermanfaat untuk mereka berlatih lagi di rumah.

Sekitar pukul 11.10 WIB, kami mengakhiri pelajaran dengan tak lupa memberikan lagi PR mengarang cerita kepada siswa siswi Al Falah dengan memberikan 10 kata untuk dirangkai menjadi cerita.

Belum selesai kami berbicara, anak-anak sudah bertanya apakah kami akan kembali lagi di bulan depan?

Tentu saja! Kami merasa berkewajiban untuk datang kembali ke PKBM Al Falah, berbagi cerita, berbagi ilmu, agar mereka punya semangat untuk terus menimba ilmu, meraih cita-cita seperti yang mereka tuliskan.

Apalagi kami merasa, kami tidak hanya memberikan pelajaran kepada mereka, tetapi anak-anak itu pun telah memberikan kami banyak pelajaran tentang hidup. Pelajaran menghargai hidup, meraih kesempatan dan cita-cita, juga indahnya berbagi.

Kami pulang dengan rasa bahagia memenuhi ruang jiwa. Saya dan Wiwik berjanji untuk meluangkan waktu di bulan April, untuk kembali ke tempat anak-anak tercinta itu, tentunya dengan materi yang berbeda, agar suatu saat impian mereka untuk punya karya dalam tulisan tercapai. Insya Allah, aamiin.

bantargebangrev4

 

Menulis Cerita Tentang Cinta

Beberapa waktu yang lalu, sebelum akhir tahun 2012, ada penerbit-penerbit besar (mayor) yang menyelenggarakan kompetisi menulis novel romansa/roman/romance. Dan, di tahun 2013 ini, ada penerbit mayor yang juga sedang menyelenggarakan kompetisi menulis novel, yaitu Bukune.   Saat ini, genre novel roman atau romance yang ditujukan untuk pembaca dewasa, sedang menjadi trend.

Mengapa novel romance?

Novel romance adalah genre yang menitikberatkan pada hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan.

Mungkin bisa ditarik kesimpulan dari penjelasan blog Penerbit Gradien, novel roman adalah novel populer yang diinginkan pembaca, terutama pembaca wanita yang menjadi pembeli buku nomor satu.

Yang menarik adalah ulasan Kang Pepih Nugraha, jurnalis Harian Kompas, dalam Page-nya Nulis bareng Pepih, yang membahas tentang BUKAN CINTA BIASA.

Dituliskan, bagi para penulis pemula, menulis cerita tentang cintah adalah yang termudah. Sebab, hal-hal yang kita alami dan kita rasakan paling mudah dituangkan ke dalam sebuah cerita. Jatuh cinta, putus cinta, dan lain-lainnya.

Tetapi, cerita cinta bagaimana yang sebaiknya ditulis sehingga meninggalkan jejak kesan mendalam bagi para pembacanya?

Menurut Kang Pepih, cerita cinta bukanlah melulu putus-sambung hubungan antara pria-wanita atau bahkan hubungan sejenis. Lebih dari itu, cinta haruslah punya misi dan tema: keberanian, pengorbanan, ketulusan, pengkhianatan, dan seterusnya.

Cinta bukan melulu soal perasaan pengarang semata yang kemudian ditumpahkan ke dalam cerita. Cinta juga memerlukan riset dan penggalian referensi yang dalam tentangnya.

Background of candy hearts

Kang Pepih memberikan patokan dari buku kecil karya Erich Fromm berjudul “The Art of Loving” yang sedemikian mencerahkan dan membuka pikirannya, bahwa persoalan cinta bukanlah semudah yang dibayangkan.

“Cinta adalah sebuah seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan, bukan semata-mata sebentuk perasaan menyenangkan yang dialami secara kebetulan, sesuatu yang membuat kita tercebur ke dalamnya jika kita sedang beruntung,” kata Fromm.

Dengan memahami uraian cinta dari Fromm, akan mampu membangun karakter yang terkait relasi yang tidak semata-mata seksual, melainkan relasi yang “lebih agung” dari itu.

“Jika pada masa lalu karakter pria yang menjadi idola kaum wanita adalah yang agresif, atraktif dan ambisius, misalnya, boleh jadi sekarang ini pria yang berwatak sosial, religius dan toleran yang bakal dijadikan model ideal. Itu contoh kecil saja dari relasi sosial terkait cinta yang dibahas Fromm. Sebaliknya, kita bisa membangun karakter perempuan ideal masa lalu yang berbeda dengan masa kini,” tulis Kang Pepih di page Nulis bareng Pepih.

Bagi Fromm, cinta adalah jawaban atas problem eksistensi manusia, yang tidak sekadar relasi pria-wanita yang menjadi satu dan dipersatukan karenanya, tetapi kita menjadi paham mengenai relasi cinta orangtua terhadap anak-anaknya yang tidaks elalu berjalan mulis, cinta persaudaraan yang penuh tantangan serta halangan, cinta keibuan, cinta diri, cinta tuhan, dan bahkan cinta erotik yang sering dianggap tabu.

Buat yang ingin menulis cerita tentang cinta, setidaknya bisa belajar dari ulasan Kang Pepih itu, setidaknya bisa menjadi bahan buat kita untuk membuat outline novel romantis perdana kita. Suka cinta-cintaan? Suka menggalau, mari menulis romantis!

Mari Menulis Buruk by Clara Ng

writing

Judul di atas bukan salah ketik atau salah cetak. Clara Ng bersungguh-sunggu ketika mengetikkan judulnya.

Mengapa Clara Ng mengajarkan orang agar menulis buruk? Apa maksudnya?

Penjelasannya saya dapatkan ketika mengikuti Workshop Penulisan Bersama Clara Ng yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Februari 203 bertempat di  Kompas Gramedia Fair (KGF) Jakarta 2013.

Berikut saya kutipkan penjelasan Clara Ng tentang Menulis Buruk:

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan berkarya, atau malah tidak berhasil menulis satu kalimat pun (writer’s block, bahasa kerennya).  Ada sesuatu yang mengganjal seorang kreator dalam berkarya. Entah mengalami gagal ide, atau gagal waktu (tidak punya waktu menulis, atau tidak punya gairah menulis), atau gagal menuliskannya.

Berbagai jenis gagal ini sudah dihadapi Clara Ng selama ia bekerja sebagai penulis. Dan, solusi yang paling tokcer dilakukannya adalah justru tidak berhenti menulis. Clara Ng malah menulis sebanyak-banyaknya di saat ia mengalami kegagalan.

Clara Ng memberikan nasihat bagi seorang yang ingin menulis adalah : “Menulislah sebagaimana kamu berbicara”.

Saat menulis, mungkin kita sering mengalami kesalahan, tetapi ketika berbicara, seberapa seringkah kita semua berbicara salah, ngawur? Berbicara tanpa juntrungan? Berbicara berandai-andai ke sana kemari? Dan, bukankah dari berbicara tanpa ujung pangkal yang biasa kita lakukan dengan sahabat-sahabat, berakhir dengan rasa senang?

Menurut Clara Ng, menulislah sebanyak-banyaknya akan membawa kita ke tulisan-tulisan ngawur, tapi dari sana, kita akan menemukan berbagai kemungkinan dan opsi cerita yang baru.

“Lebih baik menulis dan menghasilkan naskah yang tidak utuh dan kacau daripada menciptakan kertas utuh yang kosong melompong, tanpa kata!”

clara ng

Segala sesuatu yang buruk atau jelek atau kacau selalu ada kemungkinan untuk diperbaiki, dibuat cantik, dihaluskan. Tapi kertas yang kosong bagi seorang penulis adalah momok yang paling menakutkan. Momok itu akan tetap ada di sana, membuat kita terus menerus mandek, dan tidak berhasil menulis apa-apa. Dari kosong menjadi bengong, dari bengong tetap kosong. Lingkarang bengong dan kosong akan terus menerus berputar-putar, harus ada kekuatan gunting yang memutuskan mata rantai kejahatan itu.

Menulis buruk juga membuatmu melepaskan beban untuk menulis dengan sangat indah dan tekanan menjadi penulis yang sukses. Itu akan membuatmu terhindar dari berbagai pikiran yang malah menyumbat benak untuk semakin berkreasi. Menulis harus lepas dan bebas. Merdeka dan santai.

Tulisan baus selalu diawali dengan tumpukan tulisan-tulisan buruk. Coba diintip laptopnya, apakah ada karya-karya setengah jadi atau tulisan-tulisan buruk lainnya? Jangan berkecil hati! Teruslah menulis dan berupaya. Lebih baik memiliki banyak draft yang berisi tulisan kacau balau daripada layar monitor yang kosong melompong!

Andrea Hirata : Keajaiban Menulis Novel

Di Galeri Nasional, Jakarta

Wawancara ini dilakukan pada tahun 2005, saat saya masih bekerja di Indosiar, dan sempat terdokumentasikan di web indosiar.com.

Sengaja saya tulis ulang di blog ini, untuk menjadi pemicu semangat menulis buat siapa pun yang membaca blog ini. Oh ya, pasti pada bertanya kok saya bisa mewawancara seorang tokoh fenomenal sastra Indonesia sekaliber Andrea Hirata, sebenarnya kalau tahu sejarah perkenalan saya dengan Andrea, ya tidak akan heran :)

Saya mengenal Andrea Hirata di tahun 2003 dari teman sekantor saya, Ki Agus Wahyudi, yang kebetulan adalah saudara sepupu Andrea Hirata. Saya mengenal Andrea yang saat itu masih berkuliah di Inggris dan kuliah sebentar di Universitas Sorbonne, Perancis. Saya berkenalan dengannya karena ingin dapat info beasiswa di luar negeri. Saat kembali ke Indonesia, Yudi, saudara sepupu Andrea mempertemukan saya dengannya, dan sejak itu pertemanan kami pun terjalin tidak hanya di dunia maya. Oh ya, kalau baca buku Laskar Pelangi, ada endorse di buku atas nama indosiar.com, nah itu tulisan saya :)

Terlepas dari banyaknya kontroversi mengenai Andrea Hirata sekarang ini, yang banyak beredar di media mainstream, saya ingin semangat menulis Andrea Hirata bisa menjadi pemicu untuk menulis bagus dan yakin, jika Tuhan sudah berkehendak, siapapun itu bisa menjadi seperti Andrea Hirata!

Yuk, ah dibaca hasil wawancara 7 tahun lalu ini :)

————————————

Tak pernah ada dalam pikirannya, namanya sekarang menjadi pembicaraan orang terutama dari komunitas buku. Dua bulan yang lalu, ia hanyalah seorang pegawai yang berkutat dengan analisis keuangan di PT Telkom, Bandung, yang saat Aceh dilanda tsunami, tergerak hatinya untuk menjadi seorang relawan.

“Saya juga heran kenapa novel yang saya tulis dalam waktu 3 minggu itu, bisa menjadi pembicaraan orang banyak. Menulis merupakan dunia baru bagi saya yang tak pernah terbayangkan sebelumnya,” ucap Andrea Hirata, penulis Novel Laskar Pelangi, yang dalam waktu 5 minggu terjual habis dan sekarang sedang menjalani cetak kedua.

Sarjana lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan S2 dari Sheffield Hallam University, Inggris, mengaku sudah lama ingin menulis Laskar Pelangi, namun tidak pernah terwujud hingga suatu saat kejadian tsunami di Aceh membawanya menjadi relawan dan hatinya tersentuh melihat banyak sekolah yang hancur.

Terinspirasi sebuah kisah nyata, ia pun mulai menulis novel yang bercerita tentang pengabdian dua orang guru (Pak Harfan dan Ibu Muslimah) dan sebelas anak miskin, yang berjuang untuk bersekolah meski sekolahnya, SD Muhammadiyah Pulau Belitung (SD yang paling tua di Belitung, yang miskin dan papa), terancam ditutup oleh pemerintah daerah.

Belitung sendiri meski terkenal sebagai Pulau Timah, namun tak dapat dinikmati oleh penduduk aslinya. Belitung adalah kabupaten kepulauan yang dikelilingi hampir 200 pulau besar dan kecil. Sejak akhir tahun 2000, kabupaten berpenduduk lebih dari 2 ratus ribu jiwa ini menjadi bagian dari propinsi Bangka Belitung. Beragam etnis hidup berdampingan di kawasan yang memiliki panorama indah ini.

Mengaku tidak memiliki latar belakang sastra, namun sebagaimana ciri khas orang Melayu, Andrea terbiasa mendengarkan cerita dari para orang-orang tua di kampungnya yang bercerita tentang sejarah dan cerita-cerita klasik Melayu Belitung. Sehingga tak heran, dalam menulis Laskar Pelangi, Andrea memiliki gaya penuturan yang kuat, filmis dan cerdas.

Ketika membaca Laskar Pelangi, Anda seakan menemukan Gabriel Garcia Marquez ketika ia bercerita tentang seorang dukun buaya bernama Bodenga, menemukan Nikolai Gogol ketika menuliskan karakter para anggota Laskar Pelangi dan ironi kehidupan penduduk asli Belitung. Atau seperti Alan Lightman saat menceritakan pertikaian ilmiah yang mempertentangkan teori fisika optik antara kawan sebangkunya Lintang yang jenius dengan seorang guru fisika.

“Saat menulis novel ini, yang terpatri di otak saya adalah mengeluarkan semua yang ada dalam pikiran saya. Sebagai tempat curahan hati, saya pun menulis. Ternyata menulis itu mengasyikan dan membuat kita lupa waktu. Akhirnya, seperti sudah menjadi ritual, seusai pulang kantor, saya langsung menulis. Saat menulis saya tak mau tahu apakah tulisan saya itu bagus atau jelek, apakah tulisan saya itu sesuai dengan komposisi, yang penting adalah tulis, tulis dan tulis !,” papar pria yang dari Sheffield Hallam University dengan predikat graduate with distinction.

Sebenarnya, dengan membaca Laskar Pelangi, kita bisa mengetahui seperti apa masa kecil Andrea Hirata. Karena lewat tokoh si Ikal, Andrea hadir dalam novel tersebut.

“Novel ini merupakan memoar tentang masa kecil saya, yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang. Karena itulah saya sangat berterima kasih dapat bersekolah di sekolah miskin dan memperoleh persahabatan yang indah dari teman-teman saya. Tak lupa, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua guru saya, yang tak pernah mengharapkan rasa terima kasih kecuali melihat siswanya menjadi orang yang berberhasil”, jelas Andrea yang memberikan royalti novelnya kepada perpustakaan sekolah miskin.

Novel ini sendiri direncanakan oleh Andrea merupakan trilogi. Karena itulah, ditengah kesibukannya menjadi pegawai negeri dan pembicara dalam diskusi mengenai Laskar Pelangi, ia terus menulis novel kedua dan ketiganya. Novel keduanya diberinya judul Edensor, yang merupakan kelanjutan dari masa-masa perjuangan Andrea bersama teman-temannya yang termarginalkan. Sedangkan buku ketiga, tentang patriarki dalam budaya orang Melayu.

Keinginan lain Andrea atas novelnya adalah dibuatkan menjadi film.

“Agar misinya tersampaikan. Jika ada yang mau membuat filmnya saya kasih gratis, tentunya dengan ada syarat bahwa pengambilan shooting harus dilakukan di Belitung sendiri, sesuai dengan novelnya. Saat ini memang sudah ada yang menawarnya untuk dijadikan film televisi, namun tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka, saya lebih berkeinginan novel ini menjadi film layar lebar”, ucapnya sambil tersenyum.

laskarpelangi-movie

Ditengah euforia novel bertema chiklit, teenlit, dan metropop, kehadiran Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya memang bagaikan oase ditanah kering. Ironi dan liku-liku hidup kedua guru dan kesebelas anak-anak, yang dijuluki ibu gurunya sebagai para “laskar pelangi”, sungguh menggetarkan. Kesulitan yang mereka alami serta bagaimana beberapa dari mereka, antara lain Andrea sendiri, akhirnya dapat keluar dari kesulitan tersebut memberi benang merah pada novel ini sebagai sebuah bacaan yang sangat inspiratif dan mampu memberi kekuatan.(Indah Julianti Sibarani)

http://news.indosiar.com, Senin 12 Desember 2005.

Belajar Membuat Blog di KEB

emakblogger

Sudah pada tahu kan Kumpulan Emak Blogger (KEB) ?

Kalau belum tahu silakan berkunjung ke http://emak2blogger.web.id/tentang-kami/ ada penjelasan, tapi saya kasih bocoran, KEB itu adalah komunitas blogger perempuan Indonesia. Anggotanya terdiri dari ratusan blogger perempuan dari berbagai komunitas blogger Indonesia, baik yang berdomisili di dalam maupun di luar negeri.

Setelah setahun usianya, KEB akhirnya berani membuka #KelasOnlineKEB dengan Kelas Perdana yaitu Kelas Pengetahuan Dasar Blogging dengan mentor Eka Putri dan Shinta Ries. Masa belajar selama sebulan, dibagi 2 kali pertemuan setiap minggunya yaitu hari Kamis dan Minggu, setiap pukul 19 sampai pukul 21.00

#KelasOnlineKEB ini merupakan ajang sharing/berbagi dari member KEB untuk member KEB. Tidak dipungut biaya apapun, diberikan secara gratis, karena sesuai dengan motto KEB: Inspirasi Perempuan, Kami Ada untuk Berbagi.

Pada kelas perdana, Kamis, 7 Februari 2013, Mak Eka Putri atau @upiakmayya membuka kelas dengan materi:

  • Apakah Blog Itu? Blog merupakan singkatan dari ‘weblog’, yang merupakan istilah yang digunakan bagi situs yang menjaga informasinya terus diperbaharui.
  • Blog memiliki beberapa hal umum, seperti Konten utama (Main Content Area), Arsip (Archive of Older Articles), Komentar (Comments), Daftar Link (Blogroll), Feeds (link yang memberikan update blog secara otomatis seperti RSS, Atom atau Feedburner).
  • Konten Blog, atau isi blog atau artikel blog. Merupakan hal utama dalam blog, karena berisi tulisan-tulisan penulis blog yang biasa disebut “posts” atau “entries”.
  • Komentar Blog, salah satu fitur yang membuat blog menjadi interaktif. Hampir semua blog mempunyai fitur ini. Salah satu cara seorang penulis blog meninggalkan komentar tanpa mengunjungi blog tersebut adalah melalui “pingbacks” atau “trackbacks”. Fungsinya yaitu menginformasikan blogger lain ketika mereka mengutip sebuah artikel yang mereka “pingbacks/trackbacks” menjadi artikel mereka sendiri.
  • Sidebar Blog: Feed Blog, Mailing List Blog, Pencarian/Search Bar, Artikel-artikel Terakhir (Most Recent Posts), Artikel-artikel Terpopuler (Most Popular Posts), Kategori Komentar-komentar Terbaru (Most Recent Comments),
    Tombol Profil Sosial Media seperti Facebook Like atau Facebook Badge, dan Iklan.
  • Platform Blogging: sebuah program yang kita gunakan untuk memperbaharui blog kita. Dua platform yang paling umum adalah WordPress dan Blogger. Keduanya memiliki versi dan hosting gratis sehingga kita bisa memulai blog tanpa membayar. Namun alamat blog akan memiliki format : namablog.wordpress.com atau namablog.blogspot.com. Beberapa platform yang lain adalah : Movable Type (self-hosted), Drupal (self-hosted)
    Wordpress.org (self-hosted), TypePad (hosting provided), Tumblr (hosting provided).
    Self-hosted artinya anda memiliki hosting (rumah) bagi blog anda dan anda membayar untuk hosting tersebut. Hosting Provided artinya hosting (rumah) bagi blog anda telah disediakan oleh platform, dalam artian Anda dapat memakainya secara gratis dalam ukuran tertentu.

Sementara itu, pada kelas kedua, hari Minggu, 9 Februari 2013, giliran Shinta Ries yang menjadi mentor untuk #KelasOnlineKEB Pengetahuan Dasar Blogging.  Shinta Ries, yang sekilas pengamatan, pengetahuannya mengenai coding blog bisa dibilang mumpuni, memberikan materi yang juga keren, dan membuat semangat belajar para emak semakin menggebu-gebu. Materi yang diberikan Shinta Ries, antara lain :

  •  Mengenal Bagian Blog, seperti Header (bagian atas blog, yang berisi judul blog dan deskripsi), Navigation Bar (di bawah atau di atas header, yang berisi menu dari sebuah blog), Post Body
    Bagian utama dari blog yang terdiri dari Post Title (Judul posting), Date Header (tanggal posting), Writer Info (informasi penulis), Comment (komentar) dan pembagian social media (social media sharing). Bagian ini biasanya dipercantik dengan post title icon (logo judul post), signature (tanda tangan), dan post divider (pembatas posting), Sidebar (Kolom informasi yang berisi widget seperti arsip, posting terbaru dan lain-lain), Footer (diisi dengan copyright atau hak cipta dari pemilik blog dan beberapa informasi seperti pembuat template), Background (latar belakang dari halaman utama).
  • Dasar-dasar Design Blog, Tinggi header,  Lebar header, Ukuran font, Daerah posting utama, Jenis font, Judul posting, Color palette

Dan masih banyak lagi. Ingin ikutan belajar di #KelasOnlineKEB ? Silakan bergabung dengan kami di Facebook Group Kumpulan Emak Blogger (KEB)

Atau lihat tata cara bergabung di http://emak2blogger.web.id/

Ditunggu ya :)

Ada Ide? Ngeblog Dong!

Berawal dari twittnya Pak @Nukman :

nukman

Saya lalu membaca artikel terkait dari bit.ly tersebut (HBR Blog Network) yang berjudul:  If You’re Serious About Ideas, Get Serious About Blogging!

Dituliskan:

These days, Pinterest and Instagram get all the headlines as companies desperately racing to establish a beachhead on what could be the next mega-platform. But that doesn’t mean they’re the most useful social media tools for all companies. 

Alinea lain:

If you want to shape public opinion, you need to be the one creating the narrative. And blogging’s ability to impact mainstream discourse has never been greater. Fewer people would see the web content, and (pre-Google) it would evaporate into the ether; it wasn’t solid like an actual paper on someone’s doorstep. Now the hierarchy has been reversed; an article lives forever on the web and will be seen around the world.

Dorie Clark, si penulis juga menyatakan bahwa beberapa tahun terakhir, jumlah blog melonjak. Sebutkan saja pada akhir tahun 2011, ada 181 juta. Namun sayangnya, pada tahun 2010 tingkat blogging menurun di kalangan remaja dan dewasa muda, yang lebih asyik menghabiskan waktu mereka di jejaring sosial.

Padahal, menulis di blog itu lebih “menggertak” dan “berpengaruh” dari mengirimkan twitt sebanyak 140 karakter atau foto-foto yang dimunculkan, apalagi jika blogger rutin menulis 700 kata di blog  selama beberapa kali dalam seminggu.

Banyak yang sudah membuktikan bahwa menulis itu tidak memerlukan bakat, tetapi keseriusan dan rutinitas. Menulislah setiap hari, demikian katanya.

Menurut sastrawan Indonesia yang terkenal, Pramoedya Ananta Toer, manusia boleh pintar setinggi langit, tapi jika ia tidak bisa menulis, maka ia akan hilang dari sejarah.!

Setuju kan?! Dengan menulis kita akan meninggalkan jejak untuk dikenang, dikenal, dan akan ada selamanya (jika internet masih ada ya:D)

bloggingpin